
Raja Wei membersihkan dirinya di dalam pemandian air hangat, dia tidak ingin aroma darah tercium dari tubuhnya ketika menemui istrinya. Di dalam bak air itu, Raja Wei memikirkan bagaimana cara untuk membuktikan jika Pangeran Yohanes adalah pelaku di balik percobaan pembunuhan terhadap istrinya.
Tentu saja Raja Wei berharap jika pria itu bukan pelakunya, karena jika benar Pangeran Yohanes yang menjadi dalang di balik semua kejadian ini, maka Raja Wei harus membunuh pria itu. Saat itu terjadi, perdamaian yang mereka inginkan akan menjadi angan-angan belaka.
Namun jika Raja Wei membiarkan saja masalah ini, dia akan merasa bersalah karena tidak menghukum pelaku yang telah mencoba membunuh istrinya. Memikirkan hal itu saja sudah membuat kacau pikiran Raja Wei.
Lama berendam di dalam air hangat membuat Raja Wei kegerahan, dia keluar untuk mencari angin segar sebelum kembali ke kamar. Ketika sedang berjalan di taman, mata tajam Raja Wei menangkap sosok seorang pria yang melintas masuk ke dalam kamarnya.
Raja Wei yang khawatir dengan keselamatan istrinya segera bergegas kembali ke kamar. Namun saat dia tiba, pria itu tidak langsung membuka pintu kamar. Dia berdiri di depan pintu dan mendengarkan kalimat yang di ucapkan oleh istrinya kepada seorang laki-laki asing yang saat ini berada di dalam satu ruangan dengan istrinya.
"Pergilah sebelum suami saya kembali!"
Kata-kata itu membuat Raja Wei yang pencemburu menjadi salah paham. Pria itu sangat kecewa dan sakit hati melihat istrinya menyembunyikan sesuatu darinya. Apalagi saat ini Raja Wei menganggap jika istrinya telah berselingkuh dengan pria asing yang bahkan tidak dia kenal.
"Brakkk!" pintu kamar di tendang oleh Raja Wei.
Betapa terkejut hati Raja Wei ketika melihat istrinya berada di dalam pelukan seorang pria, dengan sangat marah dia menyerang pria itu menggunakan pedang yang selalu dia bawa kemana saja.
Se Se mencoba melerai pertarungan mereka, namun tanpa sengaja dia mendorong tubuh Raja Wei karena kehilangan keseimbangannya. Raja Wei yang berada dalam kondisi gelap mata berakhir dengan menusukkan ujung pedang ke tubuh wanita yang berada di depannya.
Se Se memandang wajah suaminya dengan tatapan terkejut serasa tak percaya jika pria yang dia cintai saat ini menusukkan pedang tepat di jantungnya.
__ADS_1
"Xu... Xuan...!" ucapnya sambil melihat wajah Raja Wei.
"Pranggg!"
Raja Wei mencabut pedangnya dan menjatuhkannya ke lantai. Pria itu juga sangat terkejut dengan apa yang baru saja dia lakukan terhadap istrinya.
"Ma... Maafkan aku!" ucap Raja Wei terbata-bata.
Raja Wei menangkap tubuh istrinya yang akan terjatuh, dengan suara panik dia berteriak keras.
"Tabib.... PANGGILKAN TABIB! CEPAT PANGGIL TABIB!!!"
Tangan Raja Wei mulai gemetaran, dia memeluk tubuh istrinya yang saat ini berlumuran darah. Sementara pria asing itu hanya menatap mereka berdua dengan rasa iri dan cemburu.
Tabib yang memeriksa kondisi tubuh Se Se berkata bahwa wanita itu baik-baik saja, dia hanya kehilangan banyak darah sehingga tubuhnya terasa lemah dan tidak bertenaga.
Sepeninggalan tabib, Raja Wei kembali meminta maaf kepada istrinya. Dia berlutut sambil meneteskan air mata di depan Se Se yang tengah berbaring.
"Xuan, aku baik-baik saja. Cepat berdiri dan hapus air matamu!" ucap Se Se.
