
Ti Liu keluar dari goa, dia mematahkan ranting ranting pohon rindang dan menyusun nya dengan rapat untuk menutup pintu goa. Hal itu dia lakukan agar tidak ada binatang buas yang masuk ke dalam goa itu.
Karena bau darah bisa memancing kumpulan serigala, Ti Liu membuat lingkaran kobaran api di dekat mulut goa.
"Saya akan segera kembali untuk menyelamatkan anda. Bertahanlah Permaisuri." ucap Ti Liu.
Ti Liu meninggalkan goa itu, dia naik ke atas lereng dengan kecepatan penuh. Sesaat setelah dia sampai di atas, anjing anjing pemburu mulai merasakan kehadiran Ti Liu di sana.
"Ti Liu!" teriak salah satu pasukan Elang yang melihat sosok Ti Liu sedang berlari.
Raja Wei dan Yu segera menatap ke arah pria itu.
"Yang Mulia ... " ucap Ti Liu sambil menatap ke arah Raja Wei.
Ti Liu segera mendekat ke arah rombongan, dia memberi hormat kepada Raja Wei dan berlutut di hadapan nya.
"Yang Mulia, tolong selamatkan nyawa Permaisuri." ucap Ti Liu.
"Ada apa dengan Se Se? Apa yang terjadi pada nya?" tanya Raja Wei dengan wajah cemas.
"Permaisuri meminta saya untuk menyerahkan bunga ini kepada Yang Mulia. Permaisuri jatuh ke jurang saat mengambil bunga ini." jawab Ti Liu sambil menyerahkan bunga kepada Raja Wei.
"Di mana dia sekarang? Di mana Permaisuri?" tanya Raja Wei dengan nada tinggi.
"Saya membawa Permaisuri ke sebuah goa yang ada di bawah lereng gunung." jawab Ti Liu.
"Antarkan aku ke sana! Sekarang!!!" perintah Raja Wei.
Ti Liu berdiri, dia melangkah ke arah goa. Raja Wei dan para rombongan segera mengikuti dari belakang.
"Permaisuri, saya akan menyelamatkan anda sekarang. Tolong bertahan lah lebih lama lagi." batin Ti Liu.
Ti Liu sampai di depan pintu goa, dia mematikan nyala api yang dia buat dan memindahkan ranting pohon dari pintu goa. Yu dan beberapa pasukan ikut membantu Ti Liu menyingkirkan ranting pohon yang dia susun dengan sangat lebat.
Raja Wei masuk lebih dulu ke dalam goa, dia terlihat sangat terpukul ketika melihat tubuh Se Se yang penuh dengan darah. Luka luka lecet di wajahnya membuat Se Se terlihat sangat mengenaskan.
__ADS_1
Raja Wei mendekat, dia sangat ingin memeluk tubuh istri nya itu namun Ti Liu segera mencegah Raja Wei.
"Yang Mulia, beberapa tulang Permaisuri retak. Anda tidak boleh menggerakkan tubuh Permaisuri sembarangan." ucap Ti Liu.
Se Se mendengar keributan yang terjadi, dia membuka mata nya yang terpejam karena rasa lelah dan sakit.
"Xuan ... " panggil nya dengan suara kecil dan pelan.
"Maafkan aku! Ini semua karena aku." ucap Raja Wei.
Se Se tersenyum melihat Raja Wei yang telah kembali bersikap lembut, dia mengangkat lengan nya hendak menyentuh wajah Raja Wei.
Raja Wei seolah mengetahui pikiran Se Se, dia menggenggam telapak tangan Se Se dan membawa nya menyentuh wajah Raja Wei.
"Selamat datang kembali, suami ku." ucap Se Se sebelum kembali kehilangan kesadaran.
Raja Wei panik melihat Se Se yang selemah itu.
"Cepat bawa tabib ke sini!" teriak Raja Wei.
Yu yang memiliki kemampuan terbaik dan gerakan tercepat di antara para pasukan segera kembali ke kediaman. Dia membawa tabib dan seorang pelayan wanita bersama nya kembali ke goa di bawah lereng gunung.
Ti Liu menunggu dengan cemas di depan goa, dia merasa sangat bersalah dan menyesal karena tidak bisa melindungi Se Se dengan baik.
