
Saat itu pula pintu kamar terbuka, Yu masuk ke sana, ia menyeret Lu Ching Cheng yang sudah setengah bugil keluar dari kamar itu. Lu Ching Cheng di bawa ke sebuah ruang bawah tanah dan dikurung disana.
Wen Yi masih gemetar ketakutan, Ti Yi yang masih berada di tempat itu dengan segera mengambil selimut kemudian menutupi tubuh Wen Yi yang sudah polos tanpa busana. Wanita itu menatap Ti Yi dengan wajah memohon. Memohon untuk diselamatkan, memohon untuk dikeluarkan dari neraka itu.
"Maaf, aku hanya seorang prajurit biasa!" ucap Ti Yi berterus terang agar Wen Yi tidak berharap padanya.
Wen Yi menangis sejadi-jadinya, menangisi nasibnya yang buruk, menangisi takdirnya yang sulit, menangisi keberuntungannya yang tidak pernah datang. Wen Yi terus menerus menangis hingga pagi pun datang.
Cu Mama memanggil Wen Yi ke ruangannya, gadis itu sangat ketakutan ketika dia diberitahu jika Cu Mama mencarinya. Dalam hati dia bertanya, "Apakah malam ini aku akan dijual lagi kepada pria lain?"
Benar saja yang Wen Yi pikirkan, seseorang membeli Wen Yi dari Cu Mama. Namun kali ini bukan untuk satu malam, tapi untuk selamanya. Surat kontrak jual diri Wen Yi kini berada di tangan Ti Yi.
Wen Yi terkejut melihat Ti Yi diruangan Cu Mama. Dia mengira Ti Yi tidak jauh berbeda dengan Lu Ching Cheng yang hanya menginginkan tubuhnya.
"Ayo pergi!" ajak Ti Yi.
Wen Yi menuruti perintah Ti Yi, dia menatap Ti Yi dengan wajah kecewa dan marah.
"Brengsek!" ucapnya saat Ti Yi berjalan di depan.
Ti Yi berbalik, dia menatap Wen Yi kemudian bertanya, "Apa? Brengsek? Siapa? Aku?"
Wen Yi mengabaikan pertanyaan dari pria itu, dia memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
Ti Yi yang tidak mengerti akhirnya hanya diam saja, dia meneruskan perjalanan mereka. Sesampainya di kediaman, Ti Yi meminta Wen Yi untuk masuk lebih dulu ke kamar karena ia masih ada pekerjaan.
Wen Yi menatap pria itu dengan tatapan kebencian. Ti Yi masih tidak mengerti kenapa Wen Yi menatapnya dengan mata yang penuh dengan amarah, namun dia tidak mempermasalahkan hal itu.
Ti Yi menemui Permaisuri, dia hendak mengucapkan terimakasih kepada wanita milik tuannya.
__ADS_1
FLASHBACK
Raja Wei masuk ke dalam kamar Lu Ching Cheng, mereka menggeledah seluruh ruangan hingga akhirnya menemukan sebuah buku transaksi gelap yang dilakukan oleh Lu Ching Cheng.
Raja Wei memerintahkan semua pasukan untuk mundur karena apa yang dia cari sudah ditemukan. Setelah semua pasukan berkumpul, Raja Wei memberi perintah kepada Yu dan Ti Yi untuk menangkap Lu Ching Cheng.
Yu bergerak berdua bersama Ti Yi, mereka ke tempat Mei Li Fang untuk membawa Lu Ching Cheng ke penjara bawah tanah. Saat itu, Ti Yi merasa kasihan kepada Wen Yi yang memohon padanya.
Ti Yi menutup pintu kamar setelah ia keluar, namun pria itu tidak langsung pergi. Dia berdiri di depan kamar dan mendengarkan tangisan Wen Yi yang membuatnya berat hati untuk meninggalkan gadis muda itu.
Ti Yi kembali ke kediaman Raja Wei dengan hati yang masih terus memikirkan Wen Yi. Ketika akan kembali ke kamar, secara tidak sengaja ia bertemu dengan Permaisuri mereka yang baik hati.
