
Raja Wei menatap Se Se dengan mata dinginnya, dia merasa kesal mendengar tawa gadis itu saat melihat Yu.
"Apa aku terlihat seperti mimpimu?" tanya Raja Wei.
Yu melepaskan pelukannya dan segera berlutut. "Ma..maafkan hamba, Yang Mulia!"
"Kenapa Anda bisa ada di sini?" tanya Raja Wei berbalik menatap gadis itu dengan pandangan tidak senang.
"Kalau bukan karena Yu, saya tidak akan pernah kemari!" jawab gadis itu kesal.
Se Se melangkah keluar dengan langkah lebar, dia sangat marah dengan pria itu.
"Kenapa kau membawanya kemari? tanya Raja Wei pada Yu.
"Hamba tidak punya pilihan lain, saat itu tidak ada dokter istana yang bersedia datang kemari." jawab Yu yang masih berlutut.
"Apa gadis itu yang menyembuhkan penyakitku?" tanya Raja Wei.
"Benar Yang Mulia, Nona Flo yang telah merawat anda semalaman." jawab Yu sambil mengangguk.
"Pergi dan temukan dia! Bawa dia kembali." perintah Raja Wei.
“Baik, Yang Mulia.” Yu segera keluar dan mencari Se Se.
Se Se berjalan ke arah sungai yang telah mengering. Dia melihat sungai yang mengering itu dipenuhi oleh lapisan tipis getah yang sudah mengering.
“Kenapa ada getah di sungai?" batinnya.
Gadis itu turun ke dasar sungai dan mengeluarkan sarung tangan dari ruang dimensi.
Dia mengambil getah yang ada di sana dan memasukkan getah itu ke dalam sebuah toples kaca.
“Getah apa ini? Aneh sekali!” batinnya.
__ADS_1
“Nona...!!!” terdengar teriakan Yu dari atas sungai
“Yu, aku disini.” Jawab Se Se dengan melambaikan tangannya ke atas.
“Nona, kenapa nona turun ke sana?” tanya Yu bingung.
“Aku hanya melihat pemandangan saja.” Jawab Se Se ngarang.
“Hahh? melihat pemandangan?” gumam Yu, tak mengerti.
“Pemandangan apa yang bisa dilihat di tempat tandus ini?” batin Yu.
Se Se memanjat naik dari dasar sungai, kemudian dia kembali ke kediaman Wali Kota bersama Yu.
Raja Wei menunggu mereka di halaman depan kamarnya. Mereka berjalan mendekat ke meja yang ada di samping Raja Wei.
"Lihatlah ini!" ucap Se Se sambil menyerahkan botol berisi getah kering.
"Apa itu?" tanya Raja Wei.
"Aku menemukannya di dasar sungai." ucap Se Se sambil mengamati getah yang tersisa di sarung tangannya.
"Lalu?" tanya Raja Wei dengan wajah datarnya.
"Pria ini benar-benar menyebalkan, bisa-bisanya aku mencemaskannya semalam! Huhh..." batin sang gadis.
"Nona Flo, bagaimana cara anda menyembuhkan penyakit saya?" tanya Raja Wei dengan wajah serius.
"Wah, mati aku! Apa yang harus ku katakan?" batin Se Se
"Saya tidak tau, saya tidak melakukan apa-apa." jawab Se Se yang menoleh ke arah lain.
Raja Wei tau gadis itu sedang berbohong, dia berdiri dari duduknya dan mendekat ke gadis itu.
Raut muka Raja Wei tampak kesal dan marah. Dia mengarahkan wajahnya ke depan wajah gadis itu, kemudian bertanya, "Anda, tidak tau?"
Se Se menahan dada Raja Wei dengan kedua tangannya agar tidak semakin dekat dengan tubuhnya.
Gadis itu kemudian berkata, "Walaupun saya tau, Anda juga tidak bisa memaksa saya untuk memberitahukannya kepada Anda, Yang Mulia!"
Raja Wei makin kesal, dia berkata dalam hati, "Jika bukan karena aku berhutang budi padamu, maka saat ini kamu sudah berada di penjara."
"Yu, buat gadis ini mengatakan bagaimana cara menyembuhkan penyakit itu!" perintah Raja Wei.
Dia sudah tidak sanggup menahan amarahnya lebih lama lagi. Gadis itu selalu bersikap tidak sopan padanya. Dia memilih untuk menyerahkan hal itu pada Yu.
"Nona Flo, banyak orang sedang menderita karena penyakit ini. Hamba tau Nona pasti tidak akan tega melihat mereka menderita. Tolong beritahu bagaimana cara mengobati penyakit itu." ucap Yu dengan menundukkan kepalanya.
