The Princess Story

The Princess Story
Episode 238


__ADS_3

"Apa anda sedang mempermainkan saya?" tanya penjual yang juga kesal karena Huo Feng tampak seperti sedang membodohinya.


Tentu saja Huo Feng serius tidak mengerti mata uang yang di pakai oleh manusia. Dia tidak pernah hidup di antara manusia, para burung biasanya saling berbagi makanan tanpa meminta uang.


"Berikan saja dagingnya atau kuhancurkan kepalamu itu!" ucap Huo Feng dengan nada ancaman.


Karena takut dengan sinar mata Huo Feng yang membuat bulu kuduk merinding, penjual itu dengan cepat memberikan bungkusan daging yang ada di tangannya.


Huo Feng mengambil sebutir mutiara dari balik pakaian, dia melemparkan mutiara itu ke penjual kemudian pergi begitu saja tanpa berkata kata.


Penjual yang ketakutan segera mengutip mutiara yang terjatuh ke tanah, dia menatap mutiara sejenak sebelum akhirnya ia menyadari bahwa benda yang dia pegang adalah mutiara api yang sangat berharga.


Banyak orang yang mencari mutiara api karena konon katanya mutiara api bisa menghangatkan satu ruangan selama musim dingin. Orang yang memiliki mutiara api tidak akan pernah merasa kedinginan.


"Beliau pasti seorang dewa!" pikir penjual itu. Dia segera berlutut dan memberi penghormatan berkali kali ke arah Huo Feng pergi.


Huo Feng kembali dengan bungkusan daging di tangannya, dia meletakkan daging itu di samping Se Se yang tertidur lelap dengan posisi duduk.


Huo Feng membuka telapak tangan kanan, api biru muncul dari telapak tangannya itu. Beberapa menit kemudian api itu berubah menjadi mantel bulu yang indah. Mantel itu dia pakai untuk menutupi tubuh Se Se yang kurus dan penuh luka.


"Baru kali ini aku mengorbankan ratusan bulu dewa hanya demi seorang manusia!" keluh Huo Feng.


Mantel bulu yang baru saja di buat oleh Huo Feng merupakan bulu dewa miliknya yang sudah berusia ribuan tahun.


Saat usia phoenix mencapai ribuan tahun, bulu di tubuhnya akan menjadi bulu dewa yang bisa digunakan sebagai bahan utama untuk menciptakan barang dewa. Salah satunya adalah mantel yang saat ini di pakai untuk menutupi tubuh Se Se, mantel itu kebal terhadap api benda tajam.


"Dia pasti sangat lelah." pikir Huo Feng sambil menatap wajah Se Se yang tertidur lelap.


Huo Feng duduk berhadapan dengan Se Se yang masih terlelap, dia menatap wajah wanita itu dengan berbagai macam pikiran buruk dan baik secara bergantian.


"Apakah aku harus menyembuhkan semua luka di tubuhnya?

__ADS_1


Tidak, jika luka itu sembuh semua, aku tidak akan memiliki kesempatan untuk melahap kekuatan suci miliknya.


Aku sangat memerlukan kekuatan suci itu untuk mempertahankan jiwa murni phoenix yang mulai melemah. Terkurung selama ribuan tahun sudah membuat jiwa ku kehilangan sebagian besar kekuatan yang aku miliki.


Tapi wanita ini terlihat sangat kesakitan dan menderita dengan luka-luka itu. Apa yang sebaiknya aku lakukan?"


"Srekkk... Srekkk... Srekkk!"


Terdengar suara dari dekat, Huo Feng menatap tajam ke arah datangnya suara.


Raja Wei menebas rumput yang menjulang tinggi dengan pedang di tangannya. Huo Feng dan Raja Wei saling bertatap mata setelah semak-semak yang menghalangi pandangan matanya jatuh ke tanah.


Tatapan mata Raja Wei mengarah ke wanita yang duduk di depan Huo Feng, lega dan panik seketika menguasai hati Raja Wei.