Tersirat secercah harapan di benak Ti Yi, dia memohon kepada Se Se untuk menolong gadis muda yang sudah menangis semalaman itu.
Setelah menjelaskan semuanya, Ti Yi berlutut memohon bantuan dari Se Se.
"Bangunlah Yi, aku akan membantu gadis itu." ucap Se Se.
"Bawa ini dan pergilah ke Mei Li Fang untuk membeli gadis muda itu!" ucap Se Se dengan senyuman ramah yang selalu menghiasi wajahnya.
"Terima kasih, terima kasih banyak Yang Mulia." ucap Ti Yi sambil berlutut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Yang Mulia, Ti Yi meminta untuk bertemu." ucap Ling Er.
"Biarkan dia masuk." jawab Se Se.
Ti Yi masuk ke ruangan, dia menyerahkan surat budak Wen Yi yang baru saja dia beli dari Cu Mama. "Yang Mulia, ini surat budak yang tadi saya tukar dengan uang pemberian Yang Mulia." ucap Ti Yi.
__ADS_1
"Kenapa kamu membawanya ke sini?" tanya Se Se.
"Karena ini menjadi milik Yang Mulia sekarang." jawab Ti Yi.
Se Se tersenyum, dia kemudian berkata, "Aku sudah memberikan uang itu kepada mu, jadi surat itu sekarang menjadi milikmu."
"Tapi jumlah uang itu terlalu banyak." jawab Ti Yi.
"Yi, uang itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan nyawa seorang manusia. Lagi pula, kamu adalah teman dan juga keluarga kami. Jadi jangan pernah mengatakan hal yang merendahkan dirimu. Aku dan Yang Mulia Raja Wei selalu menganggap kalian semua adalah keluarga kami." ucap Se Se.
Ti Yi merasa terharu mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Se Se, saking terharunya dia sampai menangis. Pria kekar itu menghapus air matanya dengan punggung telapak tangan. Dia kemudian berterima kasih lagi kepada Se Se karena sudah menganggap dirinya sebagai keluarga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Wen Yi duduk di dalam kamar Ti Yi sambil mengutuki pria itu. Dia masih tidak sadar jika Ti Yi membelinya agar dia bisa bebas dari Cu Mama. Penilaiannya tentang Ti Yi saat ini sangat-sangat buruk hingga rasanya dia ingin memukuli pria itu.
Ti Yi kembali ke kamarnya, dia membuka pintu kamar tanpa mengetuk karena itu memang kamar miliknya. Wen Yi terkejut mendengar suara pintu karena saat itu dia sedang tenggelam dalam pikirannya yang menhakimi Ti Yi.
"Kau... Kau mau apa?" ucap Wen Yi ketakutan, dia mundur hingga terjatuh di atas kasur.
Ti Yi menarik lengan Wen Yi yang terjatuh, gadis itu terkejut, dia menepis tangan Ti Yi. Karena tidak hati-hati, pria itu malah ikut terjatuh dan menimpa tubuh Wen Yi. Ti Yi berusaha membantunya, namun karena salah paham Wen Yi, dia merasa jika Ti Yi hendak melecehkan dirinya.
Wen Yi tiba-tiba saja menampar wajah Ti Yi yang saat ini berada di atas tubuhnya. Pria itu tentu saja terkejut dengan tamparan yang melayang di pipinya. Dia tidak menyangka akan di tampar oleh wanita yang sudah ditolong olehnya.
"Apa yang kau lakukan?" bentak Ti Yi dengan wajah marah.
Wen Yi menangis ketakutan karena bentakan pria itu, Ti Yi menjadi panik, dia tidak tau harus berbuat apa hingga akhirnya kamar itu menjadi tempat berkumpul rekan-rekannya yang mendengar tangisan Wen Yi.
"Yi, siapa wanita ini?" tanya si nomor dua yang disebut Ti Er.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^