The Princess Story

The Princess Story
Ep 227. Mariane part 2


__ADS_3

Pangeran Andrew selalu bersikap kasar ketika suasana hatinya sedang buruk atau situasi tidak berjalan sesuai dengan rencananya.


Malam hari saat Pangeran Andrew mabuk, ia akan memaksa Mariane untuk berhubungan badan dengan cara yang aneh dan menjijikkan.


Tidak jarang tubuh Mariane terluka karena kegilaan Pangeran Andrew ketika melakukan kegiatan suami istri. Laki laki itu juga sering membeli mainan **** yang di anggap bisa menambah gairah, padahal itu semua hanyalah alat penyiksaan bagi Mariane.


Tanpa di sadari, tatapan Mariane dibalas oleh Se Se yang sedang menikmati makanan favoritnya.


Mariane merasa malu tertangkap basah sedang menatap Se Se dengan tatapan iri, dengan segera ia melayangkan tatapan nya ke arah lain.


Mariane berusaha menahan air mata, batinnya tersiksa setiap kali mengingat perlakuan Pangeran Andrew yang kasar.


"Ada apa dengan wanita itu?" gumam Se Se.


Raja Wei menoleh ke arah tatapan mata Se Se, "Wanita itu adalah istri pertama dari Pangeran Andrew." ucap Raja Wei.


"Oooh... Dia terlihat sedang tidak sehat. Apakah saya harus pergi memeriksanya?" tanya Se Se dengan naluri kedokterannya yang masih pekat.


Raja Wei tertawa kecil mendengar pertanyaan Se Se, kemudian dia menjawab, "Istriku, saat ini kamu adalah Permaisuri dari Raja Wei, bukan tabib istana!"


Menyadari kesalahannya, Se Se tersenyum sambil menggaruk garuk kepala.


"Tring!"


Tusuk rambut yang di pakai Se Se terjatuh ke lantai, Raja Wei membantu mengambilkan tusuk rambut itu.


"Mendekatlah sedikit ke sini, biar aku pakaikan!" ucap Raja Wei setelah beberapa kali mengelap tusuk rambut dengan sapu tangan yang selalu ia bawa.


"Eung... Terima kasih." jawab Se Se sambil mengangguk.


Melihat Raja Wei yang begitu menyayangi Permaisuri, para pelayan dan bangsawan kembali bergosip ringan namun semua gosip itu di abaikan oleh pasangan suami istri ini.


Pada puncak perjamuan, Kaisar Han menyerahkan sebuah surat perdamaian yang memang menjadi tujuan dari kedatangan delegasi.


Pangeran Andrew yang mendapat tugas sebagai wakil delegasi menerima surat itu kemudian membaca isinya.


"Aku belum puas dengan isi surat ini. Aku akan menambahkan satu syarat lain sebagai tambahan." ucap Pangeran Andrew sambil tersenyum licik.


"Sebutkan apa syarat yang ingin anda tambahkan!" ucap Kaisar Han.

__ADS_1


"Aku ingin wanita yang ada di situ melayani ku malam ini." jawab Pangeran Andrew sambil menunjuk jari ke tempat duduk Se Se.


"Syuttt!"


Raja Wei melempar sumpit yang sedari tadi ia pegang untuk menyuapi istrinya.


Sumpit itu tertancap dalam ke dinding kayu yang ada di belakang Pangeran Andrew. Keluar darah segar dari pipi kanan Pangeran Andrew karena sumpit yang di lemparkan menggores kulitnya.


Ruangan menjadi hening, tak ada siapapun yang berani mengeluarkan suara. Bahkan untuk bernafas saja mereka sangat berhati hati agar tidak menjadi perhatian di sana.


"Redakan amarahmu Xuan. Saat ini kita sedang mencoba menjalin hubungan perdamaian dengan orang barat." bisik Se Se sambil menggenggam tangan Raja Wei.


"Aku akan membunuhnya meskipun kita harus berperang!" jawab Raja Wei yang mengepal erat jari jemarinya karena menahan emosi.


"Ehem... Ehem..."


Suara Kaisar Han memecah kesunyian.


"Dasar gila! Berani beraninya kau melukai wajah tampan ku!" ucap Pangeran Andrew setelah menyadari apa yang terjadi dengan wajahnya.


"Meskipun anda seorang perwakilan dari barat, anda tidak boleh melecehkan Permaisuri dari negara kami!" ucap Han Ze Xing.


