
"Hahaha...!" Han Ze Ti tertawa keras. Suara tawanya terdengar seperti orang yang sudah kehilangan akal. Pria itu lalu berkata sambil menunjuk jari ke arah Raja Wei, "Apa kau juga berniat untuk mengambil apa yang aku inginkan?"
"Sial! Padahal tinggal sedikit lagi cacing pengikat sudah bergerak ke dalam mulutnya!" batin Han Ze Ti.
Cacing pengikat milik Han Ze Ti merupakan seekor cacing yang hidup di dalam hati manusia, cacing itu akan membuat si penerima menyerahkan semua cintanya kepada pemilik cacing tersebut. Sekali tertanam di dalam hati, cacing itu akan terus berkembang hingga membuat si penerima rela memberikan segalanya termasuk nyawa untuk pemilik dari cacing pengikat.
Raja Wei melepaskan pelukannya, dia kemudian mengecup lembut kening istrinya. Setelah memastikan wajah Se Se tak lagi khawatir, ia lalu menatap Han Ze Ti.
"Bukan aku, tapi Kakak yang sudah berniat merampas milikku!" tegur pria itu dengan perasaan kecewa.
"Aku tidak pernah mengambil apapun darimu!" bentak Han Ze Ti dengan mata yang melotot.
"Benar, memang belum. Tapi sekarang, Kakak sedang mencoba untuk mengambil wanita milikku!" sanggah Raja Wei.
"Wanita itu bisa menjadi bantuan yang besar untukku! Tidak bisakah kau memberikan dia untuk Kakakmu ini?" ucap Han Ze Ti sambil menatap wajah Se Se.
"Aku tidak akan pernah memberikan istri ku kepada siapapun!" bentak Raja Wei dengan suara yang menggelegar.
Han Ze Ti terlihat kesal, ia lalu tertawa, "Hahaha...! Lihatlah, kau bahkan tidak rela memberikan seorang wanita kepada kakakmu ini! Hanya demi seorang wanita, kau menunjukkan taring di hadapan ku!" ucapnya dengan wajah yang memerah, marah karena permintaannya di tolak oleh Raja Wei.
"Kakak! Tolong hentikan kegilaanmu ini!" ucap Raja Wei dengan suara yang meninggi.
"Kenapa Kakak bertingkah seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi kepadanya? Aku seperti tidak mengenalnya, dia bukan lagi kakak yang aku kenal!" batin Raja Wei.
Han Ze Ti mengalihkan pandangan matanya, dia menatap wanita yang berdiri di samping Raja Wei.
__ADS_1
"Huang Se Se, kau sudah menentukan pilihan mu! Aku tidak akan segan-segan lagi untuk membunuh mereka semua!" ketus Han Ze Ti dengan senyum di wajahnya, senyum yang terlihat sangat tidak ramah.
"Kau! Apa yang akan kau lakukan? Jangan bilang kau akan membunuh semua Prajurit Istana!" ucap Se Se dengan wajah panik.
"Hehhh...! Bukankah itu adalah pilihanmu?" jawab Han Ze Ti sambil menyeringai.
"Aakkkhhh!"
"Sa... Sakit!"
"Aakkkhhh... Tolong!!"
"Sakit sekali! Aaakkkkkhhhh!!!"
Yu dan Yang Fei Xi menatap pria-pria yang berguling kesakitan di atas tanah, tanpa sadar mereka meneteskan air mata. Begitu pula dengan orang-orang yang menyaksikan kejadian di sana, seakan turut merasakan rasa sakit yang di alami oleh para prajurit itu.
Se Se menatap Han Ze Ti dengan tatapan penuh kebencian dan amarah yang sangat meledak ledak. Tanpa banyak pertimbangan, dia berlari ke tempat pria itu berdiri lalu menusukkan jarum yang sejak tadi dia sembunyikan ke arah jantung Han Ze Ti.
Pria itu terjatuh ke tanah, dia merasa seluruh tubuhnya terbakar dari dalam. Panas dan sakit menyerang tanpa henti, ia terus meronta dan berguling di tanah karena seluruh tubuhnya begitu kesakitan.
Beberapa kali dia berteriak meminta pertolongan, namun semua orang yang berada di tempat itu hanya menatap dan mengutuki pria itu.
Hanya sepasang mata yang menatapnya dengan iba, dia tidak tega melihat Kakaknya menderita. Namun dia sadar jika semua penderitaan pria itu disebabkan oleh keserakahannya sendiri.
Pakaian yang terbuat dari kain sutra kini penuh dengan noda, tubuh Han Ze Ti masih belum berhenti menggeliat. Erangan dan rintihan yang keluar dari mulut pria itu hanya di anggap angin lalu bagi pendengarnya.
__ADS_1
Rasa sakit itu membuat Han Ze Ti kehilangan akal hingga akhirnya dia memilih untuk menghadapi kematian yang lebih awal. Han Ze Ti menarik sebilah pedang milik seorang prajurit di sebelahnya, tanpa ragu sedikitpun, pedang itu dia tusukkan ke arah jantung.
Lalu apakah Se Se puas dengan akhir yang seperti ini?
Tidak! Dia tidak terlihat puas dengan kematian pria itu.
Se Se berjalan perlahan, dengan kaki yang gemetaran dia mendekati mayat-mayat yang berserakan di atas tanah. "Maafkan aku!" ucapnya setelah berlutut sambil menghantukkan kepalanya ke tanah dengan sangat keras.
Setelah berkali-kali menabrakkan kepalanya di atas tanah, darah segar mulai membasahi keningnya yang mulai pucat dan terluka.
Hari semakin gelap, wanita itu masih berlutut di depan mayat-mayat sambil berlinang air mata dan menahan suara tangisnya. Namun sekuat apapun dia mencoba, suara tangis akhirnya keluar dari bibir merahnya.
Karena tak sanggup lagi untuk menahan, dia meluapkan semua kesedihan dan rasa bersalahnya. Se Se hanya menangis dan terus menangis dengan suara yang begitu memilukan.
Kilat dan petir menyambar di atas awan, diikuti dengan suara gemuruh yang sangat keras. Air hujan pun turun dengan sangat lebat, seakan langit turut bersedih melihat tangisan dan air mata wanita itu.
Huo Feng merasakan kesedihan hati majikannya, dengan segera dia terbang menuju ke tempat majikannya berada. Saat dia tiba, dia begitu terkejut melihat pemandangan yang ada di depannya.
"Tidak, majikan harus segera di hentikan sebelum semuanya terlambat!" pikir Huo Feng.
Manusia burung itu terbang dengan cepat menuju ke tempat Se Se berada.
"Tidak! BERHENTI...!!!" teriak Huo Feng dengan suara yang sangat panik.
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1