The Princess Story

The Princess Story
Ingatan yang kembali


__ADS_3

Bukan hanya Raja Wei saja yang bingung, para Pasukan Elang kini ikut kebingungan. Pertanyaan dari pemimpin mereka terdengar aneh, meskipun itu adalah pertanyaan yang wajar apabila ditanyakan oleh orang lain.


"Yang Mulia...!" panggil Yu dengan wajah yang kebingungan sekaligus penasaran. "Apa yang terjadi pada Yang Mulia? Kenapa beliau menanyakan usianya sendiri?" benak Yu.


Belum sempat Yu menjawab, Raja Wei memegang kepalanya. Dia merasa sakit di seluruh bagian kepala. Rasa sakit itu membuatnya terjatuh di atas permukaan tanah. Yu dan para Pasukan Elang terkejut melihat Tuan mereka sedang menahan rasa sakit sambil berguling-guling di bawah.


"Yang Mulia!" panggil Yu dengan wajah khawatir.


"San, cepat panggil Tabib! Tidak, bukan Tabib. Cepat beritahu Permaisuri, cepat!!!" ucap Yu dengan wajah panik.


Ti San segera berlari, Ti Liu mengejar dari belakang. Namun langkah Ti Liu lebih cepat sehingga dalam waktu sekejap dia sudah tiba lebih dulu di kamar utama.


"Tok Tok Tok!"


Ti Liu mengetuk pintu kamar yang langsung di buka oleh Se Se. Dia mendapat firasat buruk begitu mendengar ketukan pintu yang terasa terburu-buru di telinganya.


"Yang Mulia Permaisuri! Yang Mulia...! Yang Mulia...!" Ti Liu kesulitan berkata-kata, dia hanya bisa menyebut panggilan Tuannya berulang-ulang.


"Liu, kau sudah sadar!" ucap Se Se yang langsung menarik lengan Ti Liu untuk memeriksa kondisinya.


"Yang Mulia, saya tidak penting. Ayo cepat ikuti saya ke paviliun depan!" ucap Ti Liu sambil melepaskan genggaman tangan Se Se.


"Yang Mulia, Raja Wei kesakitan, beliau terjatuh di tanah." teriak Ti San yang baru sampai di sana.


Se Se mematung sejenak, jantungnya terasa lepas dari tempat ketika mendengar kabar buruk dari Ti San. Ti Liu tidak sabar lagi, dia langsung menarik tangan Se Se. Dengan langkah lebar, mereka berlari menuju ke paviliun depan.


Raja Wei kini berbaring di atas kursi panjang, Yu dan beberapa pria di sana mengangkat tubuhnya bersama ke atas kursi sebelum Se Se tiba. Beberapa dari mereka mengelilingi Raja Wei, mereka menahan tubuh pria itu agar tidak terjatuh. Sebab Raja Wei masih kesakitan sambil berguling memegangi kepalanya.


"Apa yang terjadi kepada Yang Mulia?" tanya Yu yang kebingungan.


"Apakah Yang Mulia menderita penyakit parah?"


"Hey, hentikan omong kosongmu!"


"Ckkk... Apa kau tak melihat Yang Mulia benar-benar kesakitan sekarang!"


"Diam kalian semua!" bentak Yu yang tak tahan mendengar percakapan buruk tentang Tuannya.

__ADS_1


"Permaisuri tiba!"


"Cepat menyingkir, biarkan Permaisuri yang memeriksa kondisi Yang Mulia!"


Pasukan yang mengelilingi Raja Wei segera bubar, mereka menjauh dan memberi jalan untuk Se Se.


"Apa yang terjadi?" tanya Se Se dengan wajah panik ketika melihat kondisi Raja Wei yang terlihat kesakitan.


"Yang Mulia tiba-tiba saja kesakitan saat bertanya tentang usia nya tahun ini." jawab Yu.


"Usia? Apakah dia sedang mencoba mengingat kenangan yang hilang?" batin Se Se.


"Kalian, pegangi Yang Mulia agar tidak bergerak! Aku akan menusuk jarum ke atas kepalanya. Pegang dengan benar karena ini akan berbahaya jika mengenai bagian yang salah!" perintah Se Se.


"Baik, Yang Mulia!"


