
Ling Er mendapat perintah untuk mengantarkan makanan ke kamar Zhun Tian, dia mengetuk pintu kamar tiga kali, namun tidak ada jawaban. Akhirnya Ling Er masuk tanpa menunggu jawaban dari Zhun Tian.
"Akhhhh!"
Ling Er berteriak kaget ketika melihat Zhun Tian yang bertelanjang dada.
Rasa sakit yang di rasakan oleh Zhun Tian membuat tubuhnya banyak mengeluarkan keringat, Pria itu membuka pakaiannya yang basah karena dibanjiri oleh keringat. Dia berbaring di atas ranjang tanpa memakai pakaian sebab memang tidak ada pakaian ganti di sana.
Se Se mendatangi kamar itu setelah mendengar teriakan dari Ling Er. "Ling Er, ada apa?" tanya Se Se yang baru saja tiba di sana.
"Yang Mulia, pria ini sangat cabul!" tuduh Ling Er tanpa mengetahui kondisi sebenarnya.
Se Se menoleh ke arah ranjang, dia melihat Zhun Tian yang berbaring di sana. Se Se tampak kaget setelah melihat wajah pucat pria itu, dia berjalan mendekati Zhun Tian yang masih berbaring lemah. Wanita itu mengangkat tangannya dan meletakkan telapak tangannya di kening Zhun Tian.
"Panas sekali!" ucap Se Se dengan wajah panik.
"Ling Er, bawakan air dingin! Sekarang!" perintah Se Se dengan nada yang dinaikkan.
"Jika demamnya lebih tinggi dari ini, dia akan mengalami kejang dan syok. Aku harus segera menurunkan suhu tubuhnya!" ucap Se Se.
Tidak lama kemudian Ling Er masuk membawa satu baskom air dingin, dia meletakkan baskom air di atas meja.
"Ling Er, tolong bawa baskom itu kemari!" perintah Se Se.
Se Se mengeluarkan sapu tangan, dia mencelupkan sapu tangan itu ke dalam air di baskom. Setelah memeras sedikit sapu tangan itu, Se Se meletakkan sapu tangan di kening Zhun Tian.
"Ling Er, berikan sapu tangan mu!" perintah Se Se.
Ling Er menyerahkan sapu tangannya, dia masih berdiri di sana untuk melihat apa yang dilakukan oleh Permaisurinya itu.
Se Se mengganti sapu tangan yang tadinya dia tempelkan di kening Zhun Tian dengan sapu tangan Ling Er yang sudah dia basahi, Se Se memasukkan sapu tangannya kembali ke air dingin di dalam baskom. Dia melakukan hal itu terus menerus selama beberapa saat.
"Apa yang sedang dilakukan oleh Yang Mulia?" tanya Ling Er dalam hati.
Se Se mengira-ngira suhu tubuh Zhun Tian, dia merasa demam pria itu masih di atas angka 39° celcius. Dalam hati Se Se berkata, "Tidak bisa terus dibiarkan seperti ini, aku harus memberikan infus dan obat paracetamol agar demamnya segera turun.Tapi Ling Er masih memperhatikan, aku tidak bisa mengeluarkan banyak barang di depannya. Sebaiknya aku kembali ke kamar terlebih dulu untuk mengeluarkan barang-barang yang aku butuhkan."
__ADS_1
"Ling Er, tolong bantu aku! Ganti sapu tangan ini secepat yang kamu bisa!" pinta Se Se.
Ling Er mengangguk, dia mengikuti apa yang tadi dilakukan oleh Se Se. Setiap kali dia selesai membilas sapu tangan yang dia ambil dari kening Zhun Tian, Ling Er akan segera mengganti sapu tangan itu untuk dibilas kembali.
"Wahhh... Sapu tangannya jadi panas sekali begitu menyentuh kulit pria ini, dia seperti terbakar dari dalam." ucap Ling Er.
Sementara itu Se Se kembali ke kamarnya, dia mengeluarkan barang-barang yang di perlukan untuk melakukan infus dan juga sebotol obat paracetamol infus.
