
"Apa maksud anda, Pangeran Arnold?" tanya Se Se dengan wajah serius.
Pangeran Arnold menunduk sejenak, dia berpikir bagaimana cara untuk menjelaskan alasannya kepada Se Se.
"Jika anda tidak memiliki alasan yang cukup kuat, saya tidak bisa membantu anda. Tolong kembali saja!" ucap Se Se dengan nada tegas.
"Saya... Saya ingin membawa Mariane pergi jauh, saya ingin dia menghabiskan waktu-waktunya dengan hidup bahagia." ucap Pangeran Arnold.
"Kenapa? Apakah anda pikir Permaisuri Mariane dapat hidup bahagia ketika dia kehilangan semua ingatannya?" tanya Se Se.
"Saya tidak tau, tapi setidaknya dia tidak akan menderita lagi." jawab Pangeran Arnold.
"Saya tidak bisa berjanji untuk membantu anda, saya akan bertanya pendapat Permaisuri Mariane lebih dulu. Jika memang itu yang dia inginkan, saya akan melakukan apa yang kalian harapkan." ucap Se Se.
"Dia mungkin akan menolaknya." ucap Pangeran Arnold.
"Jika beliau menolak, saya akan menganggap anda tidak pernah mengajukan permintaan ini." ucap Se Se.
"Kenapa? Kenapa Permaisuri harus menanyakan pendapat Mariane?" tanya Pangeran Arnold.
"Karena itu adalah hidupnya, hanya dia yang berhak memilih jalan hidupnya sendiri." jawab Se Se.
"Apakah hidup seperti itu pantas untuk dipilih? Apa anda tau seberapa besar penderitaan Mariane?" tanya Pangeran Arnold dengan nada membentak.
"Pangeran Arnold, saya tau anda menginginkan yang terbaik untuk Permaisuri Mariane. Tapi wanita itu memiliki pemikirannya sendiri, apa yang menurut anda baik, belum tentu baik untuknya. Jangan terlalu memaksakan apa yang menurut anda benar, karena memaksa seseorang untuk melakukan apa yang tidak dia inginkan juga merupakan bentuk sebuah penyiksaan. Saya harap anda memikirkan kata-kata saya!" ucap Se Se.
Pangeran Arnold tercengang mendengar kalimat yang diutarakan oleh Se Se, dia menyadari kesalahan apa yang hampir dia lakukan terhadap Mariane berkat kalimat itu.
"Maafkan sikap kasar saya, dan terima kasih karena Permaisuri sudah mengingatkan kesalahan saya." ucap Pangeran Arnold setelah terdiam beberapa saat.
"Tidak apa-apa, saya akan menganggap hari ini kita tidak pernah bertemu. Silahkan kembali jika urusan anda sudah selesai!" ucap Se Se.
Wanita itu langsung pergi mrninggalkan Pangeran Arnold yang masih berdiri dengan sejuta emosi.
Se Se menuju ke kamar Ti Liu, dia memulai pengobatan untuk pengawal pribadinya itu. Beberapa selang kecil terpasang di tubuh Ti Liu, melihat teman seperjuangannya seperti itu, Ti San sangat terpukul. Dia meminta kepada Se Se untuk memindahkan kamarnya. Dia tidak sanggup melihat tubuh temannya penuh lubang-lubang yang dibuat demi pengobatannya.
"Aku akan memindahkan kamar Liu, dia akan tinggal di sebelah kamar utama agar aku bisa lebih cepat mendatanginya jika terjadi sesuatu." Ucap Se Se menyetujui permintaan Ti San.
"Terima kasih banyak atas kebaikan hati Permaisuri." ucap Ti San sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Tolong panggilkan beberapa orang untuk memindahkan Liu!" perintah Se Se.
Melihat Ti San yang berjalan dengan sebelah kaki pincang, Se Se kembali memanggilnya sebelum dia pergi.
"San!"
Ti San membalikkan tubuhnya, dia kemudian menjawab, "Ya, ada apa Permaisuri memanggil saya?"
"Kemarilah sebentar!" perintah Se Se.
