The Princess Story

The Princess Story
Episode 236


__ADS_3

Pencarian terus dilakukan, hari yang gelap kini sudah berubah menjadi terang. Namun, Permaisuri yang mereka cari masih belum diketahui keberadaannya.


Raja Wei masih mencari di lokasi terakhir Se Se terlihat, jejak terakhir kereta kuda berjalan menuju ke dalam pedalaman hutan yang di kabarkan banyak binatang buas dan hantu yang berkeliaran.


"Apa yang terjadi padamu?"


"Dimana kamu berada saat ini?"


"Bagaimana keadaan mu?"


"Apakah kamu baik baik saja?"


"Apa yang harus aku lakukan agar bisa menemukan mu dengan segera?"


Semua pertanyaan yang berulang-ulang muncul di benak Raja Wei ketika mencari keberadaan Se Se.


"Yang Mulia, kita sudah berada di titik paling berbahaya dalam hutan ini." lapor Yu.


"Lanjutkan pencarian, aku tidak peduli dengan bahaya apapun." jawab Raja Wei.


Yu menatap lurus ke depan, hutan yang penuh dengan pohon tua dan semak belukar berduri. Mereka harus mencari keberadaan Permaisuri di tempat ini.


"Apa mungkin Permaisuri masuk sampai ke tempat ini? Kalaupun benar Permaisuri masuk ke sini, aku tidak yakin dia bisa bertahan lama di neraka bumi ini." benak Yu.


Hari berganti hari, minggu berganti minggu, pencarian tetap dilakukan meski tidak mendapatkan hasil apapun.


Raja Wei kelihatan lelah, begitu juga dengan pasukan yang membantu pencarian selama seminggu penuh. Selain makan dan tidur tiga jam sehari, sisanya mereka gunakan untuk mencari keberadaan Se Se.


Petunjuk yang mereka temukan semakin lama semakin tak terarah. Beberapa pasukan juga terluka parah saat memasuki hutan yang bagai neraka setelah mereka bertemu binatang buas yang sudah berevolusi menjadi binatang iblis.


Yu meminta Raja Wei untuk menghentikan pencarian karena pasukan mereka sudah mulai lemah, menurut Yu melanjutkan pencarian dalam kondisi ini hanya akan membunuh mereka semua jika tiba-tiba saja ada musuh yang menyerang.


Tentu saja ucapan Yu tidak salah, namun Raja Wei tetap pada pendiriannya. Bagaimana pun juga, dia tetap ingin segera menemukan istrinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aku tidak tau sudah berapa lama aku di sini, tapi berkat air ini aku masih hidup sampai sekarang.

__ADS_1


"Tik... Tik... Tik..."


Air dari atas menetes tepat di samping wanita itu, dia tergeletak tak berdaya, tangan dan kakinya mati rasa dan tubuhnya penuh luka.


Se Se menatap cahaya yang masuk dari celah lubang, dia memperhatikan sekeliling ruangan. Goa batu yang dipenuhi lumut dan beberapa tanaman liar.


Air mengalir dalam jumlah yang sangat minim di sekitar tembok goa, tetesan air dari atas goa juga terlihat di beberapa titik temu batu yang menjuntai ke bawah.


"Bagaimana keadaan Ti Liu dan Ti San yang menemaniku dalam perjalanan ke rumah ayah? A**ku harap mereka berdua baik baik saja."


FLASHBACK


Kereta kuda melaju menuju kediaman Huang, tiba-tiba saja ada seorang anak kecil yang berdiri di tengah jalan. Kusir segera menghentikan kereta kuda, Ti Liu turun menemui anak kecil itu atas permintaan Se Se.


"Adik kecil, apa kamu baik-baik saja?" tanya Ti Liu setelah berjongkok di depan anak kecil itu.


Ti Liu menunggu jawaban anak itu, tapi dia diam saja dan terus menatap arah kereta kuda.


Ti Liu kembali bertanya, "Apa kamu terluka?"


"...."


Karena terlalu lama menunggi, Se Se akhirnya ikut turun dari kereta kuda. dia mendekat kemudian mengangkat tubuh anak kecil itu dalam gendongannya.


