
"Aku marah, sangat marah. Saat ini, rasanya aku ingin membunuh semua orang." ucap Raja Wei dengan tatapan dinginnya.
"Tapi aku tidak marah padamu, karena itu adalah kesalahanku." sambung Raja Wei sambil memeluk istrinya.
"Tapi anak ini..." Se Se menghentikan perkataannya.
Raja Wei mengeratkan pelukannya dan membelai lembut rambut Se Se. Dia berbisik kecil di telinga gadis itu.
"Lahirkan bayi itu, kita akan menjaganya bersama. Walau bagaimana pun, dia adalah darah dagingmu. Aku akan menerimanya dan sayang padanya sebesar rasa sayangku padamu."
Batu besar di hati Se Se terasa meleleh mendengar ucapan Raja Wei. Perasaan cemas dan gelisah yang sejak tadi dia rasakan telah hilang sepenuhnya.
Dia membalas pelukan Raja Wei dan berkata, "Suamiku... Anda seperti malaikat yang dikirim Tuhan padaku. Terima kasih sudah mengatakan kata-kata itu."
Raja Wei melepas pelukannya, dia mencium bibir istrinya. Se Se membalas ciuman dari Raja Wei. Mereka melepas gejolak asmara yang sudah lama ditahan, Raja Wei melepas pakaian permaisurinya dan melahap dengan buas seluruh tubuh ramping itu.
"Tunggu sebentar..." ucap Se Se sambil menarik selimut menutupi tubuhnya.
Wajah Raja Wei menjadi cemberut, dia bertanya dengan nada kesal.
"Tunggu apa? aku sudah menunggu terlalu lama."
"I...itu... pintunya belum ditutup." jawab Se Se sambil melihat ke arah pintu kamar.
Raja Wei tersenyum genit, dengan cepat dia berjalan ke arah pintu dan menutupnya. Raja Wei kembali menindih tubuh istrinya, dia menarik selimut dan melanjutkan aksinya.
"Aku akan berhati-hati dan pelan-pelan agar bayi kecil kita tidak terganggu" bisik Raja Wei ditelinga permaisurinya.
Wajah gadis itu memerah, dia memejamkan mata saat merasakan sentuhan lembut di kulit tubuhnya. Sepasang insan itu memuaskan kebutuhan batinnya hingga berkali-kali.
Raja Wei seperti kecanduan dengan tubuh istrinya, dia ingin lagi dan lagi melakukan hal itu. Namun saat dia melihat wajah istrinya yang lelah, dia memutuskan untuk menahan hasrat yang masih membakar jiwanya.
Hari menjelang pagi, Raja Wei membuka mata dan menatap wajah gadis yang tidur di sebelahnya.
"Selamat pagi, istriku." gumam Raja Wei dengan suara kecil.
Dia tidak ingin membangunkan istrinya, Raja Wei tahu istrinya pasti sangat lelah.
"Sepertinya tadi malam aku sangat keterlaluan. Bagaimana bisa aku hilang kendali dan menyiksa gadis kecilku hingga tengah malam." batin Raja Wei menyalahkan diri sendiri.
Se Se perlahan membuka mata, wajahnya memerah saat melihat Raja Wei menatapnya. Dia menarik selimut dan menutup wajah merahnya itu.
__ADS_1
Ingatan tadi malam membuat wajah Se Se makin merah dan terasa panas. Dia merasa sangat malu dihadapan pemuda itu.
Raja Wei tersenyum melihat tingkah lucu permaisuri kecilnya. Dia mulai menggoda gadis itu.
"Permaisuriku, kenapa wajahmu memerah pagi-pagi begini? apa kamu belum cukup puas tadi malam?" tanya Raja Wei sambil menarik selimut ke bawah memperlihatkan wajah malu gadis itu.
Se Se menarik selimut itu lagi, dia menjawab dengan terbata-bata karena malu ketahuan isi pikirannya.
"Sa... Sa... Saya hanya merasa kepanasan."
Raja Wei menurunkan lagi selimutnya, dia berbisik, "Lepaskan pakaianmu jika permaisuri merasa kepanasan. Perlu ku bantu?"
"Deg Deg Deg!"
Wajah Se Se saat ini sudah seperti kepiting yang di rebus. Mendengar kalimat yang diucapkan Raja Wei membuat jantungnya berdebar keras.
Raja Wei tertawa melihat wajah merah istrinya. Dia merasa sangat senang jika melihat istrinya malu-malu.
"Yuk mandi." ajak Raja Wei.
