The Princess Story

The Princess Story
Kucing dan Tikus


__ADS_3

"Me--mereka semua sudah mati. Gadis-gadis yang sudah pernah dibeli, akan kembali ke sini dan menjadi mayat pada malam harinya. Mereka akan diberi racun oleh kedua orang itu." jawab seorang gadis.


"Apakah mereka diperjual-belikan sebagai budak pemuas nafsu?" batin Se Se.


"Saya akan menyelidiki kasus ini. Nona Flo sebaiknya kembali ke Ibu Kota, bawalah beberapa pengawal untuk melindungi Nona di jalan!" ucap Raja Wei.


"Saya akan tetap di sini dan menyelidiki masalah ini!" tegas Se Se.


"Tidak boleh! Tempat ini sangat berbahaya, besok pagi Anda harus meninggalkan tempat ini, Nona Flo!" perintah Raja Wei.


"Dasar tukang atur!" batin Se Se.


"Yang Mulia, apa Anda sedang mengkhawatirkan saya?" tanya Se Se dengan suara centilnya.


"Anda terlalu meninggikan diri sendiri, Nona!" jawab Raja Wei dengan wajah dinginnya.


Se Se dan Yu tersenyum geli melihat pemuda itu. Sudah jelas merasa khawatir, masih juga menyangkal.


********


Pagi telah tiba, pengawal di perintahkan untuk memulangkan gadis-gadis itu kepada keluarga mereka.


Raja Wei memulai penyelidikan dari kota Anyang. Yu menemani Raja Wei seperti biasanya. Mereka berkumpul di kediaman keluarga Zhao.


Kepala Keluarga Zhao bernama Zhao Ting Yi, dia adalah seorang Jenderal yang melayani Kaisar sebelumnya.


Raja Wei di sambut ramah oleh Zhao Ting Yi, mereka merupakan teman baik yang berbeda usia. Walaupun sudah berusia senja, Zhao Ting Yi masih berjiwa muda seperti Raja Wei.


Setelah selesai dengan acara sambutan, Raja Wei, Se Se dan Yu berkumpul di kamar yang disiapkan oleh Zhou Ting Yi untuk Raja Wei.


"Nona Flo, saya akan mengantar Anda kembali ke Ibu Kota Louyang." ucap Yu.


"Tidak perlu, saya akan tetap di sini sampai masalah itu selesai." tegas Se Se.


"Yang Mulia tidak akan mengizinkannya Nona Flo." ucap Yu.


Raja Wei mendengarkan percakapan mereka dari balik pintu. Pemuda itu membuka pintu dengan kasar dan membentak gadis yang selalu melawannya itu.


"Brakkk!"


"Nona Flo! Apa Anda tidak mengerti bahasa manusia? Di sini sangat berbahaya dan akan merepotkan jika saya harus melindungi Anda seharian!" ucap Raja Wei dengan suara menggema.

__ADS_1


"Pria bodoh ini! Jelas-jelas mengkhawatirkan'ku, tapi mulutnya selalu mengeluarkan kata-kata kasar." batin Se Se.


"Raja Wei yang terhormat, saya tidak perlu perlindungan anda karena saya bisa menjaga diri saya dengan baik. Dan ada beberapa hal yang harus saya sampaikan kepada Anda!" ucap Se Se dengan wajah serius.


"Tidak ada hal penting yang bisa Anda sampaikan Nona Flo. Saya tidak ingin mendengarnya!" jawab Raja Wei.


Habis sudah kesabaran sang gadis. Dia berjalan dengan langkah besar ke arah pria itu, kemudian mencengkram dan menarik leher bajunya dengan kedua tangan hingga wajah mereka hampir menempel.


Yu melihat Nona itu dengan mulut menganga tak percaya. Dalam hatinya dia berpikir, "Bagaimana bisa Nona ini begitu berani pada Yang Mulia? Tangannya akan terpisah dari tubuhnya nya jika Yang Mulia mengamuk."


"Baru kali ini ada orang yang berani bersikap seperti ini padaku! Gadis ini benar-benar tidak tau aturan!" batin Raja Wei.


Gadis itu menatapnya dengan mata mendelik dan kemudian berkata dengan nada kesal, "Hey stupid! Dengarkan aku sekarang! Pertama, masalah wabah penyakit itu tidak seperti yang kalian pikirkan. Wabah itu bukanlah penyakit tapi racun!


"Yang kedua, masalah batu yang menjadi benteng di sungai. Batu-batu bersusun itu jelas direncanakan oleh seseorang.


