The Princess Story

The Princess Story
Raja Wei dan Yu


__ADS_3

Se Se kembali ke kediaman Wali Kota bersama Yu, mereka terlihat lelah dan letih. Se Se duduk di kursi yang berada di dalam kamar Raja Wei. Yu berdiri di samping tempat tidur, melindungi majikannya yang sedang merintih dalam tidurnya.


Se Se menatap ke tempat tidur, dia memikirkan cara terakhir untuk mengetahui penyakit apa yang sedang diderita Raja Wei.


"Aku harus mengambil sampel darahnya dan melakukan penelitian agar bisa mengetahui penyakitnya. Tapi, jika terlihat oleh Yu, dia akan bertanya banyak hal padaku dan merasa aneh dengan alat-alat yang aku pakai. Aku harus mencari cara untuk membuatnya meninggalkan ruangan ini."


Se Se berdiri dan berjalan ke tempat tidur. Dia menurunkan selimut yang di pakai Raja Wei, kemudian menggulung lengan bajunya sampai atas bahu.


"Yu, tolong ambilkan air hangat dan kain bersih!" perintah Se Se.


"Baik, Nona." jawab Yu yang langsung melakukan tugasnya.


Dengan cepat gadis itu mengeluarkan jarum suntik dan mengambil darah dari lengan Raja Wei. Dengan cepat pula dia menyembunyikan jarum itu ke lengan bajunya.


Yu masuk dengan membawa seember air hangat dan kain putih. Dia meletakkan ember itu di atas meja kecil dan menggeser meja itu ke samping tempat tidur.


Se Se mengambil kain itu dan membilasnya dengan air hangat. Dia membersihkan tubuh Raja Wei yang sudah lengket-lengket akibat keringat dinginnya, karena menahan rasa sakit yang tengah dideritanya.


Raja Wei merasakan tangan hangat yang sedang menyentuh tubuhnya. Dia mencoba membuka matanya, namun penyakit yang dia derita membuatnya sulit melakukan hal itu.


"Siapa yang sedang menyentuhku? Perasaan hangat ini membuatku merasa nyaman." batin Raja Wei.


"Yu, istirahatlah di kamarmu!" Aku akan menjaga Yang Mulia malam ini." ucap Se Se pada Yu setelah selesai membersihkan tubuh Raja Wei.


"Hamba tidak bisa pergi dari sini, hamba harus melindungi Yang Mulia. jika kabar tentang Yang Mulia tertular wabah sudah sampai di telinga musuh, mereka akan mencari kesempatan untuk membunuh Yang Mulia sekarang. ucap Yu menjelaskan.


"Dengan kondisimu saat ini, kamu bahkan tidak bisa mengalahkanku! Pergilah istirahat satu malam. Aku akan melindungi Raja Wei dengan baik." ucap Se Se memaksa.


Yu menatap wajah Raja Wei yang terlihat sedang kesakitan, dia memberi hormat kemudian meninggalkan ruangan itu.


"Hufff... akhirnya dia keluar juga!" batin Se Se.


Se Se mengunci pintu kamar dan mulai mengeluarkan alat-alatnya untuk meneliti darah Raja Wei. Dia melihat tanda-tanda keracunan pada darah. Kecurigaannya terbukti!

__ADS_1


"Bukan penyakit menular, tapi racun yang di sebar secara luas merata." ucap Se Se dalam batin.


Se Se menyimpan kembali peralatan itu ke ruang dimensi. Dia berjalan ke tempat tidur dan duduk di tepinya. Dia menatap wajah Raja Wei yang mengenakan topeng.


"Kenapa dia selalu memakai topeng? Apakah wajahnya sangat buruk seperti kata orang-orang? Apa dia akan membunuhku jika aku membuka topeng dan melihat wajahnya?"


Tangan Se Se mulai mengarah ke topeng itu, dia sangat penasaran dengan wajah di balik topeng perak itu. Tangannya sudah menyentuh topeng perak, perlahan dia menarik ujung topeng itu.


"Tok! Tok! Tok!"


