
"Siapa yang kau panggil bodoh dan idiot? dasar bocah rakus pemakan ulat!" ucap Huo Feng dengan berkacak pinggang.
Han Ze Xia mendekatkan bibirnya ke telinga Han Ze Xin, dia kemudian berbisik, "Kak, jangan pedulikan dia! Semalam ibu berulang kali menyebutnya bodoh, kita bisa tertular jika bermain dengan orang bodoh!"
Bisikan dari Han Ze Xia terdengar oleh Huo Feng, dia turun dari atas pohon, dengan menggunakan satu tangan, tubuh Han Ze Xia diangkat hingga melayang di udara.
"Lepaskan adikku dasar burung idiot!" bentak Han Ze Xin sambil menginjak kaki Huo Feng.
Pria itu geram, kini kedua anak itu di angkat melayang bersama.
"Lepaskan!"
"Lepaskan aku!"
Kedua anak itu pun berteriak keras sehingga Ling Er dan Ye Lie mendatangi tempat mereka berada.
"Hey siapa kau? Cepat lepaskan Putri dan Pangeran kami!" teriak Ye Lie tanpa rasa takut.
Pengawal yang berada di sekitar taman ikut meramaikan, mereka berlari ke arah datangnya suara dengan kecepatan maksimal.
"Lepaskan mereka!" jerit salah satu pengawal yang baru saja tiba.
Sebuah jarum terbang melesat dengan cepat ke arah Huo Feng. Pria itu menangkap jarum yang menuju ke wajahnya dengan menggunakan bibir.
"Lepaskan anak-anak ku! Burung bodoh yang selalu membuat keributan!"
Se Se berlari ke sana setelah mendengar jeritan anak anak. "Lagi-lagi ada pembunuh yang datang untuk mengantar nyawa!" pikirnya. Namun keributan itu ternyata disebabkan oleh seekor manusia burung yang membuat masalah dengan dua bocah kecil.
"Majikan, kau ini mau membunuh penyelamatmu ya?" tanya Huo Feng dengan wajah kesal.
"Aku hanya melihat seekor burung yang sedang menyiksa dua anak kecil." jawab Se Se.
"Ckkk! Mereka berdua yang lebih dulu mengataiku!" protesnya sambil melihat ke kanan dan ke kiri tempat kedua bocah itu melayang.
Wajah wanita itu merengut, dengan nada kesal dia bertanya, "Mau sampai kapan kau mengangkat mereka seperti itu?"
Huo Feng merinding melihat tatapan dari majikannya yang seolah sudah mau menelannya hidup-hidup. Segera dia lepaskan kedua bocah dan di letakkan kembali di atas tanah dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
"Ibu, Paman idiot ini mengataiku anak rakus!" Han Ze Xia berlari ke pelukan ibunya sambil mengadu.
"Benarkah? Tapi Xia, bukankah kamu memang rakus?" jawab Se Se sambil tertawa.
"Ah Ibu, kenapa Ibu malah ikut meledekku? Dasar jahat!" rengek Han Ze Xia yang langsung melepas pelukannya.
"Hahaha!"
Huo Feng tertawa keras melihat rengekan Han Ze Xia yang kelihatan imut.
"Ke sini sebentar!" pinta Huo Feng sambil melambaikan tangannya ke arah Han Ze Xia.
Meski terlihat ogah-ogahan, kaki Han Ze Xia tetap berjalan ke arah pria itu.
"Ini untukmu!" ucap Huo Feng sambil memberikan sebuah kotak.
"Apa ini?" tanya Han Ze Xia dengan wajah penasaran.
Huo Feng tersenyum nakal, dia kemudian berkata, "Buka lah jika kau ingin tau apa isinya!"
Han Ze Xia menatap mata dan wajah Huo Feng yang terlihat sedang menanti dirinya untuk membuka kotak, dalam hati ia berkata, "Manusia bersayap ini pasti tidak punya niat baik. Isi di dalam kotak ini sudah pasti bukan barang yang bagus!"
Han Ze Xia menjulurkan tangannya, "Nih, Paman saja yang buka!" ucapnya sambil menyodorkan kotak itu.
"Aku kan memberikan itu kepadamu. Jadi kau yang harus membukanya!" ujar Huo Feng dengan kesal.
