The Princess Story

The Princess Story
Pria itu ingin membunuhku!


__ADS_3

Raja Wei bertatapan mata dengan gadis itu, dia merasakan kesedihan di matanya. Hati Raja Wei tiba-tiba menjadi tidak karuan.


"Apa yang sedang aku pikirkan? Bagaimana bisa aku merasakan perasaan seperti ini? Tidak, tidak mungkin! Dia bukanlah gadis kecilku. Dia bukan Huang Se Se!" batin Raja Wei.


"Siapa Anda sebenarnya?" tanya Raja Wei memastikan pertanyaan di hatinya.


"Apa yang Anda tanyakan Yang Mulia? Bukankah Anda sudah tau siapa saya?" jawab Se Se.


Raja Wei mengerutkan alisnya, dia semakin kacau saat melihat mata gadis itu. Sinar dari mata itu sangat tidak asing. Mata yang selalu dia rindukan.


"Wajah mereka sangat berbeda. Mereka tidak mungkin orang yang sama." batin Raja Wei.


"Apa yang akan terjadi jika Anda menyelamatkan mereka?" tanya Raja Wei penasaran.


"Jika saya menyelamatkan mereka, saya... akan mati Yang Mulia." jawab Se Se dengan mata serius.


"Apa yang akan kamu lakukan sekarang? Apa kamu akan tetap menyuruhku mati untuk mereka?" batin Se Se.


Raja Wei tidak menjawab pertanyaan gadis itu. Dia berjalan masuk ke kamarnya dan berbaring di tempat tidur. Dia mengangkat lengannya yang kemudian mendarat menutupi matanya.


Muncul perasaan aneh di hatinya. Dia kembali hanyut dalam pikirannya. "Perasaan apa ini? Perasaan kacau apa yang ada di hatiku saat ini? Perasaan bersalah? Tidak, ini bukan rasa bersalah."


 


Yu mengantarkan gadis itu untuk beristirahat di kamar yang sudah disiapkan oleh Wali Kota. Yu meminta maaf atas perbuatan kasar Raja Wei padanya.


"Itu bukanlah salahmu, kenapa kamu yang meminta maaf?" ucap Se Se.


"Maaf, karena saya yang telah membawa Nona ke tempat ini." jawab Yu.


"Yu, apa kamu akan menyelamatkan orang-orang itu jika harus mengorbankan nyawamu?" tanya Se Se.


Yu mengangkat wajahnya dan menatap wajah gadis itu dengan serius.


"Tidak, saya tidak semulia itu Nona, saya tidak akan mengorbankan nyawa saya untuk orang lain kecuali Raja Wei." jawab Yu dengan yakin.


" .... "


Gadis itu hanya diam mendengarkan. Matanya menatap kosong ke luar jendela. Yu menyadari ada yang aneh dengan gadis itu. Pertanyaan yang dia berikan seolah menyatakan keseriusannya.


"Apa benar Nona Flo akan mati jika menyelamatkan mereka?" batin Yu.


"Yu... tolong tinggalkan aku sendiri!" pinta Se Se setelah beberapa saat diam dalam lamunannya.


Yu memberi hormat dan melangkah keluar pintu. Setelah langkahnya sampai di depan pintu, Yu berhenti dan berbalik menatap gadis itu.

__ADS_1


Pemuda itu kembali masuk ke dalam kamar dan bertanya dengan wajah seriusnya. "Nona, apa benar Nona akan mati jika menyelamatkan nyawa mereka?"


Se Se menoleh ke arah Yu, dia tersenyum kecil dan menjawab, "Apa Yu percaya padaku?"


"Ya, hamba percaya pada Anda, Nona Flo." jawab Yu dengan penuh percaya diri.


Gadis itu menatap wajah Yu, dia merasa sedikit terhibur karena pemuda itu mempercayainya.


"Terima Kasih sudah percaya padaku." ucap Se Se dengan senyumannya.


HARI BERIKUTNYA


Se Se melakukan penelitian terhadap getah yang dia temukan di sungai. Getah itu akan menyebabkan keracunan pada tubuh manusia jika tertelan. Dan efek dari racun itu sama persis dengan penyakit yang saat ini sedang mewabah.


"Dengan jumlah sebanyak ini, jelas sekali ada seseorang yang menyebarkan getah ini ke sungai. Siapa orang yang melakukan hal seperti ini?" batinnya.