Se Se membelalakkan bola matanya dan berkata, "Dasar cabul!"
Dia masih malu menghadapi suaminya itu. Sementara Raja Wei benar-benar tidak tahu malu di depan permaisurinya.
Raja Wei tertawa melihat reaksi dari permaisurinya, dia benar-benar senang menggoda gadis kecil yang pemalu itu.
Berita tentang kehamilan Se Se sudah terdengar oleh Selir Fei, dia menghancurkan semua barang-barang di kamarnya. Pelayan yang ada di ruangan itu menjadi sasaran pelampiasan amarahnya.
"Gadis jalang itu sudah hamil, akan semakin sulit menyingkirkannya." kata Selir Fei dengan mata penuh emosi.
"Dia benar-benar sulit dihadapi." ucap Han Ze Liang.
"Cari beberapa pembunuh yang profesional, berikan harga tinggi pada mereka yang berhasil membunuh jalang itu!" perintah Selir Fei.
"Baik ibu." jawab Han Ze Liang.
Han Ze Liang meninggalkan tempat itu dan menuju ke sebuah ruangan gelap di pasar malam.
Dia menemui beberapa pria dengan penutup wajah, Han Ze Liang memberikan gambar Se Se pada mereka.
"Jika kalian berhasil membunuh gadis ini, kalian akan mendapat 500 keping emas sebagai bayarannya." ucap Han Ze Liang.
__ADS_1
"Hanya seorang gadis kecil saja dibayar dengan harga tinggi. Tugas yang sangat mudah dan menguntungkan." jawab salah seorang pria.
"Jangan meremehkannya, dia adalah Permaisuri Raja Wei." ujar Han Ze Liang.
Para pembunuh saling bertatapan saat mendengar nama Raja Wei disebut.
"Kenapa? kalian takut setelah mengetahui statusnya?" tanya Han Ze Liang.
"Walaupun Raja Wei terkenal kejam, tapi dia belum bisa membuat kami takut." jawab seorang pembunuh.
"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi. Siapa yang lebih dulu berhasil membunuhnya akan diberi hadiah." ucap Han Ze Liang.
Saat tengah malam, beberapa pembunuh menyelinap di kediaman Raja Wei. Mereka mencari targetnya di kediaman itu.
Se Se mendengar suara dari atap kamarnya, dia memasang mata dan telinga menanti penyusup yang akan segera masuk.
Beberapa pembunuh menyerang pengawal di depan kamar, pengawal itu terbunuh dalam hitungan detik.
"Keluar!" ucap Se Se pada orang yang belum terlihat oleh matanya.
Delapan orang pembunuh masuk dari pintu, mereka menyerang Se Se dengan gerakan cepat dan lincah.
Gadis itu menghindar dari serangan-serangan itu, namun tubuhnya terluka oleh sayatan pedang dari salah seorang pembunuh.
"Dor! Dor! Dor!"
Se Se mengeluarkan pistol dan mulai menembak pembunuh-pembunuh itu. Ruangan kamar yang sempit membuatnya sulit bergerak.
Tubuhnya terluka oleh beberapa goresan pedang, dia menahan rasa sakit itu dan keluar dari kamar. Se Se berlari ke arah taman, pembunuh mengejar dan menyerangnya dari belakang.
Gerakan pembunuh sangat cepat, dia kewalahan menghadapi pembunuh-pembunuh itu. Sisa 3 orang pembunuh yang kini ada di hadapannya. Se Se memegang perut bawahnya, dia merasa sakit di dalam sana.
"Bayiku." batin Se Se.
Melihat gadis itu sedang lengah, seorang pembunuh mengayunkan pedang ke lehernya, dengan cepat Yu menahan pedang itu dan menebas kepala pembunuh.
Sisa 2 orang pembunuh, Yu menahan serangan pedang yang ditujukan untuk gadis di belakangnya. Tak ingin membuang kesempatan, Se Se menembak salah satu dari mereka dan Yu membunuh sisa pembunuh itu dengan menusuk jantungnya.
"Yu, tolong panggil tabib." ucap Se Se dengan wajah pucat sambil memegang perutnya.
Yu cemas dan panik melihat gadis itu memegang perutnya. Dia segera membawa permaisuri tuannya masuk ke kamar dan membaringkan tubuhnya dengan hati-hati.
__ADS_1
"Tunggu sebentar Permaisuri, hamba akan segera memanggil tabib." ucap Yu dengan wajah panik.
^^^BERSAMBUNG...^^^