Suara ketukan pintu menghentikan aksinya. Dia terkejut dan segera menjauhkan tangannya dari sana. Gadis itu kemudian membuka pintu kamar dan melihat siapa yang mengetuk pintu itu.


Seorang pelayan berdiri membawa camilan dan teh hangat. Dia meletakkan teh itu di meja, kemudian menundukkan sedikit kepalanya dan berjalan keluar.


Se Se yang memang sudah menahan lapar sejak tadi, segera menghabiskan makanan itu dengan lahap.


Dia kembali ke tepi tempat tidur dan menatap wajah Raja Wei.


"Aku sudah bersusah payah menyelamatkan nyawamu, awas saja jika kamu masih berani bersikap angkuh di depanku saat bangun nanti!" ucap Se Se sedikit berbisik.


Semalaman dia menjaga pemuda itu. Dia mengusap keringat di dahi dan tubuh Raja Wei dengan telaten, khawatir bila keringat itu akan membuat pasiennya tidak nyaman.


Hari menjelang pagi, gadis itu tertidur di tepi tempat tidur. Tangannya masih memegang kain putih, dia duduk di lantai dan membaringkan kepalanya di tepi tempat tidur.


Raja Wei membuka matanya, dia menoleh ke samping dan melihat gadis yang sedang terlelap di samping tempat tidurnya.


"Bagaimana gadis ini bisa berada disini?" tanya Raja Wei dalam batin.


Raja Wei menggerakkan kakinya, dia ingin turun dari situ, namun kepala gadis itu menindih sedikit lengan bajunya. Gadis itu terbangun saat merasakan gerakan lengan Raja Wei.


Dia mendongakkan kepala dan menatap Raja Wei. Seketika dia panik karena jarak mereka yang terlalu dekat.


Gadis itu berdiri dengan tergesa-gesa, tubuhnya tidak seimbang karena kakinya kesemutan.

__ADS_1


Dia melangkah mundur dan hampir terjatuh ke lantai, Raja Wei segera memeluk dan menahan tubuhnya itu sebelum menyentuh lantai.


"DEG...! DEG...! DEG...!"


"Te-Terlalu dekat." gumam gadis itu terbata-bata.


Raja Wei merasa gadis itu sedang menggodanya, dia segera melepaskan tangannya dan kemudian...


"BRUKK...!!"


Gadis itu terjatuh ke lantai. Se Se menatap wajah Raja Wei dengan wajah kesalnya. Dia merapatkan gigi depannya, kemudian berdiri dan menepuk-nepuk pakaiannya agar terbebas dari debu di lantai.


Raja Wei menahan senyumnya saat melihat wajah gadis yang sedang cemberut itu. Dia berjalan ke sisi meja, menuang secangkir teh dan dengan cepat menyesapnya. Sudah berhari-hari dia tidak melegakan tenggorokannya karena terbaring lemah.


"BRAKK..!!"


Yu membuka pintu dengan kasar, dia mendengar suara yang keluar dari kamar Raja Wei saat Se Se terjatuh. Dia mengira bahwa ada pembunuh yang masuk ke sana. Dengan segera dia berlari ke kamar itu.


"Yang Mulia..." gumam Yu dengan wajah tak percaya.


"Apa ini mimpi?" ucap Yu sambil menepuk-nepuk pipinya.


Dia terkejut melihat majikannya yang sudah sekarat berhari-hari, saat ini berdiri di depannya. Hanya satu malam berlalu dan majikannya tidak seperti orang yang menderita penyakit.


"Hahaha...! Apa yang kamu lakukan?" tanya Raja Wei ngakak melihat pengawalnya itu.


Yu membuka lebar matanya dan mengedipkan kelopak matanya berulang kali. Dia masih tidak percaya dengan kenyataan di depannya.


Dia berjalan mendekati Raja Wei kemudian memeluk majikannya itu sambil menangis tersedu-sedu.


"Sepertinya aku benar-benar mencemaskan Anda, Yang Mulia! Dalam tidur pun aku masih memimpikan Yang Mulia." ucapnya masih sambil memeluk Raja Wei.


"Ha..Ha..Ha..Ha...!" suara gadis yang tertawa ngakak melihat Yu.

__ADS_1


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2