"Apa yang kamu lakukan di tengah jalan? Sangat berbahaya berdiri di tengah jalan, Apa kamu tidak di beritahu oleh orang tua mu?" tanya Se Se secara bertubi tubi.


"Saya tidak punya orang tua." ucap anak kecil itu.


"Apa sih yang aku katakan kepada anak yatim piatu ini?" sesal Se Se dalam hatinya.


"Dimana kamu tinggal? Apa kamu sudah makan?" tanya Se Se dengan nada lembut.


Anak kecil itu menggelengkan kepala, "Saya tidak punya rumah, dan saya belum makan sejak dua hari yang lalu."


"Astaga... Apa sih yang negara ini lakukan hingga ada anak kecil yang kelaparan selama dua hari?" keluh Se Se dalam benaknya.


"Belilah makanan dengan uang ini." ucap Se Se sembari menyerahkan beberapa perak ke tangan anak kecil.

__ADS_1


"Terima kasih dan maafkan saya." ucap anak kecil itu masih dengan wajah datar tanpa ekspresi.


"Maafkan? Firasat buruk apa ini?" benak Se Se.


Wanita itu melihat ke belakang, ia mendengar suara langkah beberapa orang menuju ke kereta kuda.


Dalam waktu singkat terlihat ratusan orang berkumpul di sana, jalanan menjadi sepi dan anak kecil yang berada di dalam gendongannya melompat turun kemudian menebarkan serbuk merah ke mata Se Se.


Se Se memejamkan matanya yang terasa perih dan sakit. Saat dia mencoba membuka matanya kembali, dia merasa penglihatannya buram dan kabur. Dia tidak bisa melihat dengan jelas meskipun saat itu matahari sangat terik.


"Permaisuri!" teriak Ti Liu yang berlari dengan cepat ke arah Se Se.


"Liu, bawa pergi Yang Mulia Permaisuri, aku akan menghadang mereka!" pinta Ti San yang sudah bersiap di posisi menyerang.


Tanpa persetujuan dari Se Se, Ti Liu segera mengangkat tubuhnya dan membawa lari wanita itu dengan kecepatan semaksimal mungkin.


Ti Liu menyadari dalam perbandingan jumlah yang besar itu mereka tidak mungkin sanggup mengalahkan para pembunuh dan perampok yang berjumlah ratusan orang.


"Maafkan aku San, aku harap kamu tetap hidup dan bertahan sampai bantuan tiba!" batin Ti Liu.


Ti Liu terus berlari tanpa arah tujuan, ia akhirnya masuk ke dalam hutan neraka yang berada di jalur depan.


Bagi Ti Liu, tempat paling berbahaya adalah tempat teraman untuk bersembunyi. Namun sayang, belum sempat dia menapakkan kaki ke dalam hutan, beberapa orang menyerang mereka dengan anak panah.


"Turunkan aku Liu, lari lah secepat mungkin untuk meminta bantuan!" pinta Se Se.


"Aku tidak akan meninggalkan anda di sini Yang Mulia!" jawab Ti Liu.


"Jika terus seperti ini, kita berdua akan terbunuh!" ucap Se Se.


"Aku akan melindungi Yang Mulia meskipun harus mati di sini!" jawab Ti Liu.


Ti Liu terus berlari meskipun beberapa anak panah telah menembus kulit tubuhnya. Dia masih menggendong erat tubuh Se Se yang bagi dirinya se-ringan bulu.


"Liu, cepat turunkan aku!" perintah Se Se dengan wajah panik setelah mencium aroma darah yang keluar dari tubuh Ti Liu.


Liu tersenyum kecil, kata kata terakhir sebelum dia melepaskan tubuh Se Se adalah "Maafkan saya Yang Mulia, saya harus melakukan ini demi menyelamatkan nyawa anda."

__ADS_1


Setelah itu Se Se merasa tubuhnya terus dihempaskan di udara, penglihatannya yang buram sudah mulai membaik namun masih menyisakan rasa perih.


Suara pertarungan terus terdengar, Ti Liu berusaha mengamankan tubuh Se Se sementara dia bertarung melawan para pembunuh.


__ADS_2