
"Han Ze Xuan, lama tak berjumpa!" ucap pria itu.
Raja Wei diam tak membalas sapaan dari temannya itu, sebab dia masih kesal dan marah karena pria itu sudah mengganggu waktu berharganya bersama sang istri tercinta.
Raja Wei berjalan menuju ke ruang tamu, di ikuti oleh pria itu dari belakang.
"Bawakan teh untuk kami!" perintah Raja Wei kepada seorang pelayan yang berada di ruang tamu.
Raja Wei kemudian duduk di kursi kayu yang mengarah ke luar pintu, dan pria yang bertamu itu duduk di sebelah meja yang berada di antara kursi Raja Wei dan kursi yang dia duduki.
"Ada apa kau datang kemari?" tanya Raja Wei yang masih berwajah kesal.
"Tentu saja untuk meminta bantuanmu!" jawab pria itu. Dia lalu menggoda Raja Wei yang sedang kesal, "Kenapa wajahmu kusut begitu? Apa kau takut aku akan mengambil Huang Se Se?"
"Brakkk!"
Meja yang berada di antara mereka langsung hancur begitu saja dengan satu telapak tangan dari Raja Wei.
__ADS_1
"Thien Si Rui!" bentak pria itu dengan wajah yang memerah. Bukan karena malu tapi karena marah.
"Aku cuma bercanda. Apa perlu kau semarah ini?" tanya pria itu dengan wajah yang kebingungan karena dia tidak tau apa yang salah dengan kata-katanya.
Raja Wei pun menyadari kesalahannya, dia terlalu terbawa emosi sebab belakangan ini sangat banyak masalah yang terjadi. "Maaf, aku sedang banyak pikiran. Jadi sulit untuk mengendalikan emosiku!" ucapnya kepada Thien Si Rui.
Thien Si Rui menatapnya dengan mata menyelidik, dia lalu bertanya, "Apakah terjadi sesuatu kepada Huang Se Se?"
Raja Wei mengangguk, dia lalu menjawab, "Dia hampir saja mati karena seorang pria gila, dan pria gila itu adalah Kakakku!"
"Kaisar Han?" tanya Thien Si Rui yang terlihat tak percaya.
Thien Si Rui begitu terkejut mendengar berita itu, mulutnya bahkan lupa di tutup. Matanya terlihat membesar dengan tatapan mengarah ke tempat Raja Wei.
"Sulit dipercaya bukan?" ucapnya dengan wajah yang tersenyum, senyuman yang dipaksakan.
"Bolehkah aku mendengar ceritanya?" tanya Thien Si Rui dengan rasa penasaran.
__ADS_1
Raja Wei mulai menceritakan semuanya, mulai dari ketika mereka baru saja kembali dari perang di perbatasan. Setelah menyelesaikan cerita, Thien Si Rui terdiam beberapa saat. Dia agak terkejut sebab tak menyangka hati Kaisar Han akan seburuk itu. Padahal jika dilihat dari cara bicara dan sikapnya selama ini, Kaisar Han merupakan seorang suami serta Kaisar yang baik di mata banyak orang.
"Dalamnya laut dapat diukur, dalamnya hati siapa tahu. Pepatah ini benar-benar tepat sekali untuk menggambarkan hati seorang manusia." ucap Thien Si Rui.
"Tok! Tok! Tok!"
"Yang Mulia, saya mengantarkan teh untuk anda." ucap seorang pelayan.
"Masuk!" sahut Raja Wei.
Seorang pelayan wanita membuka pintu, dia lalu masuk dengan membawa dua buah cangkir dan satu teko berisi teh hangat di dalamnya. Setelah meletakkan semuanya di atas meja, pelayan itu di minta untuk keluar dari ruangan.
Raja Wei mengambil cangkir teh yang berada di depan meja. "Jadi apa yang ingin kamu katakan kepadaku? Tanya Raja Wei setelah mengesap teh yang ada di dalam cangkirnya.
"Aku akan menyerahkan posisiku kepada ...." ucap Thien Si Rui yang lalu di potong oleh Raja Wei karena terkejut mendengarnya.
"Kau sudah gila?" suaranya begitu keras hingga terdengar dari luar pintu.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^