
Seorang pria masuk ke dalam kamar Raja Wei, pemuda itu sedang tertidur lelap tanpa menyadari kehadiran orang lain di kamarnya.
Se Se membuka mata saat merasakan kilauan sinar pedang mengarah ke wajahnya. Dia menahan pedang itu dengan kedua tangan, Raja Wei terbangun dan segera menendang pria itu.
Melihat kedua telapak tangan Se Se berdarah, Raja Wei menjadi murka. Aura pembunuhnya bangkit, dia membunuh pria itu dalam satu tebasan.
Sementara itu, di luar kamar terdengar suara gaduh dari orang yang berpedang. Raja Wei keluar melihat apa yang terjadi di luar kamar, ternyata Yu sedang bertarung dengan beberapa pria berbaju pelayan.
"Cara mereka memainkan pedang seperti orang yang sudah terlatih. Tidak mungkin seorang pelayan mempunyai kemampuan berpedang seperti itu. Mereka pasti pembunuh yang sedang menyamar." benak Raja Wei.
Raja Wei berniat membantu Yu membunuh orang-orang itu, namun tiba-tiba dia merasa pusing, pandangan matanya menjadi buram. Raja Wei terjatuh ke lantai dan tidak sadarkan diri.
Se Se khawatir melihat Raja Wei terjatuh pingsan, dia turun dari ranjang dan segera menghampiri Raja Wei.
"Apa yang terjadi padanya?" batin Se Se.
"Permaisuri, cepat lari dari sini!" teriak Yu yang sedang melawan para pembunuh.
Yu mulai kewalahan menghadapi pria-pria itu, terlihat beberapa luka sayatan pedang menghiasi tubuhnya. Darah keluar dari luka dan membasahi pakaian pemuda itu.
Se Se mengeluarkan pistol, dia mulai menembak. Tapi penglihatan yang berkunang-kunang membuat tembakan itu jauh dari sasaran.
Seorang pria mendekat dan memukul pundak Se Se dari belakang. Gadis itu pingsan dan di bawa pergi oleh pria itu. Sementara Yu masih sibuk melawan pembunuh-pembunuh yang tersisa.
Yu berhasil membunuh mereka semua, namun dia terluka parah. Yu melihat Raja Wei tergeletak di atas lantai, dia segera mendekati tubuh Raja Wei dan membawanya ke atas ranjang.
Darah mengalir dari luka-luka di tubuh Yu, hampir saja dia mati karena kehabisan darah. Untungnya tabib yang memeriksa Se Se kembali ke penginapan, dia merasa penasaran dengan denyut nadi gadis itu sehingga memutuskan untuk kembali memeriksanya.
Tabib mengobati luka Yu, dia juga memberikan obat kepada Raja Wei agar segera sadar. Ternyata di minuman Raja Wei terdapat obat bius yang membuatnya tidak sadarkan diri.
Sesuai perkiraan tabib, denyut nadi Raja Wei terasa aneh karena pengaruh obat bius. Untungnya obat itu berdosis rendah sehingga tidak akan menimbulkan bahaya pada kandungannya.
__ADS_1
Raja Wei mulai sadar, dia membuka mata dan mencari-cari Se Se. Kepalanya bergerak ke kiri dan kanan mengamati seluruh ruangan.
Yu menyadari apa yang sedang di cari oleh Raja Wei, dia segera berlutut dan berkata, "Yang Mulia, maafkan hamba, Permaisuri dibawa pergi oleh seorang pria. Hamba tidak tahu siapa pria itu karena dia menutup wajahnya."
Raja Wei menjadi panik seketika, wajahnya terlihat cemas dan gelisah. Hatinya tidak tenang karena gadis kecilnya diculik orang.
"Kumpulkan pasukan Elang, cari dia secepatnya!" perintah Raja Wei dengan nada panik.
Mereka mencari selama tiga hari dan tiga malam, namun tidak ada hasilnya. Keberadaan permaisuri belum ditemukan, gadis itu seperti menghilang tanpa jejak.
Raja Wei belum istirahat sejak Se Se diculik, dia mencari permaisurinya dari pagi hingga malam. Yu ikut mencari gadis itu dengan perasaan gelisah dan cemas.