Ti San segera mendekat ke arah Se Se, dia berdiri tepat di depannya.
"Ada apa Yang Mulia?" tanya Ti San sambil menatap wajah Se Se.
Se Se menarik sebuah kursi, dia meletakkan kursi itu di belakang tubuh Ti San.
"Duduk!" pinta Se Se.
"Yang... Yang Mulia...!!!" ucap Ti San dengan wajah terkejut.
"Jangan khawatir, aku hanya ingin memeriksa lukamu!" ucap Se Se menenangkan hati Ti San, dia tau pria itu sedang memikirkan hal hal aneh di kepalanya.
Ti San akhirnya duduk, dengan sikap gugup dan cemas dia menatap wajah Permaisurinya yang kini berlutut di depannya.
"Jangan ribut dan duduk kembali!" perintah Se Se.
"Ta... Tapi Yang Mulia..."
"DUDUK!" bentak Se Se yang kehilangan kesabarannya.
Ti San akhirnya kembali duduk, kegugupannya bertambah besar ketika tangan Se Se menyentuh kulit kakinya.
"Yang Mulia... Kenapa anda melakukan ini kepada saya?" tanya Ti San dengan suara gemetaran.
Karena terganggu oleh suara Ti San, Se Se mengambil sebuah jarum kemudian jarum itu di tusuk ke leher Ti San. Pria itu menjadi bisu sesaat, dia tidak bisa mengeluarkan suara meski hanya suara raungan.
"Diamlah untuk sejenak! Dari tadi kau sangat rewel." ucap Se Se.
Pemeriksaan pun berjalan dengan lancar sejak Ti San tidak dapat membuat keributan lagi. Se Se melakukan terapi akupuntur untuk kaki Ti San yang berjalan pincang.
__ADS_1
Selesai mencabut semua jarum akupuntur, Se Se menyuruh Ti San untuk mencoba berjalan.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Se Se.
Ti San menunjuk jarum yang ada di lehernya, Se Se menarik jarum itu dengan kilat.
"Yang Mulia, kaki saya tidak apa-apa, saya hanya sedikit pincang. Saya masih bisa berlari dan melindungi diri jika ada bahaya." ucap Ti San panjang lebar.
"Diam!" bentak Se Se.
Pria itu segera menutup mulutnya.
"Cobalah untuk berjalan!" perintah Se Se.
Ti San berdiri perlahan, dia mengangkat kakinya dan melangkah ke depan.
"Ti... Tidak sakit lagi!" ucap Ti San dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya.
Pria itu mencoba melompat, dia juga melakukan beberapa gerakan yang sulit dengan kakinya itu.
"Tidak sakit lagi!, ini benar-benar sembuh Yang Mulia." ucap Ti San dengan bersemangat.
Se Se tersenyum melihat tingkah konyol Ti San, dia senang melihat pria itu kembali ceria dengan kaki yang kuat seperti semula.
Ti San berlutut di depan Se Se, beberapa kali dia memberi penghormatan kepada wanita itu sambil berkata, "Terima kasih, Terima kasih banyak Permaisuri. Berkat anda, kaki saya sudah normal kembali. Terima kasih."
"Sudah, hentikan! Kau ini... Jangan terlalu mudah berlutut di hadapan orang lain! Kau kan laki-laki! Seorang laki-laki harus memiliki haga diri dan menjaga kehormatan dirinya! Jangan berlutut di depan orang lain secara gampangan!" ucap Se Se.
"Aku akan mengingat kata-kata Yang Mulia." jawab Ti San setelah dia berdiri.
"Baiklah, sekarang pergi dan cari orang untuk memindahkan Liu!" perintah Se Se.
"Siap Yang Mulia!" jawab Ti San dengan semangat tinggi.
Saat itu, Ti Liu membuka mata untuk pertama kalinya setelah dia mengalami cedera parah.
"Ya... Yang Mu... Mulia!" panggilnya dengan suara pelan.
Se Se menoleh ke arah suara, melihat mata Liu yang terbuka membuat Se Se terkejut sekaligus bahagia.
__ADS_1
"Liu...!"
^^^BERSAMBUNG...^^^