
Li Siang baru saja siuman, saat melayani kebuasan Han Ze Liang, tiba-tiba saja dia tidak sadarkan diri karena rasa sakit yang di terima nya dari kekasaran pria itu. Han Ze Liang meninggalkan Li Siang di tempat pelacuran, dia kembali ke istana tanpa memperdulikan Li Siang yang masih terbaring di lantai.
Li Siang menangisi nasibnya yang sangat mengenaskan. Mahkota nya telah di renggut secara paksa oleh Han Ze Liang, dan sekarang harus terhina di tempat pelacuran ini.
Li Siang masih berada di kamar pelatihan untuk wanita yang baru menjadi penghibur. Dia memakai kembali pakaiannya yang telah sedikit lusuh. Wanita itu tidak sadarkan diri selama 2 jam, selama itu pula tubuhnya polos tanpa ada kain yang menutupi.
Tanpa dia sadari, dalam 2 jam itu tubuhnya telah di nikmati oleh banyak pelayan. Pelayan laki-laki yang keluar masuk di kamar pelatihan, melihat tubuh Li Siang dengan pikiran kotor.
Mereka tergoda dengan melon nya yang sangat besar dan menantang, apalagi tubuh nya kini polos tanpa busana, membuat gairah pelayan-pelayan itu bangkit begitu saja.
Satu persatu, pelayan keluar masuk ke ruangan itu dan menanamkan benih mereka di tubuh Li Siang. Mulai dari satu pelayan menjalar ke pelayan lain, mereka menyebarkan kabar ke sesama pekerja di tempat hiburan.
Pelayan pria yang memang sudah lama tidak mendapat pelampiasan tentu saja langsung menginginkan jatah mereka. Tanpa basa basi, mereka mengantri untuk memanjakan pusaka nya ke dalam tubuh Li Siang.
Li Siang kesulitan berdiri, kakinya bergetar dan seluruh tubuhnya kesakitan. Terutama di bagian bawah perutnya, darah masih mengalir dari sana, keganasan dan kekasaran Han Ze Liang serta beberapa pria pelayan membuat robekan besar di area wanita nya.
Li Siang merintih kesakitan, dia berdiri dengan menahan tubuhnya di dinding ruangan.
Seorang pelayan pria baru saja mendengar kabar tentang Li Siang, dengan cepat dia menuju ke ruangan itu dan melihat Li Siang dengan tatapan penuh nafsu.
Pelayan pria memeluk tubuh Li Siang dan merobek pakaian yang baru saja dia kenakan dengan susah payah. Pelayan itu menciumnya dengan buas, tangan nya meraba ke seluruh bagian tubuh Li Siang.
Li Siang mencoba melawan namun tenaga nya telah habis. Dia hanya bisa pasrah dan membiarkan pria itu melahap habis tubuhnya.
Sakit di tubuh Li Siang semakin menjadi-jadi, pria itu dengan kasar meremas dan memompa tubuhnya berkali-kali. Setelah puas menyalurkan gairahnya, pelayan itu pergi meninggalkan Li Siang yang telah pingsan dalam kondisi tanpa busana.
Seorang wanita penghibur melihatnya dengan tatapan iba, wanita itu dulunya di jual ke tempat hiburan untuk melunasi utang ayahnya yang seorang penjudi.
Ai Ling, nama wanita itu. Ai Ling memapah Li Siang ke kamarnya dan menutup tubuhnya dengan selimut. Dia meninggalkan Li Siang di kamar itu kemudian kembali bekerja.
Malam hari nya Li Siang terbangun, dia melihat sekeliling ruangan kamar. "Tempat apa ini?" ucap Li Siang.
Ai Ling masuk ke kamar dengan membawa makanan, dia meletakkan makanan itu di meja.
"Kamu pasti lapar, makanlah sedikit." ucap Ai Ling.
Li Siang perlahan berdiri, selimutnya terjatuh. Dia terkejut melihat tubuhnya penuh bekas merah dari pria-pria yang telah menodai nya. Li Siang menjadi panik dan histeris.
Ai Ling memeluknya dan berusaha menenangkan Li Siang. "Tenangkan dirimu! Nasi sudah menjadi bubur, kamu harus tetap hidup untuk membalaskan dendam mu."
"Benar, aku masih belum membunuh wanita jalang itu, aku masih belum membunuh Han Ze Liang bajingan itu. Aku tidak boleh berhenti hanya karena hal ini." benak Li siang.
Ai Ling memberikan satu set pakaian untuk Li Siang. "Pakailah baju ini."
__ADS_1
Li Siang mengambil dan memakai baju itu, dia duduk di meja makan. Ai Ling membujuknya untuk makan lebih banyak agar cepat pulih.
