The Princess Story

The Princess Story
Kakak!


__ADS_3

Kediaman Hong Yu Lin menjadi pusat perhatian semua orang karena berita kematian pria tua itu sudah tersebar hingga ke seluruh kota.


Tidak adanya satu pun penjaga yang terluka membuat semua orang bertanya-tanya apa yang telah terjadi di kediaman itu. Beberapa pengunjung di sebuah rumah makan membahas tentang kematian misterius Hong Yu Lin.


"Apakah Hong Yu Lin mati bunuh diri?"


"Ah... Tidak mungkin pria tua itu bunuh diri!"


"Sepertinya dia di bunuh secara diam-diam. Para penjaga bahkan tidak ada yang tau kapan pria itu mati."


"Ku dengar dia menggantung dirinya dengan kain."


"Mungkinkah salah satu pelayan di sana yang melakukannya?"


"Tapi, bukankah semua orang senang mendengar kematian pria tua itu?"


"Benar, dia memang pantas mati. Sudah berkali-kali dia mencoba untuk memaksa putriku menikahinya! Bukan hanya putriku saja, masih banyak anak perempuan lain yang dia inginkan untuk menjadi selirnya. Dasar tua bangka tidak tau diri!"


"Bukankah putrimu baru berumur 16 tahun?"


"Benar, dia menginginkan anak yang seumuran cucunya untuk menjadi istrinya. Itu sebabnya ku bilang dia pantas mati!"


"Sttt!! Jaga ucapanmu. Disini banyak orang yang akan mendengarmu."


"Biarkan saja mereka mendengarnya, toh semua orang di sini sudah tau kebusukan Hong Yu Lin."


Seorang pria yang duduk di antara para pengunjung tengah menatap orang-orang yang sedang membicarakan kematian Hong Yu Lin. Dia menyungingkan senyum ketika orang-orang itu berkata jika Hong Yu Lin memang pantas mati.


Pria itu meninggalkan uang di atas meja sebagai bayaran untuk pesanannya. Setelah dia menghabiskan teh yang ada di dalam cangkirnya, dia keluar dan meninggalkan rumah makan itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


"Ambilkan lagi air yang lebih banyak! Cepat! Cepat!" teriak seorang pria yang memakai baju perang bercorak singa di mana itu merupakan lambang dari negara Xi.


Ratusan ribu prajurit mondar mandir mengangkat air dari danau yang terletak di dekat sana untuk memadamkan api yang terus membakar hingga ke kemah utama milik Penasihat Negara Xi.


Mereka kewalahan menghadapi api yang semakin lama semakin membesar. Meskipun api itu telah di siram dengan gentong air yang tak terhitung lagi, namun tidak ada sedikitpun bara api yang padam.


Prajurit-prajurit negara Xi mulai merasa lelah, keringat bercucuran di wajah mereka. Buliran air mengalir turun dari dahi melewati wajah hingga menetes ke tanah, namun si raja merah masih kokoh berkobar melahap semua yang ada disekitarnya.


"Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan sekarang?" ucap Jenderal Fang yang merupakan pimpinan di sana.


Penasihat Lin menatap Jenderal Fang dengan wajah yang terlihat kesal. Dia merasa semua kejadian ini adalah kesalahan pria itu karena terus menunda waktu untuk menyerang tembok pertahanan negara Han.


"Kalian urus sendiri masalah ini, aku akan kembali ke negara Xi dan melaporkan kejadian hari ini kepada Yang Mulia." ucap penasihat Lin.


"Tunggu!" teriak Jenderal Fang sambil menahan lengan Penasihat Lin yang hendak beranjak pergi.


Penasihat Lin menghempas tangan Jenderal Fang dengan kasar, dia memberi peringatan dengan tatapan yang meremehkan pria itu, "Jangan pernah menyentuh tubuhku!" ucapnya dengan wajah kesal.


"Jika bukan karena Kaisar memperlakukannya dengan istimewa, sudah ku bunuh tua bangka ini!" geram Jenderal Fang dalam benaknya.


"Cepat katakan! Aku tidak punya waktu untuk menunggu perkataan yang tidak berguna!" ucap Penasihat Lin.


"Aku akan membawa semua prajurit kembali ke negara Xi dan menunda perang ini!" ucap Jenderal Fang.


