The Princess Story

The Princess Story
Kota Xi An


__ADS_3

Melihat gadis itu hanyut dalam pikirannya, Raja Wei berkata, "Jika Nona tidak bersedia mengatakannya, saya tidak akan bertanya lagi. Hari sudah larut, saya akan mengantarkan Nona. Setidaknya, biarkan saya mengantar Nona sampai ke jalan utama. Jalan disekitar sini tidak aman dilalui seorang gadis sendirian."


Nona itu mengangguk dan mengikuti Raja Wei melangkah ke kereta kuda. Di dalam kereta mereka diam saja, membuat suasana menjadi canggung.


Raja Wei melirik gadis disampingnya. Gadis itu memiliki bulu mata yang panjang, hidung mancung dan kulit wajah yang seputih salju. Bibir mungil merah gadis itu membuat orang ingin mencicipinya.


Tidak lama kereta sudah sampai di jalan utama. Raja Wei turun dan mengulurkan lengannya untuk membantu gadis itu turun. Sang gadis kemudian turun dengan memegang lengan Raja Wei.


"Terima kasih Yang Mulia sudah mengantar saya." ucap Se Se.


"Aku harap kita akan bertemu lagi nanti" ucap Raja Wei.


Raja Wei masuk ke dalam kereta kuda dan menyuruh kusirnya untuk melajukan kereta. Dia melirik Nona itu dari balik tirainya yang diterpa angin malam.


...HARI BERIKUTNYA...


ISTANA MATAHARI


"Yang Mulia Kaisar tiba...." jerit seorang kasim.


Putra Mahkota meletakkan buku yang sedang dibacanya dan berdiri memberi salam kepada Kaisar dengan sedikit menundukkan kepala. "Saya memberi hormat pada ayah Kaisar."


"Putraku, apakah kamu sudah memikirkan masalah pertunanganmu dengan Nona keluarga Duan?" tanya Kaisar sambil duduk di sebuah kursi.


"Maaf ayah Kaisar, saya tidak ingin bertunangan dengan gadis itu." tegas Putra Mahkota.


"Ayah Kaisar tau kamu tidak ingin menjadi batu loncatan untuk keluarga Duan, tapi tidak ada keluarga lain yang lebih cocok menduduki posisi Putri Mahkota." jelas Kaisar pada anaknya.


"Ayah Kaisar... Jika saya harus bertunangan dengan Nona dari keluarga Duan karena posisi Putra Mahkota, saya minta ayah Kaisar mencabut gelar ini. Saya tidak menginginkannya." tegas Putra Mahkota lagi.


"Han Ze Xing!! Apa kamu sudah gila? Ayah Kaisar mempertahankan posisimu ini dengan susah payah, dan sekarang kamu tidak menginginkan posisi ini hanya karena menolak bertunangan dengan seorang wanita?" bentak Kaisar yang marah.


"Saya minta maaf telah mengecewakan Ayah Kaisar. Tapi saya ingin hidup dengan wanita yang saya cintai. Tolong Ayah Kaisar mengizinkannya." ucap Putra Mahkota sambil menunduk.


"Ze Xing, mulai sekarang kamu dilarang keluar dari istana ini. Renungkanlah kesalahanmu dan datang padaku jika kamu telah menyadari kesalahanmu itu! ucap Kaisar sambil berlalu meninggalkan Putra Mahkota.

__ADS_1


Raja Wei keluar dari bilik sebuah pembatas kamar. Dia tersenyum dan berkata "Keponakan ku ternyata sudah dewasa!"


"Hahhh...." Putra Mahkota menghela nafas panjang dan berjalan ke arah Raja Wei. Dia memeluk pamannya itu dan berbisik, "Paman, bolehkah aku melempar beban berat ini padamu?"


Raja Wei melepaskan pelukan dari Putra Mahkota, dia mundur selangkah dan menjawab, "Paman mu ini telah hidup selama 28 tahun dan belum menikah, sekarang keponakan ku ingin melempar gunung besar ke pundak kecilku. Malang sekali nasib Raja ini. Ck Ck Ck..."


Mereka saling memandang dan tertawa bersama. "HaHaHaHa...."


Raja Wei menghentikan tawanya dan bertanya, "Ze Xing, apakah kamu sedang menyukai seorang gadis?"


Putra Mahkota tersenyum dan menjawab, "Saya tidak tau apa itu cinta dan bagaimana rasanya. Jadi saya tidak tau apakah saya sedang mencintai seseorang atau tidak.