"Yang ketiga, pembunuh yang masuk ke kamarku saat di kediaman Long Jing Di. Mereka bukan mengincar nyawaku, tapi nyawa Anda!"


"Stupid? apa itu?" tanya Raja Wei kebingungan.


"Akhhhhh...!!! Sepertinya aku akan gila!" batin Se Se yang semakin kesal, kemudian dia bertanya, "Yang Mulia!!! Apa itu penting sekarang? Kenapa Anda tidak mendengarkan hal penting dan malah bertanya hal yang tidak penting pada saat seperti ini?"


"Kenapa Anda balik bertanya? Jawablah pertanyaanku!" bentak Raja Wei yang mulai kesal karena perlakuan tidak sopan Se Se.


"Berani sekali Anda mengatai seorang Raja dengan sebutan bodoh!" ucap Raja Wei dengan mata dinginnya.


Gadis itu melepaskan cengkramannya dan berkata, "Bukankah Anda menyuruh saya menjawab pertanyaan Anda, Yang Mulia?"


"Ya, lalu?" ujar Raja Wei.


"Bodoh." kata Se Se.


"Nona Flo!!" bentak Raja Wei yang mulai habis kesabarannya.


"Hufff..."


Se Se menghela napas panjang untuk menenangkan hatinya.


"Yang Mulia... stupid itu artinya adalah bodoh." ucap Se Se dengan suara rendah. Matanya bertatapan dengan Raja Wei.


"Pfff...!" Yu menahan tawanya

__ADS_1


"Ehem... ehemmm..." Raja Wei salah tingkah karena merasa malu.


Se Se ikut tersenyum lucu karena melihat wajah Raja Wei yang memerah karena malu. Dia menahan tawanya dan berkata, "Yang Mulia, mari kita bahas hal penting terlebih dulu!"


"Nona Flo, kenapa Anda baru mengatakan hal itu sekarang?" tanya Yu.


Se Se menoleh ke arah Raja Wei kemudian menjawab, "Itu berkat seseorang yang selalu merasa dirinya benar!"


"Nona Flo, tidak bisakah Anda bersikap sopan?" ucap Raja Wei dengan wajah kesal.


"Saya hanya bersikap sopan pada orang yang sopan, Yang Mulia!" jawab Se Se seperti ingin memulai pertengkaran lagi.


Yu merasa kesulitan karena mereka berdua selalu bertengkar seperti kucing dan tikus.


"Ehem.. Ehem... Nona Flo, kenapa anda mengatakan wabah itu adalah racun?" ucap Yu mengalihkan pembicaraan.


"Saya sudah meneliti getah yang saya temukan di dasar sungai. Getah itu memiliki racun yang efeknya sama dengan ciri-ciri penyakit penderita wabah." jelas gadis itu.


"Lalu bagaimana dengan tumpukan batu?" tanya Yu.


Kali ini Raja Wei yang menjawab, "Tidak mungkin ada tumpukan batu sebanyak itu di dasar sungai, kecuali ada orang yang dengan sengaja memindahkan batu-batu itu!"


Yu manggut-manggut mendengar penjelasan Se Se dan Raja Wei. Dia kembali bertanya, "Bagaimana dengan pembunuh itu? bukankah mereka mengincar Nona Flo di kamar Anda?"


"Mereka hanya mengira bahwa kamar itu adalah kamar Yang Mulia, karena ada pengawal yang berjaga di depan kamar." ucap Se Se menjelaskan.


"Gadis ini benar-benar pintar dan cerdik, sayang sekali sifatnya sangat buruk!" batin Raja Wei.


"Siapa yang merencakan hal besar seperti ini hanya untuk membunuh Yang Mulia?" gumam Yu yang masih terdengar.


"Dengan sifat jeleknya, saya yakin banyak orang yang ingin membunuhnya!" sindir Se Se.


"Akhh... sepertinya aku mengucapkan kata-kata yang seharusnya tidak ku ucapkan" batin Yu.


Raja Wei melirik gadis itu kemudian bertanya dalam hati, "Apa aku pernah berhutang padanya di masa lalu? Kenapa gadis ini selalu membuatku marah?"


"Apa yang harus kita lakukan sekarang Yang Mulia?" tanya Yu.


"Selidiki dalang di balik penculikan ini dan orang yang membeli mereka!" jawab Raja Wei.


"Aku akan membantu kalian." ucap Se Se.

__ADS_1


"Apa yang bisa dilakukan seorang gadis sepertimu?" ucap Raja Wei meremehkan.


__ADS_2