"Ya sudah, anggap saja aku menolak! Nih aku kembalikan!" ucap Han Ze Xia yang lalu meletakkan kotak itu ke tangan Huo Feng.
"Xia, ayo masuk!" ajak Se Se sambil menggandeng tangan Han Ze Xin.
"Hey kalian! Ibu dan anak yang selalu membuat kesal!" geram Huo Feng.
Tanpa sengaja dia menjatuhkan kotak tersebut, tutup kotak itu terbuka dan sesuatu yang bergerak meliuk-liuk keluar dari sana. Ternyata isi di dalam kotak itu adalah puluhan ulat bulu yang terlihat menggelikan, namun tidak beracun.
"Hahahaha....!" Han Ze Xia dan Han Ze Xin tertawa melihat Huo Feng yang melompat panik ketika seekor ulat bergerak di ujung kakinya.
"Senjata makan tuan!" ledek Se Se sambil tertawa lebar.
__ADS_1
Huo Feng terdiam melihat tawa anak anak dan wanita yang menjadi majikannya. Dia teringat dengan kenangan indah saat hidup berdua bersama Ye Yuan di Nirwana.
"Dulu, aku juga sering tertawa seperti ini." ucap Huo Feng dalam hati.
Manusia bersayap itu tiba-tiba saja meneteskan air mata, membuat kedua bocah nakal itu terdiam dan memperhatikannya dengan rasa penasaran.
"Apa yang sedang dipikirkan oleh manusia burung itu?" tanya Se Se dalam hatinya ketika ia melihat air mata yang keluar dari kedua sudutnya.
Han Ze Xia berlari mendekati Huo Feng, dia memberikan sapu tangan yang baru saja dia ambil dari saku bajunya.
"Paman, jangan menangis. Maafkan Xia, Xia tidak akan menertawakan Paman lagi." ucap Han Ze Xia dengan wajah polosnya.
"Paman tidak menangis karena kalian." ucap Huo Feng sambil menerima sapu tangan yang di tawarkan oleh bocah cilik di depannya.
"Biasanya aku hanya melihat sikapnya yang seperti bocah, tak ku sangka dia juga punya sisi yang seperti ini." batin Se Se.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rombongan Raja Wei baru saja tiba di ibu kota, mereka membawa para tahanan perang untuk dijadikan sebagai budak. Berbeda dengan prajurit biasa, nasib Jenderal Fang akan ditentukan oleh Kaisar negara Xi.
Jenderal yang tertangkap saat perang akan menjadi alat pertukaran oleh kedua negara, jika dia orang yang berharga, maka nilainya akan semakin tinggi. Jika dia di anggap tidak berguna, maka nasibnya hanya ada satu, mati di tiang gantung dan mayatnya akan menjadi aksesoris di gerbang pintu.
"Hidup Yang Mulia!"
"Hidup Jenderal Yang!"
"Hidup Panglima perang Huang!"
Sorak sorai rakyat yang menyambut kepulangan para pahlawan terdengar di sepanjang jalan. Mereka sangat senang karena akhirnya perang telah usai. Anak, ayah, dan suami mereka yang telah pergi selama bertahun-tahun akhirnya bisa kembali berkumpul bersama keluarga.
Di belakang para pahlawan, tahanan perang yang terikat secara bergandengan berjalan dengan teratur. Rakyat yang merasa marah atas kematian keluarga mereka akibat perang melempari para tahanan itu dengan berbagai macam benda.
Mulai dari batu, tomat busuk, sayur-sayuran layu dan telur, mereka lemparkan ke arah para tahanan. Ada juga yang meludahi barisan pria yang terikat itu, sumpah serapah bertebaran di sepanjang jalan yang di lalui oleh para tahanan.
"Yu, aku akan menuju ke kediaman terlebih dulu, kalian harus mengawal para tahanan ini sampai mereka tiba di penjara. Jangan ada kesalahan! Awasi pria bermarga Fang itu, dia adalah pria yang paling licik di antara mereka." perintah Raja Wei dengan suara yang dikecilkan.
"Yang Mulia, anda tidak melapor dulu ke istana? Tanya Yu.
__ADS_1
Raja Wei berpikir sejenak, ia kemudian menjawab, "Aku ingin menemui Permaisuri terlebih dulu."
^^^BERSAMBUNG...^^^