The Princess Story

The Princess Story
Ep 217. Membara


__ADS_3

"Blush"


Wajah Se Se seketika memerah.


Mereka saling menatap lama sebelum memulai ciuman yang bergairah. Perlahan tangan Raja Wei meraba raba mencari sesuatu yang nikmat untuk dilahap.


"Jangan nakal!" ucap Se Se sambil memukul pelan tangan Raja Wei yang berusaha menjamah buah persiknya di balik pakaian sutra.


"Aku sudah lama menahannya, tidak bisakah kita lakukan ini sekarang?" ucap Raja Wei dengan suara nafas yang memburu.


"Matahari masih sangat terang, bukankah ini saatnya anda bekerja?" jawab Se Se.


Raja Wei tidak mendengar ucapan dari Se Se lagi, dia hanya sibuk mengecup leher dan pundak istrinya sambil mencoba menurunkan kain yang membalut tubuh mulus itu.


"Xuan, hentikan! Ahh..." ucap Se Se sambil merintih saat jari Raja Wei menyentuh ujung buah persiknya.


"Aku akan melakukannya dengan cepat!" bisik Raja Wei.


Se Se menahan pakaiannya yang hampir jatuh setelah selesai di aduk oleh jemari Raja Wei, "Ja... Jangan disini!" ucap Se Se menahan malu.


Wajah para pelayan ikut memerah, mereka berdiri di depan pintu ruang kerja Raja Wei sehingga mereka mendengar dengan sangat jelas apa yang sedang dilakukan pasangan suami istri tersebut di dalam sana.


"Brakkk!"


Pintu terbuka, Raja Wei menggendong Se Se dengan ala princessnya. Dengan langkah besar, dia segera berlari menuju arah kamar.


Raja Wei menurunkan Se Se di tepi ranjang, dengan agresif dia mencium bibir kecil istrinya. Tangan yang cekatan dalam waktu cepat telah berhasil melepas pakaian sutra Se Se yang berwarna merah muda.


*****


Kediaman Long Au Ping


Seorang pria paruh baya dengan pakaian mewah berwarna biru tua sedang duduk di sebuah aula besar. Pria itu memakai banyak perhiasan dari kepala hingga ke ujung kaki. Salah satu telinganya terpaaang anting besar yang terbuat dari emas kuning.


Gelang berhias batu permata di sematkan beberapa buah di pergelangan tangannya. Kalung berwarna warni terpasang di leher dan ikat pinggang yang terbuat dari kulit buaya terlilit di perutnya yang buncit.


Seorang pria muda lainnya masuk ke aula sambil menarik rambut seorang gadis muda. Gadis muda itu menangis ketakutan sambil memegang rambutnya yang di tarik oleh ajudan kurus berwajah bengis.

__ADS_1


"Bang!!!"


Ajudan itu membanting tubuh gadis muda ke lantai di depan kursi pria dengan perut besar yang terlihat seperti tempat perhiasan.


"Tuan besar, gadis ini dijual oleh ayahnya yang tidak sanggup melunasi utang. Saya akan meninggalkan gadis ini untuk di latih di sini sebelum dia memulai pekerjaannya." ucap ajudan muda.


Sementara pria yang di sebut Tuan besar itu sibuk memandangi wajah dan tubuh gadis muda, ajudan tersenyum licik.


"Pria gendut ini pasti sangat suka dengan wajahnya yang cantik, apalagi gadis ini belum pernah di jamah oleh pria lain. Aku akan mengambil hatinya dengan para gadis muda, bisnis ini akan lancar jika ada pria brengsek ini yang mendukung dari belakang." batin ajudan.


Si pria buncit berdiri, dia mengulurkan tangan untuk membantu gadis itu berdiri.


"Siapa namamu?" tanya si pria buncit.


"Na.. Nama saya..." ucap gadis terbata bata.


"Jangan takut, aku akan membantu mu untuk melunasi hutang ayahmu." ucap si pria buncit sambil mencoba menarik tangan gadis.


"Saya Cu Ye Lie." ucap si gadis.