"Hahhh... Kalian bahkan tidak bisa memberikan seorang wanita murahan sebagai syarat perdamaian. Benar benar tidak ada ketulusan, sebaiknya kita batalkan saja janji damai ini!" ucap Pangeran Andrew.


"Aku tidak peduli dengan perdamaian yang kalian bicarakan, tapi jika ada yang menghina istriku, aku tidak akan tinggal diam!" ucap Raja Wei.


"Ohokkk... Ohokkk..."


Pangeran Andrew kesulitan bernafas karena cengkraman dari Raja Wei, dua orang pengawal dengan cepat menyerang Raja Wei untuk menyelamatkan majikan mereka.


"Bruakkkk!"


Tubuh Pangeran Andrew di lempar keras ke lantai.


"Ackkk!"


"Tanganku! Tanganku sakit sekali!" teriak Pangeran Andrew sambil merintih kesakitan.


Sesaat Han Ze Xing tersenyum kecil namun sedetik kemudian ia kembali ke wajah datarnya.

__ADS_1


"Pangeran Andrew, sepertinya anda tidak bermaksud menyetujui surat perdamaian ini. Kalau begitu, kami akan menyatakan perang terhadap negara barat dengan alasan anda yang telah lancang menghina Permaisuri kami." ucap Han Ze Xing.


"Maaf menyela ucapan anda, saya Pangeran ketiga Arnold memohon maaf yang sebesar besarnya kepada Permaisuri atas kesalahan yang dibuat oleh Pangeran Andrew.


Saya harap perjanjian perdamaian ini akan dilanjutkan. Raja kami tidak menginginkan terjadinya perang di antara kita. Saya mohon kebesaran hati Permaisuri untuk memaafkan tindakan Pangeran Andrew." ucap Pangeran Arnold setelah menundukkan kepalanya sebagai permintaan maaf.


"Saya akan melupakan kejadian malam ini karena anda telah meminta maaf dengan tulus." jawab Se Se.


Raja Wei kembali ke tempat duduknya dengan wajah kesal, ia berusaha meredam amarah dan keinginan untuk membunuh Pangeran Andrew.


Mariane bergegas membantu Pangeran Andrew yang masih tergeletak di lantai dengan salah satu tulang lengan yang retak.


Bukannya terima kasih, sebuah tamparan mendarat di pipi Mariane. Pangeran Andrew melampiaskan kemarahannya kepada Mariane.


Pria itu langsung keluar dari ruang pesta diikuti oleh Mariane di belakangnya. Sampai di kamar, Mariane menjadi bulan bulanan pelampiasan kemarahan Pangeran Andrew.


Wajahnya di tampar berkali kali hingga membengkak dan meninggalkan jejak jari di pipi mulusnya.


"Menangislah! Cepat menangis!" teriak Pangeran Andrew masih sambil memukuli Mariane.


"Tolong hentikan ini!" ucap Mariane.


"Berani beraninya! Kau! Berani sekali kau membantah ucapanku hahhh? Apa kau juga mau ikut meremehkan aku sekarang?" bentak Pangeran Andrew.


"Plakk! Plakkk! Plakkk!"


Suara kekerasan terdengar hingga di luar pintu kamar.


Sekuat apapun Pangeran Andrew menampar dan memukuli Mariane, tidak ada setetes pun air mata yang terlihat keluar.


Bukan karena tidak merasakan rasa sakit, namun sebaliknya, Mariane telah terbiasa dengan rasa sakit yang sudah menjadi makanan sehari hari. Habis sudah air matanya setelah tiga tahun pernikahan dengan pria yang tidak mencintai dirinya.


Pesta berlanjut setelah kepergian kedua pasangan itu, perjanjian perdamaian juga disetujui oleh Pangeran Arnold yang mewakili kakaknya.


"Sebagai permintaan maaf, tolong terima ini!" ucap Pangeran Arnold sambil menyerahkan sebuah giok kepada Se Se.


"Tidak perlu, saya sudah menerima permintaan maaf dari Pangeran. Saya tidak memerlukan hadiah sebagai gantinya, tolong simpan giok itu, saya tidak akan menerimanya." jawab Se Se.


"Baiklah kalau begitu, saya Pangeran Arnold akan selalu mengingat kebaikan Permaisuri. Jika di lain waktu anda mengalami kesulitan, jangan ragu untuk meminta bantuan dari kami." ucap Pangeran Arnold.

__ADS_1


Pria itu kemudian mencium punggung telapak tangan Se Se, Raja Wei kelihatan tak senang dengan Pangeran Arnold yang menyentuh tangan istrinya.


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2