The Princess Story

The Princess Story
Pembantaian


__ADS_3

Beberapa orang bahkan tersenyum ketika Gu Yong Ju berkata akan menjadikan Permaisuri Raja Wei sebagai mainan. Hati dan pikiran Zhun Tian seakan meledak, dia tak bisa lagi menahan semua kebencian dan amarahnya.


Pedang panjang yang selalu dia bawa kini sudah terpisah dari sarungnya. Dimulai dari Gu Yong Ju, pria itu kehilangan kepala dalam hitungan detik. Zhun Tian melompat turun dari atas langit-langit lalu dengan cepat menebas kepala Gu Yong Ju tanpa berkedip.


Para Menteri pun berteriak histeris, mereka mundur dengan wajah ketakutan.


"Hahaha!"


Zhun Tian tertawa, dia merasa lucu melihat wajah para Menteri itu. Tadi mereka masih tersenyum licik dan membuat banyak rencana untuk membunuh nyawa orang. Tapi sekarang, mereka terlihat seperti tikus yang sedang menatap kucing besar.


"Kalian manusia menjijikkan! Aku akan membunuh kalian semua agar dunia ini menjadi lebih baik!" ucap Zhun Tian.


Satu persatu, menteri itu di bantai. Ada yang di mulai dari tangan atau kaki. Sebagian besar langsung kehilangan kepala begitu Zhun Tian menatapnya. Gerakan gesit yang sudah dia pelajari sebagai seorang pembunuh tentu saja tak dapat di lihat oleh mata Menteri-menteri yang lemah itu.


Beberapa menit saja, ratusan pria berseragam merah itu sudah tergeletak di lantai. Darah pun mengalir di mana-mana. Tubuh yang sudah terpisah dari kepala tampak seperti manekin yang pecah.


Setelah membunuh semua orang di dalam sana, Zhun Tian keluar dari istana. Dia ingin memastikan jika Huang Se Se baik-baik saja. Namun saat Zhun Tian keluar, Raja Wei sudah tiba di pintu gerbang.


Dia melihat Se Se berlari ke arah Raja Wei lalu memeluknya. Hatinya merasa lega, dia senang melihat wanita itu baik-baik saja.


Flashback End


Thien Si Rui berkunjung ke Istana. Dia diberikan izin masuk oleh Perdana Menteri Huang yang masih menggantikan tugas Han Ze Xing.


"Apakah saya boleh menemui Putra Mahkota?" tanya Thien Si Rui.


Perdana Menteri Huang memberi izin kepada pria itu untuk menunggu di taman bunga.

__ADS_1


"Sampaikan kepada Putra Mahkota!" perintah Perdana Menteri Huang ke pelayan istana.


Wanita muda itu segera pergi ke Istana Matahari, dia lalu meminta izin kepada pengawal yang di tugaskan oleh Perdana Menteri Huang.


"Saya datang menyampaikan pesan!" ucap pelayan istana.


"Masuklah!"


"Tok Tok Tok!"


Mendengar pintu di ketuk, Han Ze Xing segera keluar agar tidak mengganggu tidur Zhou Yi Thing.


Han Ze Xing lalu bertanya kepada pelayan, "Ada apa?"


"Kaisar dari kerajaan Langit datang berkunjung. Beliau datang untuk menemui Yang Mulia."


Pelayan itu mengangguk, "Baik, Yang Mulia!" jawabnya lalu berjalan menuju ke taman bunga.


"Xing!" sapa Thien Si Rui begitu melihat Han Ze Xing berjalan mendekat.


"Kaisar Langit, apa yang membawa anda kemari?" tanya Han Ze Xing.


"Kenapa kau begitu kaku?" tanya Thien Si Rui.


Han Ze Xing tampak lesu, matanya sedikit merah dan tampak lingkaran hitam di bawahnya. Melihat wajah Han Ze Xing membuat Thien Si Rui bertanya-tanya. "Apakah dia masih kurang sehat? Wajahnya terlihat sangat lelah." batin Thien Si Rui.


"Aku merasa lelah, rasanya aku ingin melepaskan semua beban ini." jawab Han Ze Xing.

__ADS_1


Thien Si Rui hanya bisa tersenyum, dia baru saja berpikir akan menyerahkan tahta kepada Han Ze Xing. Tapi saat ini, sepertinya tidak mungkin bagi Thien Si Rui untuk mengatakan keinginannya itu.


Kediaman Raja Wei


Zhun Tian mendatangi kediaman Raja Wei, diam-diam dia masuk ke dalam kamar utama.


"Bukankah sudah ku katakan untuk masuk dari pintu depan?"


Suara itu mengejutkan Zhun Tian, dia segera berbalik menatap pemilik suara.


"Ada apa kau kemari?" tanya Se Se dengan memasang wajah dingin.


"Aku hanya ingin datang melihatmu!" jawab Zhun Tian.


Se Se menatapnya dengan wajah datar, dia lalu berkata, "Kalau begitu sekarang kau boleh pergi!"


Zhun Tian mengerutkan keningnya, dia berjalan mendekat. "Kenapa kau selalu mengusirku?"


"Kau sudah pernah membuatku hampir mati sekali, apakah itu belum cukup untuk menjadi alasan?"


Zhun Tian menunduk, dia merasa bersalah ketika mengingat kembali kejadian itu.


"Pergilah jika kau tidak ada urusan lagi di sini. Lain kali, ingat masuk dari depan pintu!" Masih dengan wajah datar, Se Se melangkah mendekat ke sebuah kursi yang ada di dalam ruangan. Dia duduk, lalu mengambil secangkir teh yang ada di atas meja.


"Baik, aku akan mengingatnya!" jawabnya sebelum menghilang dalam sekejap.


Raja Wei membuka pintu, dia merasakan kehadiran seseorang di sana. Dengan wajah kesal dia lalu bertanya kepada istrinya, "Siapa orang yang baru saja datang kemari?"

__ADS_1


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2