Li Siang kembali ke istana setelah hari mulai terang, dia kembali ke kamarnya dan membersihkan tubuhnya yang penuh bekas gigitan dan ciuman dari para pria hidung belang.
Bukan sedih atau kecewa, kini wajah wanita itu dipenuhi kebencian dan dendam. Rasa sakit hati telah membuat wanita itu dipenuhi amarah yang membara.
Lima hari lagi akan di adakan perjamuan untuk merayakan hari ulang tahun Han Ze Xing. Li Siang berniat untuk membunuh Permaisuri dan Han Ze Liang bersamaan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Se Se mengidam buah mangga yang asam, dia meminta Raja Wei untuk mencari nya. Namun di jaman ini, belum ada yang namanya buah mangga. Tentu saja Raja Wei kebingungan.
Ling Er dan Yu tertawa melihat wajah Raja Wei yang berkerut memikirkan buah mangga.
"Permaisuri ku, bolehkah aku membeli buah lain untuk mu?" tanya Raja Wei dengan suara manja.
"Tidak, aku hanya mau buah mangga yang asam. Xuan harus mencari nya!" ucap Se Se dengan nada kesal.
Raja Wei menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, dia tidak tahu apa yang harus di lakukan untuk memenuhi keinginan aneh istrinya.
"Permaisuri ku, aku sudah meminta pelayan berkeliling mencari buah yang kamu lukis ini. Tapi tidak ada satu pun orang yang tahu tentang buah ini." ucap Raja Wei dengan wajah memelas.
"Kalau begitu belikan buah persik yang asam untuk ku!" perintah Se Se.
Raja Wei tersenyum nakal, dia mendekat dan berbisik ke telinga Se Se. "Istri ku, di sini sudah ada dua buah persik..."
Se Se tidak mengerti apa maksud ucapan Raja Wei. Dia bertanya dengan wajah serius, "Di mana?"
"Raja Wei kembali berbisik, "Di sini!" sambil menyentuh ringan buah persik Se Se dengan kedua tangan nya.
Yu dan Ling Er segera berbalik ke belakang, wajah mereka terlihat merah karena merasa malu melihat kenakalan Raja Wei di depan umum.
Se Se yang juga merasa malu, menjitak kepala Raja Wei, dengan nada kesal dia berkata, "Dasar mesum!"
Raja Wei menggendong istrinya ke kamar, dia meminta jatahnya di pagi hari. Se Se merasa kesal karena tidak mendapatkan buah asam yang dia inginkan, malah sekarang tubuhnya menjadi makanan Raja Wei yang dipenuhi gairah.
"Sayang..." panggil Raja Wei.
"Hmm?" jawab Se Se.
"Jangan hamil lagi setelah ini!" ucap Raja Wei.
"Kenapa? bukan kah seru kalau punya banyak anak?" tanya Se Se.
__ADS_1
"Permaisuri ku akan merasa kesakitan saat melahirkan. Aku tidak ingin kamu menderita lagi." jawab Raja Wei.
"Baiklah, kalau begitu Xuan tidak boleh melakukan hal ini setiap hari. Dengan begitu aku tidak akan hamil." jawab Se Se dengan wajah meledek.
"Apakah tidak ada obat untuk mencegah kehamilan yang efektif?" tanya Raja Wei dengan wajah gelisah.
"Tentu saja.... tidak ada!" jawab Se Se berbohong.
"Hufff... jadi aku harus menahan rasa lapar ku?" tanya Raja Wei dengan wajah murung.
Se Se mengangguk, "Setelah melahirkan nanti, Xuan hanya boleh melakukan ini satu kali dalam seminggu."
Raja Wei mengerutkan dahi nya dan dengan lemas berkata, "Tiga kali."
"Satu kali"
"Tiga kali."
"Satu kali."
"Baiklah dua kali."
"Setuju dua kali!"
"Kalau begitu aku akan melakukan hal ini setiap saat, mulai dari sekarang hingga istri ku melahirkan nanti." bisik Raja Wei.
"Mati aku!" batin Se Se.
^^^BERSAMBUNG...^^^
Hai teman-teman...
Beberapa akhir Episode akan menceritakan tentang kebahagiaan Raja Wei dan Se Se karena Win baca di komentar ada yang request agar hidup Se Se lebih tenang tanpa gangguan selama 2-3 Episode.
Semoga teman-teman terhibur 💕💕
Mohon dukungan nya.
Bantu Vote dan Like 👍setiap Episode.
Jangan lupa tulis komentar sebanyak-banyaknya.
Terima Kasih💖
__ADS_1