Cu Ye Lie merasa jijik dengan tatapan dari si pria gendut yang di panggil Tuan besar oleh ajudan namun dia terlalu takut untuk menunjukkan rasa jijiknya.


"Tu... Tuan besar, tolong lepaskan saya!" pinta Cu Ye Lie sambil mencoba melepaskan pelukan si pria buncit.


"Panggil aku Au Ping, bukan Tuan besar!" perintah si pria buncit yang bernama lengkap Long Au Ping.


"Saya tidak berani memanggil Tuan besar dengan sebutan nama." jawab Cu Ye Lie.


"Kalau begitu, kau... Jangan minta untuk di lepaskan!" ucap Long Au Ping si buncit sambil menatap liar tubuh Cu Ye Lie.


Cu Ye Lie yang menyadari bahaya dari tatapan Long Au Ping segera mendorong tubuh pria itu hingga dirinya mundur beberapa langkah.


"Plakkk!"


Long Au Ping yang murka dengan refleks menampar wajah Cu Ye Lie.


"Kau itu hanya barang dagangan! Jangan bertindak kurang ajar dan patuhi perintah dari pemilikmu!" ucap Long Au Ping dengan suara lantang.

__ADS_1


Cu Ye Lie memegangi pipi kanannya yang terasa perih dan panas. Dia menundukkan wajah dan pandangannya, ketakutan dengan situasi ini membuat tubuhnya gemetar.


"Kau, bersihkan wanita itu dan bawa dia ke kamarku!" perintah Long Au Ping ke salah satu pelayan.


"Baik Tuan besar." jawab pelayan yang berjalan dengan cepat ke arah Cu Ye Lie.


Cu Ye Lie di tarik oleh 2 pelayan ke ruangan yang berisi bak air untuk membersihkan dirinya. Salah satu pelayan mendorong Cu Ye Lie ke dalam bak air. Pelayan yang satunya lagi segera menyiram air ke kepala Cu Ye Lie.


"Malang sekali nasib wanita cantik ini." batin pelayan yang menyiram air.


"Saya anjurkan kepada nona agar menuruti keinginan dari Tuan Besar. Apapun yang anda lakukan tidak akan berguna karena anda tidak bisa kabur dari tempat ini. Setidaknya anda tidak akan di pukuli jika menurut, tidak ada gunanya melawan Tuan Besar karena pada akhirnya hasilnya akan sama saja." bisik pelayan kepada Cu Ye Lie.


Cu Ye Lie terdiam, dia hanya meneteskan air mata tak berdaya. Ayah yang seharusnya melindungi anak anak mereka malah menjualnya demi hutang judi. Dia hanya bisa meratapi nasib nya yang malang karena lahir di keluarga yang salah.


"Aku ingin mati saja!" ucap Cu Ye Lie.


"Jika anda mati, bukankah masih ada gadis lain yang akan menggantikan anda? Jika anda mati begitu saja, bukankah kematian anda akan jadi sia sia?" bisik pelayan.


"Apa maksud perkataannya?" batin Cu Ye Lie


Pelayan menyelipkan sebuah pisau belati di balik pakaian yang baru saja di pakai oleh Cu Ye Lie. Dengan suara kecil dia berkata, "Semoga anda beruntung!"


"Dia berharap aku membunuh Long Au Ping?" batin Cu Ye Lie.


Cu Ye Lie menatap mata si pelayan yang memberikan pisau, dia ingin bertanya lebih jauh namun ada pelayan lain yang sedang mengawasi mereka.


"Apakah barangnya sudah siap?" tanya salah satu pelayan dari luar ruangan.


"Sudah, sudah siap semua!" jawab pelayan yang mengawasi.


Cu Ye Lie di antar ke salah satu kamar yang berada di tengah halaman. Kamar besar yang di penuhi asap dan wewangian dupa. Di ranjang besar terlihat sosok pria besar yang sedang berbaring.


"Kemari!" ucap Long Au Ping sambil menyibak kain penutup ranjang


Cu Ye Lie mulai gemetar ketakutan, dia melangkah mundur saat menatap wajah mesum Long Au Ping.


^^^BERSAMBUNG...^^^

__ADS_1


__ADS_2