
Se Se mengganti pakaiannya dan memakai topi yang menutup seluruh wajahnya. Dia meminta Ling er untuk meninggalkan ruangan itu.
Setelah memastikan tidak ada orang disekitarnya, gadis itu memutar cincin dijarinya dan segera keluar dari kediaman.
Dia masuk ke sebuah toko obat dan meminta izin untuk bertemu pemilik toko itu.
"Tuan, apakah saya boleh bertemu dengan pemilik toko?" tanya Se Se pada seorang pria penjaga toko.
"Ada keperluan apa Nona mencari ayah saya?" tanya pemuda itu.
"Saya ingin menawarkan kerja sama yang menguntungkan. Bisakah anda memanggilnya sebentar?" tanya Se Se yang masih memakai topi dengan penutup kain panjang.
"Baiklah, silahkan duduk dulu disini. Saya akan memanggil ayah saya didalam." ucap pemuda itu ramah.
Tidak lama kemudian seorang pria paruh baya keluar dari pintu kecil diikuti oleh pemuda itu.
"Apakah Nona yang mencari saya?" tanya pria itu.
"Benar Tuan, saya ingin menawarkan obat yang saya buat." jawab Se Se.
Dia mengeluarkan sebotol obat dari dalam lengan bajunya dan memberikan obat itu kepada pemilik toko.
"Obat apa ini Nona?" tanya pria itu sambil mengamati botol obat yang transparan yang belum pernah dia lihat seumur hidupnya.
"Itu adalah obat yang bisa mengobati gejala demam dan sakit kepala. Obat itu tidak perlu direbus dan mudah dibawa." jawab Se Se menjelaskan.
Pria pemilik toko berpikir sebentar dan kemudian bertanya, "Apakah sudah ada orang yang pernah menggunakan obat ini Nona?"
"Anda bisa menggunakannya sekarang Tuan." ucap Se Se tersenyum dibalik kain tipis dari topi yang menutup wajahnya.
"Kenapa Nona meminta saya menggunakan obat ini?" tanya pria itu bingung.
"Karena Tuan saat ini sedang sakit kepala." jawab Se Se.
"Bagaimana Nona bisa tau saya sedang sakit kepala?" tanya pria itu takjub dengan sang gadis.
Se Se membuka topinya, terlihat wajah cantik yang dari tadi dia sembunyikan. "Saya melihatnya dari mata Tuan. Cobalah minum obat ini dan Tuan akan tau apakah obat ini bekerja dengan baik atau tidak."
Ayah dan anak itu membesarkan bola matanya saat menatap keindahan wajah gadis di hadapan mereka.
__ADS_1
"Ehemmm ehemmm... baiklah saya akan mencobanya. Er Niu, bawakan teh untuk Nona ini!" ucap pria pemilik toko.
Pria itu mengeluarkan sebutir obat dari botol dan memasukkannya kemulut. Dia kemudian mengambil cangkir di meja dan meneguk habis air itu.
"Nona, silahkan diminum teh nya. Ini adalah teh yang kami buat sendiri." ucap pemuda yang bernama Er Niu.
"Maaf tapi apakah saya boleh tau siapa nama Nona?" tanya pria pemilik toko.
"Nama saya susah dipanggil. Tuan boleh memanggil saya Nona Flo." jawab sang gadis.
"Nona Flo, apakah obat ini harus dihabiskan?" tanya Er Niu.
"Tidak perlu, obat ini hanya perku diminum saat sakit saja. Sisanya boleh disimpan untuk kemudian hari." ucap Se Se menjelaskan.
"Obat ini sangat ajaib. Rasa sakit dikepala saya langsung membaik setelah beberapa menit saja. Nona, apakah obat ini memiliki nama?" tanya pria itu terkagum dengan efek obat yang sangat cepat.
"Aspirin, nama obat ini Aspirin." jawab Se Se.
"Aspirin..." gumam mereka serentak.
Pria itu kemudian berdiri dari duduknya dan mengambil selembar kertas dari laci meja. Dia mencelupkan kuas ke dalam tinta dan mulai menulis. Dia kemudian memberikan kertas itu untuk Se Se.