Penasihat Lin tanpa ragu menunjukkan kemarahannya, dia memandang Jenderal Fang dengan tatapan yang dingin kemudian berkata dengan nada tinggi, "Jika kau tidak mampu memenangkan perang ini, sejak awal seharusnya kau berikan saja peluang kepada orang lain. Kenapa kau harus berebut dengan orang lain di saat dirimu tidak mampu? Dasar tak berguna!"


Mendengar caci maki dan hinaan dari Penasihat Lin, Jenderal Fang merasa sangat diremehkan. Apalagi pria itu berteriak di depan semua prajurit yang dipimpin olehnya, hilang sudah kesabarannya.


Jenderal Fang menarik keluar pedang yang selalu dia bawa, dalam sekejab mata, darah sudah bergenang di bawah kakinya. Prajurit yang berada di sana melihat dengan mata yang semakin terbuka karena leher Penasihat Lin hampir saja terpisah dari tubuhnya.


"Jika ada orang yang menyebarkan kejadian hari ini, aku akan membunuh seluruh keluarganya!" ancam Jenderal Fang agar semua prajurit di sana tidak ada yang membuka mulut tentang kematian Penasihat Lin.

__ADS_1


"Drap! Drap! Drap!"


Suara langkah kaki kuda terdengar sangat jelas menuju ke arah kemah, Jenderal Fang yang baru saja mendengar suara itu seketika merasa panik. Apalagi mengingat kondisi para prajurit yang sudah dalam kondisi lemah akibat terlalu banyak mengeluarkan tenaga untuk mengangkat air, semakin panik debaran jantung pria itu.


"Mundur! Cepat pergi dari tempat ini!" teriak Jenderal Fang dengan semburan air liur yang keluar dari sela-sela bibirnya karena terbuka lebar.


Belum sempat para prajurit itu bereaksi, kuda-kuda yang membawa prajurit dari negara Han sudah tiba di sana. Mereka langsung menyerang tanpa aba-aba karena memang semangat mereka yang terlalu menggebu-gebu ketika melihat kekacauan di kemah musuh.


Jenderal Fang berusaha kabur sendirian, dia menarik seekor kuda yang terletak di samping mayat Penasihat Lin. Dengan lincah dia melompat ke atas punggung kuda dan kemudian memacunya hingga berlari sekencang mungkin.


Ye Yuan yang melihat pelarian Jenderal Fang segera mengejar dari belakang, dia tidak ingin pria itu kabur dan berhasil lolos dari sergapan karena tujuan utama mereka adalah membunuh Jenderal Fang agar para prajurit musuh menyerah dengan sendirinya.


Huo Feng yang khawatir dengan Ye Yuan pun akhirnya ikut mengejar Jenderal Fang. Dia membentangkan sayapnya yang lebar dan panjang, dengan kecepatan maksimal Huo Feng terbang ke arah Ye Yuan.


Saat itu Ye Yuan sudah hampir mengejar Jenderal Fang, namun ia melihat seorang prajurit hendak menembakkan anak panah ke arah Raja Wei. Ye Yuan segera berbalik untuk menghadang anak panah yang melesat cepat di udara.


"Swoshhh...!"


Huo Feng menghalangi tubuh Ye Yuan dengan sayapnya, anak panah itu menembus hingga ke dalam tulang sayap Huo Feng yang kini mengeluarkan darah berwarna biru bercahaya.


"Ka... Kakak!!"


Tanpa sadar, Ye Yuan berteriak memanggil Huo Feng dengan sebutan "Kakak."


Beberapa gambaran asing muncul di benak Ye Yuan, dia melihat kejadian yang hampir mirip ketika Huo Feng berusaha melindunginya dengan kedua sayapnya.


Raja Wei melihat anak panah yang kembali melesat cepat ke arah Ye Yuan, dengan segera ia melemparkan pedangnya ke arah anak panah.


Anak panah itu terbelah menjadi dua dan terjatuh ke tanah. Namun pedang Raja Wei masih melayang di udara dan akhirnya mendarat tepat di jantung si penembak anak panah tadi.


Melihat kondisi Ye Yuan yang tampak kebingungan, dengan suara keras Raja Wei membentak pria yang berstatus Kakak iparnya itu. "Sadarkan dirimu! Kita masih berada di medan perang!"

__ADS_1


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2