Yu dan beberapa pria di sana segera menahan tubuh Raja Wei. Se Se menusukkan jarum yang baru dia keluarkan dari ruang dimensi. Rasa sakit di kepalanya menghilang, tubuhnya pun berhenti meronta.


"Xuan...!" panggil Se Se pelan.


"Yang Mulia!" panggil Yu ketika Raja Wei menatapnya.


"Kenapa aku di sini? Apa yang terjadi?" tanya Raja Wei karena dia tidak bisa mengingat kejadian sebelum dia merasa sakit kepala.


Para pria di sana saling menatap, mereka heran mendengar pertanyaan dari Raja Wei. Sebelumnya pria itu bahkan menanyakan usianya kepada Yu.


"Xuan, kamu tau siapa aku?" tanya Se Se dengan suara pelan.


"Apa yang kau tanyakan? Tentu saja aku mengingat istriku!" jawab Raja Wei dengan perasaan yang semakin heran. "Kenapa mereka menatap ku seperti ini? Apa yang telah aku lupakan?" benak Raja Wei.


"Xuan, kamu sudah mendapatkan kembali ingatanmu?" tanya Se Se memastikan.


Raja Wei mengerutkan alisnya, dia lalu bertanya, "Apa maksudnya? Apakah terjadi sesuatu pada ingatanku?"


"Hahhh...!" Se Se menghela napas, dia akhirnya menceritakan kembali peristiwa yang sudah terjadi. Tentunya tidak dengan kejadian saat Raja Wei memaksanya melakukan hubungan.


"Ternyata begitu!" benak para Pasukan Elang.

__ADS_1


"Ayo kembali ke kamar, ada sesuatu yang harus aku lakukan!" ujak Se Se.


Raja Wei menurut, dia berdiri lalu menggandeng tangan istrinya. Mereka lalu berjalan bersama menuju ke kamar utama. Sesampainya di kamar, Se Se meminta Raja Wei untuk membuka pakaian.


"Apa? Pakaian??" tanya Raja Wei yang merasa sedikit terkejut. Tidak biasanya Se Se meminta dia untuk melepaskan pakaian. Malah biasa Raja Wei yang melepas semua pakaian istrinya.


"Iya, buka semua pakaianmu!" Se Se mengulangi ucapannya.


Raja Wei salah paham terhadap niat istrinya, dia mendekat lalu bertanya dengan wajah yang sangat dekat. "Kamu menginginkan..."


"Plokkk!"


Se Se memukul kepala Raja Wei sebelum suaminya itu menyelesaikan kalimat yang ingin diucapkan.


"Jangan berpikir macam-macam! Aku hanya akan melakukan percobaan untuk mengeluarkan racun yang mengendap di tubuhmu!" ucap Se Se dengan perasaan kesal karena Raja Wei selalu memikirkan keinginan untuk bercinta setiap saat.


Mendengar kata-kata istrinya, Raja Wei hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Dia lalu berpikir dalam hati, "Kenapa aku selalu bergairah setiap kali dia di dekatku? Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diri!"


Melihat Raja Wei yang masih berdiri diam tanpa melakukan permintaannya, Se Se mendekat lalu memanggilnya dengan suara keras.


"Xuan!!!"


"Ya, i...iya! Aku akan melepaskan semua pakaianku sekarang!" ucap Raja Wei gugup karena terkejut dengan suara keras Se Se.


Se Se tersenyum senang melihat Raja Wei yang bertingkah imut, namun senyum itu langsung menghilang begitu Raja Wei melihat ke arahnya.


"Aku sudah melepas semuanya!" ucap Raja Wei dengan wajah yang memerah karena malu. Baru kali ini dia melepas semua pakaiannya di depan Se Se tanpa melakukan kegiatan panas di atas ranjang.


Bukan hanya Raja Wei yang merasa malu, wajah Se Se juga bersemu merah begitu melihat tubuh polos suaminya. Namun dia tetap bersikap tenang, seolah tubuh pria di depannya sama sekali tidak membuatnya tertarik.


"Berbaringlah di atas ranjang!" pinta Se Se sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Raja Wei menurut, dia berbaring terlentang, menampakan seluruh tubuhnya yang penuh bekas luka hingga ke ujung telapak kaki.


"Dasar mesum!" gumam Se Se seketika, saat menatap junior yang terlihat hendak menyapa dirinya.


^^^BERSAMBUNG...^^^

__ADS_1


__ADS_2