"Ck... orang-orang ini! Aku akan mati jika aku menyelamatkan mereka semua dengan darahku!" batin Se Se.
"Maaf, tapi saya tidak bisa menyelamatkan mereka semua!" ucap Se Se dengan nada rendah.
"Brakkk!!"
__ADS_1
Raja Wei memukul meja di sampingnya. Meja itu hancur seketika.
"Apa Anda tidak merasa kasihan pada mereka? Apa Anda tidak punya hati nurani?" bentak Raja Wei.
Mata Raja Wei memerah, sepertinya dia akan langsung membunuh gadis itu jika gadis itu bukan penyelamat nyawanya.
"Tentu saja aku punya hati nurani, tapi apa gunanya hati itu? Untuk apa aku menyelamatkan orang-orang itu dengan mempertaruhkan nyawaku?
"Mungkin saja salah satu dari mereka akan mengambil nyawaku suatu hari nanti. Sama seperti orang itu." batin Se Se
"Benar, saya tidak memiliki hati nurani. Jadi sebaiknya Yang Mulia mencari orang lain untuk mengobati penyakit mereka! ucap Se Se.
Gadis itu sedang menahan air matanya. Kejadian di masa lalu, terus menghantuinya. Dia berjalan ke kandang kuda dan mengeluarkan seekor kuda.
"Nona Flo!" bentak Raja Wei.
Raja Wei tidak habis pikir dengan gadis ini. Kenapa dia tidak mau menolong orang-orang yang sedang sakit di saat dia bisa menyelamatkannya.
"Apa yang dipikirkan gadis ini? Kenapa dia tidak memiliki rasa kasihan pada orang-orang yang menderita?" batin Raja Wei.
Yu menghentikan kuda Se Se dengan berdiri di depan kuda itu.
"Menyingkirlah, anda akan terluka parah jika ditendang oleh kuda ini! ucap Se Se kesal.
Raja Wei menarik gadis itu turun dari kudanya. Gadis itu terkejut dengan gerakan tiba-tiba dari Raja Wei.
"Apa yang Anda lakukan?" bentak Se Se dengan suara tinggi.
"Anda tidak boleh pergi dari sini sebelum mengatakan cara untuk menyembuhkan penyakit itu!" ucap Raja Wei.
Raja Wei sangat serius dengan perkataannya. Dia tidak akan membiarkan gadis itu pergi tanpa mengatakannya.
"Memohonlah padaku! Akan aku pertimbangkan jika Anda memohon dengan tulus!" ucap Se Se dengan nada menyepelekan.
Raja Wei makin emosi. Dia mendorong tubuh gadis itu dan menarik pedangnya.
"Aku sudah memberi Anda kesempatan. Tapi, sepertinya Anda memang benar-benar tidak tau diri!" ucap Raja Wei sambil mengarahkan pedang ke leher gadis itu.
"Kalian semua memang sama saja!" batin Se Se.
"Apa Anda tidak mengerti arti memohon? atau cara Raja Wei memohon memang seperti ini?" ucap Se Se kesal dengan perlakuan pria itu.
"Kenapa Anda sulit sekali mengatakan cara untuk menyembuhkan orang-orang itu? Apa yang Anda inginkan? Bagaimana supaya Anda mau mengatakan caranya? tanya Raja Wei yang mengerutkan alisnya.
"....."
Gadis itu hanya diam tak menjawab. Dia sangat lelah. Lelah telah menempuh perjalan jauh, lelah telah merawat pria itu semalaman, dan sekarang dia lelah melakukan perlawanan terhadap pria itu.
"Aku benar-benar sangat lelah!" gumamnya dengan suara berbisik.
Yu kasihan melihat gadis itu. Dia yang sudah membawanya kemari dan gadis itu sudah menyelamatkan nyawa Raja Wei. Tapi saat ini Raja Wei sedang murka. Yu tidak berani menambah amarahnya.
"Apa benar Anda menginginkannya? Anda ingin saya menolong mereka?" tanya Se Se sambil menatap mata Raja Wei.
"Jika saat ini aku adalah Putri Huang, apakah kamu tetap akan memaksaku melakukannya?" batin Se Se.
"Ya, setidaknya beritahu cara untuk menyembuhkan penyakit itu!" jawab Raja Wei.
"Bagaimana jika saya bilang obat itu adalah nyawa saya? Apakah Yang Mulia akan tetap memilih untuk menyelamatkan mereka?" tanya Se Se menahan air matanya.
"Tolong! jangan menjawab 'ya'. Aku tidak akan memafkanmu jika kamu memilih orang-orang itu!" batin Se Se.
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1