
Selir Fei diam-diam keluar dari Istana, dia bertemu dengan utusan dari Kerajaan Zhou.
"Ini barangnya, Nyonya!" ucap utusan Zhou yang bernama Gu Han.
Gu Han menyerahkan sebungkus obat kepada Selir Fei.
"Obat apa ini?" tanya Selir Fei.
"Campurkan obat itu ke dalam minuman Putra Mahkota, Nyonya tidak perlu banyak bertanya." ucap Gu Han dengan nada tegas.
Selir Fei tampak kesal mendengar jawaban Gu Han, namun dia tidak bisa membantah perintah nya. Bagaimana pun posisinya di Istana sudah tidak sama lagi seperti dulu.
Gu Han pergi meninggalkan Selir Fei, pria itu menghilang dari sana dalam hitungan detik. Selir Fei kembali ke istana, dia masuk melalui pintu belakang istana yang di jaga oleh mata-mata Kerajaan Zhou.
Selir Fei menatap bungkusan obat yang diberikan Gu Han, "Obat apa ini? racun?" batin Selir Fei.
"Bagaimana caranya aku memasukkan obat ini ke minuman Putra Mahkota? Mata-mata yang di kirim secara diam-diam sudah di singkirkan oleh pengawal Raja Wei." benak Selir Fei.
Sebuah ide terlintas di benak Selir Fei, dia menatap obat yang ada di tangannya sambil tersenyum licik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Li Siang berlatih menari bersama beberapa penari yang akan mengiringi tarian nya. Gerakan Li Siang terlihat kaku karena rasa sakit di sekujur tubuhnya belum hilang.
Beberapa penari menatapnya dengan wajah tidak ramah, menurut mereka Li Siang hanya menggunakan tubuhnya untuk mendapat posisi nomor 1 sebagai penari Istana.
Seorang penari dengan sengaja menginjak gaun yang di pakai Li Siang hingga robek dan memperlihatkan sebagian tubuhnya yang di penuhi bekas merah. Para penari menatapnya dengan tatapan hina dan sebagian mencaci nya secara terang-terangan.
"Sudah ku duga, tidak mungkin dia bisa menjadi nomor 1 jika bukan karena tubuhnya itu!"
"Entah sudah berapa banyak pria yang menyentuh tubuh kotornya itu!"
"Ck... Ck... Ck... benar-benar murahan!"
"Apa dia pikir istana adalah tempat pelacuran?"
"Benar-benar tidak tahu malu!"
"Diam kalian semua!" bentak Li Siang dengan penuh amarah.
Selir Fei menatap mereka dari jauh, muncul rencana jahat lain di benaknya ketika melihat wajah dan tubuh indah Li Siang.
Li Siang kembali ke kamarnya dengan penuh emosi, dia membanting barang-barang dan menjerit histeris mengeluarkan amarahnya.
__ADS_1
"Tok Tok Tok...!"
Selir Fei berdiri di depan pintu menunggu Li Siang menjawab ketukan nya.
Li Siang membuka pintu dengan kasar kemudian membentak tanpa melihat siapa tamunya. "Pergi dari sini!"
"Hahh... tenangkan lah diri mu Nona. Kenapa kau sangat marah dengan ucapan dari wanita-wanita itu? Bukankah mereka hanya merasa iri dengan posisi mu?" ucap Selir Fei dengan senyuman licik.
"Apa mau mu?" tanya Li Siang dengan membesarkan bola matanya.
Li Siang tahu Selir Fei adalah ibu kandung Han Ze Liang, tentu dia juga membenci Selir Fei.
"Aku ingin mengajak mu bekerja sama. Jika kamu ingin menjadi Putri Mahkota, aku bisa membantu mu mewujudkan nya." ucap Selir Fei.
"Kenapa aku harus percaya padamu?" tanya Li Siang yang sedikit tergoda dengan tawaran Selir Fei.
"Karena kau tidak punya pilihan lain jika ingin mendapat posisi tinggi." jawab Selir Fei.
"Bagaimana cara mu membantu ku?" tanya Li Siang.
"Aku bisa mengubah status mu menjadi anak angkat seorang bangsawan. Aku akan membantu mu masuk ke kamar Putra Mahkota dan melewatkan satu malam dengan nya. Begitu berita itu tersebar, kau akan menjadi Putri Mahkota." ucap Selir Fei.
"Aku harus menjadi Putri Mahkota agar bisa mendapat posisi tertinggi. Jika Putra Mahkota naik tahta, aku akan menjadi Ratu di negara ini." batin Li Siang.