Yu berdiri di depan pintu kamar Se Se. Dia mengetuk pelan pintu itu.


"Tok Tok Tok!"


"Masuklah!"


"Nona, makan siang sudah disiapkan. Yang Mulia mengajak anda untuk makan bersama di kamarnya." ucap Yu.


"Aku akan ke sana jika sudah merapikan barang-barang ini." ucap Se Se sambil menunjuk ke meja yang berantakan.


Se Se memasukkan kembali semua alat-alatnya ke dalam ruang dimensi kemudian berjalan keluar.


Sampai di kamar Raja Wei, Yu memberitakan kepada tuannya.


"Tok Tok Tok!"


"Yang Mulia, Nona Flo sudah datang."


"Persilakan dia masuk!" jawab Raja Wei dari balik pintu.


Se Se melangkah masuk dan duduk di kursi yang ada di depan pemuda itu. Posisi mereka saling bertatapan.


"Makanlah!" ucap Raja Wei memerintah.


Se Se mengambil sumpit dan mulai makan beberapa makanan yang ada di sana tanpa pilih-pilih. Namun ada satu jenis makanan yang tidak dia sentuh.


"Gadis ini tidak menyukai udang?" pikir Raja Wei dalam hati.


Raja Wei menyumpitkan seekor udang ke mangkuk gadis itu kemudian berkata, "Jangan menyisakan makanan."

__ADS_1


"Apa orang ini sangat ingin membunuhku?" tanya Se Se dalam batinnya.


Se Se menyingkirkan udang itu. Udang itu di letakkan di dalam mangkuk kosong yang ada di sampingnya.


Raja Wei merasa kesal melihatnya memindahkan udang itu ke mangkuk lain.


"Kenapa Anda membuang makanan? Apa Anda tidak tau udang itu sangat mahal? Banyak orang di luar sana yang berebut untuk mendapatkannya!" bentak Raja Wei sambil membesarkan bola matanya.


"Apa aku boleh membunuhnya sekarang?" batin sang gadis yang merasa kesal.


"Anda makan saja sendiri udang itu, Yang Mulia...!" jawabnya dengan nada ketus.


"Nona Flo! Sepertinya saya bersikap terlalu baik pada Anda!" bentak pemuda itu lagi.


"Baik apanya? Baik dari Hongkong?" batin sang gadis yang mulai habis kesabaran.


Se Se meletakkan sumpitnya dan berdiri. Dia akan melangkah keluar dari ruangan, namun Raja Wei menarik tangannya.


"Anda tidak diizinkan meninggalkan ruangan ini jika belum menghabiskan makanan yang ada di sini!" ucap Raja Wei dengan nada memerintah.


"Apa Anda sedang bercanda, Yang Mulia? tanya Se Se setelah menghempaskan tangan pemuda itu.


Gadis itu menatap ke meja, masih tersisa banyak makanan di sana. Dia tidak mungkin sanggup menghabiskan semua makanan itu.


Raja Wei tersenyum sinis dan kemudian dengan cepat tangannya mencekik leher kecil gadis itu. Dia merasa marah karena gadis itu selalu melawannya.


Gadis itu menarik belati dan melukai tangan Raja Wei. Raja Wei melangkah mundur beberapa langkah kemudian menyerang gadia itu dengan cepat.


Gerakan lincah dari gadis itu membuatnya dapat terhindar dari semua serangan yang dilontarkan Raja Wei.


Raja Wei mulai habis kesabaran saat gadis itu kembali menggores lengannya dengan belati di tangannya.


Pemuda itu menarik pedangnya dan mulai mengayunkan pedang itu untuk menyerang Se Se.


Dia kesulitan untuk melawan gerakan dari pedang Raja Wei. Kekuatan fisiknya terlalu lemah jika dibandingkan dengan pemuda di depannya.


Gadis itu mulai kewalahan, napasnya mulai berat dan kaki tangannya terlihat gemetaran karena terlalu banyak menggunakan tenaganya.


Raja Wei masih terus menyerangnya tanpa menyadari bahwa tubuh gadis itu sudah tidak sanggup menghindar.


"Zrakk...!"


"Jlebb....!"


Pedang itu menancap di bahu sang gadis. Darah terlihat mulai mengalir dari luka itu.

__ADS_1


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2