"Jika kamu tidak tau apa itu cinta, kenapa kamu menolak menikahi Nona Duan?" tanya Raja Wei.


"Saya hanya tidak mau menambah kekuasaan Ratu. Dia bukan seseorang yang bisa dianggap remeh. Jika kekuasaannya bertambah besar, hidup Paman tidak akan lagi sesantai saat ini." jawab Putra Mahkota sambil menatap Raja Wei.


"Sepertinya Ze Xing ku benar benar sudah dewasa." ucap Raja Wei sambil mengelus kepala Putra Mahkota.


"PAMAN!! Sudah kukatakan berkali-kali jangan mengelus kepalaku. Aku bukan anak kecil lagi. Ck... Itu sangat memalukan!" keluh Putra Mahkota kesal dan sang Paman hanya tertawa melihatnya.


KEDIAMAN HUANG


"Ling er, diluar sana sangat berisik. Pergilah cari tau apa yang terjadi." perintah Se Se.


"Baik Nona."


Ling er berjalan ke aula utama dan mengintip dari balik pintu.


"Nyo...nyonya..." ucap seorang pria tersengal-sengal.


"Ada kabar apa? cepat katakan." tanya Nyonya Xin kesal.


"Nyo...Nyonya... Tuan Besar diserang oleh pembunuh di kota Xi An. Tuan Muda sedang menuju kesana karena kabarnya Tuan Besar mengalami luka parah." ucap pengawal itu.


"APA!!!" jerit Nyonya Xin terkejut.

__ADS_1


Ling er segera berlari untuk menyampaikan kabar itu. Se Se sangat khawatir mendengarnya. Dia mengemas beberapa pakaian dan meminta Ling er membawa seekor kuda dari kandang.


"Nona, Nona mau kemana?" tanya Ling er bingung.


"Aku harus pergi melihat keadaan ayah. Tolong jaga anak-anak selama aku pergi." ucap Se Se.


"Nona, Nona tidak boleh pergi, disana sangat berbahaya." cegah Ling er.


"Aku akan menyelamatkan Ayahku. Aku akan kembali bersama Ayah dan Kakak. Kumohon jangan menghalangi ku!" ucap Se Se tegas.


Ling er menyerah dan berjalan ke kandang kuda. Dia menuntun seekor kuda ke halaman dan menyerahkan kuda itu kepada Se Se.


"Berhati-hatilah Nona. Saya akan mendoakan Nona disini" ucap Ling er dengan mata berkaca-kaca.


"Terima kasih" ucap Se Se yang kemudian naik ke punggung dan memacu kudanya.


Sementara itu Nyonya Xin sedang berpikir apa yang akan dilakukannya jika Tuan Besar dirumah itu meninggal. Kedua putrinya gelisah dan cemas dengan nasib mereka.


"Apakah ayah akan meninggal?" tanya Lin Wan.


"Tutuplah mulut sialmu itu! maki Min Wan.


"Jika ayah meninggal, bagaimana nasib kita nanti?" tanya Lin Wan lagi.


"Kakak akan mengusir kita dari sini jika ayah meninggal. Jadi tutuplah mulutmu itu dan berdoalah agar ayah segera kembali dengan selamat! ucap Min Wan kesal dengan adiknya.


Se Se memacu kuda nya dengan cepat. Dia melewati jalan hutan agar lebih cepat tiba di kota Xi An. Kudanya terus berlari tanpa beristirahat. Akhirnya dia sampai dikota itu saat tengah malam.


Dia turun dari kudanya dan berjalan menuntun kudanya mencari kediaman tempat ayahnya tinggal. Karena baru pertama kali ke kota Xi An, Se Se tidak tau jalanan disana.


Se Se melihat seorang pria paruh baya melewati jalan itu, dia memangil dan bertanya, "Permisi Tuan, apakah Tuan tau dimana letak kediaman Tjia?"


"Nona terus saja jalan hingga ujung lorong ini, Nona akan keluar ke jalan besar. Kediaman Tjia berada di sebelah kanan jalan besar." ucap pria itu menjelaskan.


"Terima kasih Tuan." ucap Se Se lalu berjalan menuntun kuda nya yang sudah lelah.

__ADS_1


Se Se berjalan menyusuri lorong itu, dia melihat banyak pengemis yang tidur dilantai tanpa alas dan selimut. Hatinya merasa iba melihat pemandangan didepannya.


"Aku harus segera menemui ayah, tidak boleh berlama-lama disini." batinnya.


__ADS_2