
"Tahanlah sebentar, aku akan membersihkan lukamu!" ucap Se Se pada Yu.
Yu merasa panik, dia berdiri dari duduknya dan segera berlutut.
"Permaisuri, anda tidak boleh melakukan itu. Hamba yang rendahan ini tidak pantas disentuh oleh tangan berharga anda." ucap Yu dengan nada gelisah.
"Duduk!" perintah Se Se.
" ... "
Yu tidak menjawab, dia masih berlutut dan menundukkan kepalanya. Se Se merasa kesal karena Yu mengabaikan perintahnya.
"Duduk!" bentak Se Se dengan suara keras.
Yu terlihat tambah panik, dia merasa serba salah. Ling Er memahami perasaannya karena dulu dia juga seperti itu. Ling Er berjalan mendekat, dia membantu Yu berdiri dan menuntunnya duduk di kursi.
"Dengarkan saja perintah Nona, beliau tidak pernah membedakan status." ucap Ling Er dengan sedikit berbisik.
Se Se mulai membersihkan luka-luka itu, Yu merasa perih karena lukanya tersentuh kain basah. Wajahnya berkerut memperlihatkan rasa sakitnya.
"Fuhhh....!"
Se Se meniup pelan luka itu. Yu terkejut melihat perlakuan gadis itu padanya, namun dia diam saja karena lukanya terasa lebih nyaman saat terkena hembusan angin.
"Permaisuri benar-benar orang yang baik hati. Mirip dengan nona itu." batin Yu.
Selesai membersihkan, Se Se mengambil obat dari balik lengannya dan menyemprotkan obat itu ke luka Yu dengan hati-hati.
Obat itu berbentuk cairan di dalam botol plastik. Cara pakainya hanya di semprot di luka. Itu adalah obat pereda nyeri yang beredar luas di kalangan masyarakat. Tentunya pada jaman modern, di jaman kuno ini belum ada obat praktis seperti itu.
Se Se mengoleskan obat pada luka Yu, dia menutup luka-lukanya dengan perban panjang yang dibalutkan ke seluruh tubuhnya.
Raja Wei pulang dari misinya membeli tanghulu. Dia melihat Permaisurinya sedang memeluk Yu. Hatinya terasa panas seperti terbakar api neraka.
"Apa yang kalian lakukan?" bentak Raja Wei sambil berlari mendekati mereka.
Se Se berbalik melihat ke arah Raja Wei, pemuda itu segera menarik lengannya untuk menjauh dari Yu. Ling Er dan Yu terlihat panik, mereka segera berlutut dan menundukkan kepala.
"Apa yang kau lakukan dengan Yu?" tanya Raja Wei dengan suara menahan amarah.
"Saya hanya mengobati lukanya." jawab Se Se dengan wajah polos.
Raja Wei melihat ke tubuh Yu yang terbalut perban, kini dia menyadari bahwa penglihatannya tadi adalah kesalahan sudut pandang saja.
Karena melihat dari belakang punggung Se Se, dia merasa gadis itu sedang memeluk Yu. Padahal gadis itu hanya melilitkan perban ke tubuh Yu. Wajah Raja Wei memerah saat sadar dia hanya salah paham.
"Hahahaa..."
__ADS_1
Se Se tertawa terbahak-bahak saat menyadari apa yang sedang dipikirkan suaminya. Melihat Raja Wei salah tingkah, Se Se bertanya, "Apa anda sedang cemburu suamiku?"
Wajah Raja Wei memerah dan terlihat malu-malu, dia tidak menjawab pertanyaan istrinya.
"Mulai sekarang kamu tidak diizinkan mengobati pria lain!" ucap Raja Wei dengan nada dominannya.
Se Se menahan tawanya yang sulit dihentikan. Dia melihat ke arah Ling Er dan Yu yang masih berlutut.
"Kalian berdua pergilah!" perintah Se Se pada Yu dan Ling Er.
Se Se menatap Raja Wei, dia bertanya sambil mengulurkan tangannya.
"Mana tanghulu ku?"
Raja Wei baru ingat, saat dia berlari tadi tanghulunya sudah dia jatuhkan ke tanah. Dia menatap ke arah tanghulu yang ada di atas tanah kemudian menunjuk dengan jarinya.