Sementara itu, gadis yang mereka cari saat ini sedang di sekap dalam sebuah kamar. Seorang pria membelai lembut wajah Se Se dengan jari jemarinya. Pria itu adalah Yang Wei Zhao, dia duduk di tepi ranjang. Mata liarnya menatap wajah cantik Se Se yang terlelap karena pengaruh obat tidur.
Selama tiga hari dia terus memberikan obat tidur pada gadis itu, dia berniat mengurung gadis itu selamanya di sana.
"Akhirnya kamu menjadi milikku!" gumam Yang Wei Zhao.
Yang Wei Zhao mengecup kening dan pipi gadis itu, perlahan bibirnya turun menuju bibir merah sang gadis. Se Se menyadari seseorang sedang mengecup pipinya, dia membuka matanya.
Se Se menendang pria itu dengan sekuat tenaga, Yang Wei Zhao terpental ke lantai. Se Se berusaha berdiri, tubuhnya lemah karena pengaruh obat tidur yang diberikan Yang Wei Zhao selama tiga hari ini.
"Beraninya kau melecehkan seorang Permaisuri!" geram Se Se dengan mengepalkan kedua telapak tangan.
"Hahaha..."
Yang Wei Zhao tertawa, dia berdiri dari lantai kemudian berkata, "Kau... bukan lagi seorang Permaisuri, mulai sekarang kau akan menjadi selirku, wanita milik Yang Wei Zhao."
Wajah Se Se berubah jijik saat mendengar perkataan Yang Wei Zhao.
"Pria ini pasti sudah gila! Berani sekali dia berharap aku menjadi selirnya!" benak Se Se.
__ADS_1
Se Se melangkah keluar dari kamar, Yang Wei Zhao menahan lengan gadis itu dan menghempas tubuhnya ke tempat tidur. Hempasan kasar Yang Wei Zhao membuat perutnya sakit, Se Se memegangi perut dan menundukkan tubuh menahan rasa sakit itu.
"Kau sebaiknya menurut, atau akan ku habisi nyawa bayi dalam perutmu itu!" ancam Yang Wei Zhao.
"Hahaha... Pria gila ini, beraninya dia mengancamku! Akhh.. sial, perutku terasa sakit sekali, seharusnya kubunuh saja dia dari tadi. " benak Se Se.
Se Se memperhatikan ruangan kamar dan depan pintu kamar, ada beberapa penjaga yang sedang berdiri di sana. Jika dia membunuh Yang Wei Zhao, dia harus membunuh mereka semua dengan cepat sebelum mereka balik menyerang.
Namun saat ini tubuhnya dalam kondisi lemah, dia tidak boleh sembarangan bertindak, harus memikirkan bayi di dalam perutnya. Yang Wei Zhao mendekati gadis itu dan menjambak rambutnya dengan kasar, dia mendekatkan bibirnya berniat mencium bibir mungil Se Se.
"Plakkk!"
Se Se menampar wajahnya sebelum bibir mereka bersentuhan. Perasaan jijik sangat jelas terlihat di wajahnya.
"Gadis ******, beraninya kau menamparku!" ucap Yang Wei Zhao dengan nada marah.
Yang Wei Zhao kembali menjambak rambut Se Se, tubuh gadis itu di dorong hingga berbaring di ranjang. Yang Wei Zhao menindih tubuh gadis itu, dengan satu tangan dia menahan kedua telapak tangan Se Se di atas kepala.
"Apa yang kau lakukan!" bentak Se Se dengan wajah menahan rasa sakit.
"Aku akan membuatmu merasakan kenikmatan yang tidak pernah kau rasakan!" ucap Yang Wei Zhao dengan senyum getirnya.
Dia tidak pernah memaksa wanita untuk tidur dengannya, wanita lain akan menyerahkan diri mereka dengan senang hati, baru kali ini dia merasa tertarik dengan seorang wanita, namun wanita itu menolaknya.
Se Se tidak bisa berpikir jernih lagi, dia menendang Yang Wei Zhao dengan seluruh tenaga yang tersisa.
"Dor...!" Peluru bersarang di otaknya, pria itu mati seketika.
"Brakkk!"
Beberapa pengawal mendobrak pintu, karena kaget mendengar suara tembakan. Mereka terkejut saat melihat mayat Tuan mudanya tergeletak di lantai.
__ADS_1
"Tangkap pembunuh itu!" perintah seorang pria berbaju pengawal.
^^^BERSAMBUNG...^^^