Lega karena ia telah menemukan wanita yang dia cari selama beberapa hari ini, panik karena melihat pakaian yang dikenakan Se Se telah berubah menjadi warna merah akibat noda darah.


Raja Wei memasang sikap waspada, ia bersiap menyerang Huo Feng kapan saja saat pria itu lengah.


"Aku menyelamatkan nyawanya." jawab Huo Feng sekenanya.


"Menyelamatkan? Apa kau bercanda?" tuding Raja Wei tak mempercayai ucapan Huo Feng.


Raja Wei tidak tau jika pria yang ada di hadapannya saat ini adalah wujud manusia dari burung phoenix. Dia mengira Huo Feng adalah penculik yang telah memisahkan mereka.


Tanpa banyak basa basi lagi, Raja Wei menyerang Huo Feng. Dia mengecoh pria itu agar menjauh sehingga dia bisa menyelamatkan Se Se dari tangan Huo Feng.


Suara pertarungan membuat Se Se terbangun dari tidur lelap, ia membuka mata kemudian memanggil nama suaminya.


"Xuan..."


Raja Wei berhenti bertarung, dengan cepat ia melesat ke samping istrinya.

__ADS_1


"Syukurlah kamu baik baik saja!" ucap Raja Wei yang hampir menangis melihat kondisi istrinya.


"Jangan menangis, aku tidak apa-apa." ucap Se Se dengan senyum yang di wajahnya.


"Aku ingin memeluknya sekarang juga, tapi jika ku lakukan, dia pasti akan kesakitan. Kenapa tubuhnya dipenuhi oleh luka-luka sebanyak ini?" benak Raja Wei.


"Jangan menangis... Ayo kita pulang!" hibur Se Se sambil menghapus air mata yang terlihat menggenang di bawah mata suaminya.


Raja Wei mengangguk pelan, ia memegang telapak tangan Se Se yang terasa dingin di wajahnya. Perlahan ia mengangkat tubuh istrinya agar tidak menyakitinya.


Se Se menatap wajah Huo Feng, dia kemudian tersenyum dan berkata, "Terima kasih..."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kediaman Huang


"Ye Yuan, apakah belum ada kabar dari Raja Wei?" tanya Perdana Menteri Huang.


"Belum Ayah, dia juga pasti kesulitan mencari meimei, kami tidak memiliki petunjuk yang akurat tentang keberadaannya." jawab Ye Yuan.


"Ini semua salah ayah, seharusnya ayah mengirimkan prajurit untuk mengawalnya kemari." ucap Perdana Menteri Huang.


"Ayah, jangan menyalahkan dirimu. Jumlah pembunuh yang dikirim untuk membunuh meimei tidaklah sedikit. Meskipun kita mengirim beberapa prajurit untuk mengawal, hal ini tetap tidak dapat di hindari." hibur Ye Yuan.


"Siapa? Siapa sebenarnya dalang di balik semua ini? Kenapa anak malang itu terus menerus menjadi target pembunuhan? Aku sangat tidak becus menjadi seorang ayah."


Perdana Menteri Huang menundukkan wajah menatap lukisan Se Se yang ada di atas meja. Dia kemudian menatap giok yang telah berlumuran darah. Ya, giok itu adalah giok yang telah di ukir oleh tangan kecil milik anak perempuannya yang kini menghilang.


Ye Yuan menemukan kotak yang berisi giok di antara kayu kayu kereta kuda yang telah hancur. Dia membawa kotak itu kembali karena di dalamnya terdapat sebuah surat yang di tulis oleh adiknya.


"Selamat ulang tahun Ayah, saya harap Ayah akan selalu sehat dan berumur panjang. Terima kasih karena telah melahirkan dan membesarkan saya, terima kasih karena anda telah memberikan saya kehidupan sehingga saya bisa bertemu dengan pria yang sangat saya cintai. Sehatlah selalu dan berbahagia lah Ayah. Saya mengukir giok ini untuk Ayah meskipun tangan saya sakit dan mata saya lelah, itu semua saya lalui dengan bahagia karena anda adalah Ayah saya yang sangat berharga."

__ADS_1


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2