"Maaf, tanghulu itu terjatuh." jawab Raja Wei dengan nada bersalah.
"Hufff..."
Se Se menghela napasnya dan berkata, "Ck... sayang sekali makanan manisku terbuang gara-gara seseorang yang berpikiran dangkal."
"Aku akan pergi membelinya lagi." ucap Raja Wei sambil melangkahkan kakinya.
Se Se menarik lengan bajunya dan berkata, "Tidak perlu, saya sudah tidak ingin makan tanghulu."
Se Se tersenyum nakal dan mendekatkan bibirnya ke telinga Raja Wei.
"Saya hanya ingin pelukan dari suami." bisik Se Se sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Raja Wei.
Raja Wei mengangkat gadis kecil itu dan membawanya ke kamar. Raja Wei membaringkan Se Se, dia duduk di tepi tempat tidur sambil mengenggam telapak tangannya.
"Suamiku, apa aku boleh melihat wajahmu?" tanya Se Se dengan wajah berharap.
"Tidak, saat ini belum boleh." jawab Raja Wei.
"Apakah wajah suamiku sangat jelek?" tanya Se Se dengan suara manjanya.
"Tidak, suamimu sangat tampan." jawab Raja Wei dengan mengelus wajah Se Se.
"Jika suamiku tampan, kenapa dia tidak membiarkanku melihat wajahnya?" tanya Se Se dengan wajah penasaran.
"Karena wajah tampan suamimu akan membuatmu lupa segalanya." jawab Raja Wei dengan wajah tersenyum.
"Huff.."
Se Se menghela napas karena merasa sia-sia saja dia berharap.
__ADS_1
"Baiklah, saya tidak akan melihat wajah suami tampan itu. Saya sangat lelah, saya mau tidur sekarang." ucap Se Se sambil membalikkan tubuhnya menghadap dinding
Raja Wei berbaring di sebelah permaisurinya, dia memeluk pinggang gadis itu dari belakang. Napasnya terasa hangat saat menyentuh kulit di belakang leher gadis itu. Se Se merinding geli dan meliukkan tubuhnya.
"Jangan nakal!" ucap Se Se dengan nada kesal.
Raja Wei menyelipkan tangannya ke dalam pakaian gadis itu, dia menyentuh lembut dan mengelus-ngelus perutnya.
"Cepatlah besar, aku akan membuka topeng di wajahku saat bayi kecil ini lahir." ucap Raja Wei kemudian mengecup belakang leher permaisurinya.
"Itu terlalu lama." jawab Se Se.
"Sabarlah menunggu." bujuk Raja Wei.
" ... "
"zZzZz..."
Se Se tertidur lelap setelah beberapa menit, Raja Wei perlahan keluar dari kamar agar tidak membangunkan istrinya.
Dia menuju ruang kerja, Yu sudah menunggu di sana.
"Yang Mulia, hamba telah menemukan pelakunya." ucap Yu.
"Siapa?" tanya Raja Wei.
"Pangeran 5!" jawab Yu.
"Han Ze Liang, sepertinya dia sudah bosan hidup." ucap Raja Wei dengan mata membara.
"Perintahkan beberapa orang untuk memberinya pelajaran. Patahkan kaki dan tangannya." perintah Raja Wei.
"Baik Yang Mulia." jawab Yu.
Yu menyuruh beberapa Pasukan Elang menyamar sebagai tamu di Gujibi. Gujibi adalah tempat pelacuran yang paling terkenal di kota itu, Han Ze Liang setiap hari mengunjungi tempat itu.
Pasukan Elang menunggunya di sana, mereka memukulinya hingga babak belur. Tulang kaki dan tangannya mereka patahkan, seperti yang di perintahkan oleh Raja Wei.
********
Raja Wei mendapat perintah dari Kaisar untuk pergi ke kota Chang An, kota itu menjadi sarang bandit.
Penduduk Chang An kesulitan karena bandit-bandit meminta pajak liar dari pedagang kecil, sedangkan pejabat di kota itu tidak melakukan apapun karena takut pada mereka.
Raja Wei memberitahukan hal ini kepada Se Se, dia merasa bersalah karena harus meninggalkan permaisuri sendirian.
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1