"Lalu, apa yang harus kulakukan untuk mu?" tanya Li Siang.
"Baik, aku akan melakukannya." ucap Li Siang menyetujui tawaran Selir Fei.
"Waktu perjamuan tinggal 4 hari lagi, kamu akan mendapatkan status bangsawan hari ini. Setelah itu, kamu harus menarik perhatian Putra Mahkota dengan tarian dan tubuh mu di malam perjamuan." ucap Selir Fei.
"Lalu? Bagaimana caranya aku masuk ke kamar tidur Putra Mahkota?" tanya Li Siang dengan semangat.
"Aku akan mengatur semua itu, kamu hanya perlu menjalankan tugas mu dengan baik." jawab Selir Fei dengan senyuman licik.
Selir Fei meninggalkan kamar Li Siang, dia mengunjungi Han Ze Liang untuk mendiskusikan rencana pembunuhan Putra Mahkota.
Han Ze Liang terlihat puas mendengar rencana dari Selir Fei. Dia menyetujui rencana itu dan berjanji akan membantu ibu nya untuk menjalankan rencana.
Ti San sedang mendengarkan percakapan ibu dan anak itu dari balik pintu, tanpa menunggu lama dia segera kembali ke kediaman Raja Wei dan melaporkan semua hal yang baru saja dia dengar.
Raja Wei terlihat sangat marah, "Ibu dan anak itu benar-benar tidak tahu diri. Sudah berulang kali aku melepaskan mereka, tapi mereka sama sekali tidak berubah. Kali ini, aku tidak akan melepaskan mereka lagi!" ucap Raja Wei dengan api yang membara.
Se Se bermain bersama Xin Xin dan Xia Xia di taman bunga, Ling Er di samping membantu menjaga kedua bayi yang sudah mulai aktif.
__ADS_1
"Nona, sepertinya Pangeran sudah mulai mengerti apa yang kita ucapkan." kata Ling Er.
"Xia Xia juga begitu, kadang aku merasa ragu apakah mereka benar mengerti ucapan kita?" ucap Se Se sambil menatap mata Xin Xin.
Xin Xin balas menatapnya sambil tersenyum dengan ceria. Se Se gemas melihat pipi Xin Xin yang tembem seperti bakpao.
"Ling Er, lihat lah pipi Xin Xin, mirip seperti bakpao bukan?" ucap Se Se sambil tertawa lucu.
Xin Xin mengulurkan tangan dan menepuk pipi Se Se dengan pelan. Se Se menatap wajah Xin Xin, "Apakah kamu memukul ibu karena mengatai pipi mu seperti bakpao?" tanya Se Se ragu.
"Bagaimana bisa anak sekecil ini mengerti ucapan ku?" batin Se Se.
Ling Er tertawa melihat wajah Se Se yang melongo sambil menatap wajah Xin Xin.
Raja Wei mencari Se Se di kamar namun tidak menemukan mereka, dia berjalan menuju taman dan melihat kelucuan Pangeran kecilnya.
"Pangeran kecil ku sangat pintar meskipun belum berusia 1 tahun." ucap Raja Wei sambil mengangkat Xin Xin dari tangan Se Se.
"Dia mirip dengan Xuan yang angkuh dan pemarah." ucap Se Se.
"Aku tidak angkuh dan bukan pemarah, Xin Xin mirip dengan mu yang suka memukul jika sedang kesal." jawab Raja Wei.
"Tidak, dia mirip dengan Xuan yang pemarah!" sanggah Se Se.
"Tidak dia mirip dengan mu!"
"Mirip Xuan!"
"Mirip Permaisuri ku!"
"Xuan sangat menyebalkan!"
"Meskipun aku menyebalkan, Permaisuri ku tetap mencintai ku." jawab Raja Wei kemudian mengecup bibir Se Se.
"Aku mencintai Xuan, meskipun dia menyebalkan dan pemarah." ucap Se Se.
Dia membalas kecupan dari Raja Wei dengan ciuman yang mesra dan penuh gairah.
^^^BERSAMBUNG...^^^
Pemberitahuan,
Win besok mau liburan ke Berastagi. Jadi... mungkin agak telat update atau ga update kalau ga sempat. Cuma 2 hari sih. Makasih udah singgah di karya ini.
__ADS_1
Jangan lupa bantu Vote dan Like👍 nya yah...💖
Salam sehat dan bahagia ✌😁✌💖