"Nona, tolong baca surat perjanjian ini dengan cermat. Nona boleh menambahkan isi surat ini jika belum puas dengan syarat yang saya ajukan." ucap pria pemilik toko.
Nona Flo dilarang menjual obatnya Aspirin kepada toko obat lain dengan alasan apapun.
Nona Flo dilarang melakukan transaksi dengan orang lain tanpa persetujuan Toko Obat Han.
Nona Flo akan bertanggung jawab penuh atas kesalahan yang ditimbulkan oleh obat itu.
Toko Obat Han akan memberikan setengah penghasilan dari penjualan obat untuk Nona Flo yang akan diberikan setelah akhir bulan.
Toko Obat Han akan membayar sepuluh ribu tael perak sebagai modal awal untuk Nona Flo.
Perjanjian ini berlaku selama satu tahun dari tanggal perjanjian ditetapkan.
Se Se tersenyum setelah membaca isi surat itu kemudian dia berkata, "Tuan, surat ini tidak menyebutkan berapa harga obat yang akan saya tawarkan."
"Saya akan menjual obat sesuai harga dari Nona. Harga obat boleh akan berubah sesuai dengan kebutuhan rakyat. Jadi kita tidak bisa mencantumkan harga obat itu didalam surat perjanjian." ucap pria itu menjelaskan.
__ADS_1
"Benar kata Tuan, kalau begitu saya akan menyerahkan hak penuh kepada Tuan untuk menentukan harga obat ini. Tapi saya harap, Tuan bisa menjual obat ini lebih murah kepada rakyat kalangan miskin dan jual dengan harga tinggi untuk kaum bangsawan. Apakah Tuan bisa berjanji untuk melakukan permintaan saya?"
"Saya berjanji akan melakukan permintaan anda Nona." ucap pria itu meyakinkan.
"Terima kasih." Se Se tersenyum ramah.
Se Se mengambil kuas dan menulis namanya di bawah lembar kertas itu. Tuan pemilik toko membubuhkan cap Toko Obat Han di samping nama nya.
"Besok saya akan mengantarkan obat itu kemari." ucap Se Se kemudian pamit meninggalkan toko itu.
Baru saja berjalan keluar dari toko obat itu, suara seorang pemuda ditujukan padanya.
"Kebetulan sekali kita bertemu disini Nona Flo." ucap pemuda itu.
Se Se menoleh ke arah sumber suara.
"Ya, sudah lama sejak terakhir kali kita bertemu Tuan Xuan. Bagaimana kabar anda?"
"Saya baik-baik saja berkat gadis cantik yang menyembuhkan racun ditubuh saya." jawab Raja Wei menggodanya.
"Terima kasih atas pujian Tuan Xuan, lain kali saya akan meminta upah dari pengobatan yang saya lakukan." ucap Se Se dengan wajah serius.
"Apakah saya boleh mengundang Nona untuk makan bersama?" tanya pemuda itu ramah.
"Saat dicari, gadis ini tidak pernah menampakkan diri. Bisa bertemu dengannya secara kebetulan merupakan hal yang langka. Aku tidak boleh melewatkan kesempatan ini untuk mencari tau tentang dirinya." batin Raja Wei yang saat ini memakai nama Xuan.
"Jika Tuan Xuan yang membayar tagihannya, tentu saja dengan senang hati saya akan menerima undangan itu." jawab Se Se melebarkan senyumnya.
"Ba Dum Ba Dum..."
Jantung pemuda itu berdetak lebih kencang saat melihat senyuman gadis di depannya.
Raja Wei bertanya pada diri sendiri. "Ada apa dengan jantungku? kenapa berdetak keras seperti saat bersama gadis kecilku?"
Mereka masuk ke sebuah restoran yang ramai pengunjung. Raja Wei meminta pelayan untuk menyiapkan ruangan pribadi agar mereka tidak terganggu.
"Nona Flo, silakan pesan makanan yang anda inginkan!" ucap Raja Wei.
Se Se tersenyum dan kemudian bertanya, "Tuan Xuan tidak takut saya akan menghabiskan isi kantong tuan?"
__ADS_1
"Saya akan merasa lebih senang jika Nona Flo melakukannya." jawab Raja Wei yang ikut tersenyum.
^^^BERSAMBUNG...^^^