Yu menepuk nepuk pundak Ti Liu, dia seolah mengetahui isi pikiran teman nya itu.
"Bukan salah mu. Kamu sudah melakukan hal yang terbaik." ucap Yu.
"Ini salah ku, jika aku lebih cepat menyadari situasi, Permaisuri tidak akan terluka." jawab Ti Liu.
"Walaupun kamu menghentikan Permaisuri, beliau akan tetap mengambil bunga itu untuk menyelamatkan Yang Mulia." ucap Yu.
Ti Liu telah menceritakan tentang pembicaraan nya dengan Permaisuri mengenai alasan kenapa Se Se mengambil bunga itu. Para pasukan Elang merasa kagum dengan keberanian Permaisuri mereka.
"Setidaknya aku bisa menggantikan Permaisuri untuk mengambil bunga itu." ucap Ti Liu.
__ADS_1
"Permaisuri bukan tipe orang yang akan membahayakan nyawa orang lain untuk mendapatkan apa yang beliau inginkan. Kamu tidak akan bisa mengubah takdir Permaisuri ini." ucap Yu.
"Mungkin ini adalah hal yang baik, dengan kejadian ini aku harap Yang Mulia tidak akan memiliki keraguan lagi terhadap Permaisuri." batin Yu.
Raja Wei berjaga di samping Se Se yang berbaring di atas tumpukan jerami. Para pasukan Elang dan Yu menyiapkan makan malam mereka di depan goa.
"Yang Mulia, kami menyiapkan makanan ini untuk anda." ucap Yu sambil menyerahkan seekor burung yang telah di bakar dengan sempurna.
"Aku tidak lapar, kalian makan saja." jawab Raja Wei.
"Makan lah sedikit, Yang Mulia belum makan apapun hari ini." ucap Yu.
"Bagaimana aku bisa makan di saat kondisi Permaisuri seperti ini?" ucap Raja Wei.
"Yang Mulia, saya yakin Permaisuri juga tidak ingin melihat anda menyiksa diri seperti ini. Tolong makan lah sedikit dan jaga kesehatan anda." ucap Yu.
"Keluar lah, aku ingin di sini berdua saja bersama Permaisuri." ucap Raja Wei sambil menerima makanan dari Yu.
Yu melangkah keluar dari goa, dia menghela napas panjang dan berbalik menatap ke arah pintu goa.
"Aku tahu anda hanya menerima nya saja tanpa berniat untuk memakan nya. Aku harap Yang Mulia akan baik baik saja." batin Yu.
Bukan hanya Raja Wei, Ti Liu juga menghindari kumpulan Pasukan Elang dan menyendiri di atas pohon tanpa makan malam. Dia menatap ke arah goa sambil berpikir "Apakah Permaisuri baik baik saja? Apakah beliau sudah sadar?"
Yu duduk bersandar di depan pintu goa, dia berjaga jaga untuk melindungi keselamatan Raja Wei tanpa tidur sama sekali. Sementara pasukan Elang sudah tertidur lelap di atas pohon yang berada di sekitar goa.
Ti Liu berjaga semalaman bersama Yu, dia turun dari pohon tempatnya berbaring dan menceritakan masa kecil nya yang suram sebelum bertemu dengan Se Se dan Raja Wei.
Yu mulai mengerti kenapa Ti Liu bersikap sangat pendiam di masa lalu, dia juga tidak pernah membantah saat di beri tugas berat.
"Anak malang yang takut di singkirkan." Kata kata itulah yang ada di dalam pikiran Yu.
Hari mulai terang, Raja Wei masih duduk di samping Se Se sambil sesekali menyeka keringat dingin di wajah istrinya yang kesakitan.
"Xuan ... Xuan ..." hanya nama itu yang keluar dari mulut Permaisuri dari malam hingga pagi. Dia terus menyebut nama Raja Wei seolah pria itu akan menghilang jika dia tidak memanggilnya.
__ADS_1
"Apa yang telah aku lakukan pada gadis kecil ku? Kenapa aku bisa meragukan nya lagi dan lagi. Aku benar benar suami yang terburuk." gumam Raja Wei.
^^^BERSAMBUNG...^^^