"Aku tidak tau apa yang terjadi pada Xuan, tapi aku yakin dia juga tidak menginginkan hal ini terjadi. Xuan pasti merasa sangat bersalah karena telah melukai ku. Apa yang sebaiknya aku lakukan untuk menghiburnya?" batin Se Se.
__ADS_1
Kejadian itu membuat kacau seisi kediaman Raja Wei, dan pria yang menjadi penyebab semua keributan itu sudah menghilang entah kemana. Pria itu sebenarnya adalah Zhun Tian yang datang untuk berterima kasih kepada Se Se atas bantuan yang dia berikan tiga tahun lalu.
FLASHBACK
Zhun Tian merasa frustasi ketika mengetahui target yang harus dia bunuh adalah wanita yang sama dengan penyelamatnya, dia merenung di sebuah ruangan gelap yang hanya diterangi oleh nyala api lilin. Zhun Tian mengingat kembali wajah malaikat yang dilihat olehnya tiga tahun lalu, meski ingatannya sudah samar-samar karena termakan waktu, dia yakin jika wanita itu adalah Se Se.
Aroma khas bunga yang membuatnya merasa tenang sangat jelas diingat oleh Zhun Tian, dia mencium aroma itu ketika berada di dekat Se Se. Pikirannya galau karena harus membunuh wanita yang sudah menyelamatkan dirinya. Dia tentu saja memiliki pilihan lain, pilihan lainnya adalah memutuskan hubungan dengan Lu Ching Cheng dan hidup bebas sesuai keinginannya.
Tapi masih ada satu masalah yang harus dia hadapi jika memutuskan hubungannya dengan Lu Ching Cheng, pada tubuhnya terdapat racun mematikan yang akan menghancurkan semua organ tubuhnya jika dia berhianat. Setiap bulan, Zhun Tian harus meminum obat penawar yang diberikan oleh Lu Ching Cheng. Jika dia tidak meminumnya, maka racun di dalam tubuh Zhun Tian akan bereaksi dan akan membunuhnya dalam waktu sekejap.
Zhun Tian dihadapkan dengan pilihan antara nyawanya atau nyawa penyelamatnya. Pilihan manapun yang dia ambil, sudah pasti akan menyisakan penderitaan dalam sisa hidupnya. Setelah memikirkan hal itu semalaman, Zhun Tian akhirnya memutuskan pilihannya.
"Aku sudah berjanji akan membalas budi wanita itu ketika dia menyelamatkan nyawaku. Maka sekarang, aku akan menganggap nyawaku telah menjadi miliknya. Aku akan meninggalkan Lu Ching Cheng dan menyelamatkan nyawa gadis itu." ucap Zhun Tian dalam pikirannya.
Zhun Tian mendatangi kediaman Raja Wei, dia masuk ke kamar utama dengan mudah tanpa diketahui oleh para penjaga. Bukan berarti para penjaga memiliki kemampuan yang lemah, hanya saja Zhun Tian sudah menguasai teknik menyusup di tahap tertinggi.
Saat itu Se Se masih mencari tau obat yang harus dia pakai untuk menyembuhkan Ti Liu sehingga dia tidak menyadari kedatangan Zhun Tian. Pria itu berdiri di hadapan Se Se tanpa bersuara, dia menatap wajah gadis itu sembari berkata-kata dalam pikirannya, "Untung saja aku belum membunuhnya, untung saja dia kebal terhadap obat bius buatanku, untung saja dia masih hidup dan berdiri di depanku."
Menyadari ada aroma yang tidak asing di kamarnya, Se Se membuka matanya yang sejak tadi dia pejamkan. Zhun Tian sedang berdiri di hadapannya dengan wajah lega.
Pria itu tampak berbeda dari biasanya, dia yang biasanya suka mengusik Se Se, kini menjadi pendiam. Dia juga sering mengeluarkan niat membunuh yang kuat, namun saat ini Zhun Tian tersenyum ramah dengan raut wajah yang sedikit tampak sedih.
__ADS_1
"Apakah anda datang untuk membunuh saya?" tanya Se Se.
^^^BERSAMBUNG...^^^