Se Se kembali ke kamar Zhun Tian, dia menusuk jarum infus ke tangan pria itu, cairan saline bercampur paracetamol tergantung di dinding yang telah diberi paku.
Setelah beberapa menit, demam Zhun Tian mulai turun. Se Se menunggu di sana hingga pria itu membuka matanya.
"Lagi-lagi dia merawatku dengan tangannya sendiri." pikir Zhun Tian ketika dia baru saja membuka matanya dan mendapati Se Se yang sedang berada di sampingnya.
Zhun Tian merasakan keanehan pada tangan kirinya, dia menoleh ke sana dan mengangkat tangannya. Betapa terkejut hati pria itu ketika melihat tangannya yang tengah di tusuk jarum, apalagi saat dia melihat selang panjang yang terhubung dengan sebuah kantong air yang berada di atasnya, hati Zhun Tian semakin panik.
Zhun Tian berusaha melepaskan jarum itu dari tangannya, saat itu juga Se Se menahan tangan pria itu.
"Hentikan! Jangan dicabut!" ucap Se Se.
"Itu hanya cairan saline dan paracetamol." jawab Se Se.
"Apa? Cairan Salin? Para...ce?" tanya Zhun Tian yang kebingungan.
"Itu hanya obat untuk menurunkan demam!" jawab Se Se setelah mengingat jika dunia yang dia tinggali saat ini tidak ada nama saline maupun paracetamol.
"Kamu yang memasukkan jarum ini ke tubuhku?" tanya Zhun Tian.
Se Se mengangguk, dia kemudian mengecek suhu tubuh Zhun Tian dengan menggunakan termometer. Zhun Tian terkejut melihat benda itu, dia kembali bertanya , "Benda apa ini?" ketika Se Se memasukkan termometer ke dalam mulutnya.
"Alat untuk mengukur suhu tubuh!" jawab Se Se.
"Banyak sekali benda aneh yang dimiliki oleh wanita ini!" pikir Zhun Tian.
Termometer menunjukkan angka 37° celcius. Se Se merasa lega karena demam Zhun Tian sudah reda. Dia menatap pria itu kemudian bertanya kepadanya, "Apakah anda merasa pusing atau mual?"
__ADS_1
"Aku merasa sedikit pusing." jawab Zhun Tian.
"Itu reaksi yang normal mengingat demamnya tadi mencapai angka 39° celcius. Semoga dia bisa bertahan lebih lama, aku harus segera membekukan darahku dan membuatnya menjadi pil obat." benak Se Se.
"Ling Er, tolong panaskan makanan ini." pinta Se Se saat melihat makanan yg di bawa oleh Ling Er sudah dingin semua.
"Baik Yang Mulia." jawab Ling Er.
Ling Er menatap Zhun Tian, sekilas dia merasa tatapan pria itu terhadap Permaisurinya sangat tidak asing. Tatapan yang sama seperti yang terlihat di mata Raja Wei saat menatap Permaisuri. "Ini sangat berbahaya!" pikir Ling Er.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hutan Utara
"Kau masih tidak mau membuka mulut?" tanya Yu.
"HA HA HA HA...!" tawa pria itu tanpa menjawab Yu.
"Yu, pria ini sepertinya sudah gila!" ucap Xi Man, salah satu anggota Pasukan Elang.
"Aku lelah menghadapi orang gila ini!" keluh Yu.
Yu menatap tenda Raja Wei, pria itu belum keluar dari sana meski hari sudah terang. "Apakah terjadi sesuatu dengan Yang Mulia?" batin Yu.
Yu melangkah menuju ke tenda Raja Wei, dia memanggil pria itu dari depan pintu.
"Yang Mulia!"
"Yang Mulia!"
"Yang Mulia, saya akan masuk ke dalam jika anda masih tidak menjawab!"
Wajah Yu mulai cemas, dia membuka pintu tenda dan masuk ke dalam. Yu melihat sekeliling tenda namun Raja Wei tidak terlihat di sana.
"Pasukan Elang, segera bersiap!" teriak Yu dengan wajah panik.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^