
"Saya sudah memeriksa kondisi beliau dengan sangat hati hati, beliau memang keguguran karena benturan keras yang mengenai rahim dan calon bayinya." jawab Tabib.
"Untung saja dia keguguran! Jika sampai bayi itu lahir, rahasia itu akan di ketahui oleh kakak pertama!" batin Pangeran Yohanes.
"Ayo kita kembali!" ajak Se Se sambil menarik lengan Raja Wei.
"Se Se... Dia pasti sedang menyalahkan diri sendiri atas kejadian yang menimpa Permaisuri Mariane." batin Raja Wei.
Raja Wei mengikuti langkah Se Se tanpa berkata kata, ia sangat memahami sifat Se Se yang selalu berempati terhadap orang lain.
*****
Hari menjelang pagi, Pangeran Andrew telah diberitahukan tentang keguguran Mariane. Bukannya bersedih, ia malah emosi dan hendak membunuh Mariane yang masih terbaring tidak sadarkan diri.
"Dasar wanita ******! Beraninya kau berselingkuh dengan pria lain!" ucapnya sambil melayangkan tinju ke wajah Mariane.
Pelayan yang ada di samping Mariane dengan cepat menghalangi tinju Pangeran Andrew.
"Yang Mulia, tolong biarkan Nyonya beristirahat!" pinta pelayan setia yang selalu berada di samping Mariane.
"Sekarang kau juga berani menghalangiku?!" bentak Pangeran Andrew.
Pangeran Andrew menepis tangan pelayan, ia meraih gelas yang ada di samping tempat tidur kemudian dilemparkan ke wajah pelayan.
"Ackkk!"
Pelayan memegang wajahnya yang perih dan mengeluarkan banyak darah.
Belum puas sampai disitu, Pangeran Andrew mengangkat kaki kanannya dan menginjak injak tubuh pelayan.
"Maafkan hamba... Maafkan hamba Yang Mulia!" ucap pelayan yang masih terus di injak oleh Pangeran Andrew.
"Andrew!!!" bentak Pangeran Arnold yang baru saja tiba dengan terburu buru.
Hilang sudah kesabaran Pangeran Arnold hingga menyebut kakaknya dengan nama panggilan.
Keributan di dalam kamar mengundang perhatian para penjaga, dengan cepat mereka menyampaikan berita ini kepada Pangeran Arnold untuk menghentikan perbuatan Pangeran Andrew.
Putri Helen dan Kimberly yang sedang sarapan bersama Pangeran Arnold ikut mendatangi kamar Mariane.
"Kakak pertama, apa yang kakak lakukan di sini?" tanya Putri Helen.
"Bukankah kakak ipar baru saja keguguran? Dia perlu banyak istirahat untuk memulihkan tubuhnya. Apa yang kakak lakukan di kamar pasien?" sambung Putri Kimberly.
__ADS_1
"Aku akan membunuh ****** ini!" Pangeran Andrew menjawab tanpa berpikir.
"Sepertinya kakak sudah gila ya!!!" ucap Putri Helen dengan wajah kaget.
"Apa salah kakak ipar? Kenapa kakak selalu menyiksanya?" tanya Putri Kimberly.
"Salahnya?? Kau bertanya apa salah kakak iparmu? Dengar baik baik, aku telah di periksa oleh dokter kerajaan. Dokter bilang aku tidak akan pernah bisa memiliki keturunan, dan sekarang kakak iparmu ini baru saja keguguran! Jadi? Kau bertanya apa salah kakak iparmu?" ucap Pangeran Andrew dengan nada tinggi.
Karena emosi, Pangeran Andrew membongkar rahasia yang selama ini dia pendam. Rahasia tentang kemandulan dirinya yang sudah tiga tahun dia tutupi agar hak waris tahta tidak di rebut darinya.
Putri Helen dan Putri Kimberly tampak syok setelah mendengar penjelasan Pangeran Andrew.
"Siapa? Siapa yang bilang kakak pertama tidak bisa memiliki keturunan?" tanya Pangeran Arnold.
"Apa kau tuli? Aku sudah bilang jika dokter kerajaan yang memeriksanya." jawab Pangeran Andrew.
"Apa kakak pernah memeriksakan dori ke dokter lain?" tanya Pangeran Arnold.
Pangeran Andrew menatap adiknya itu, seolah bertanya tanya kenapa aku harus memeriksakan hal memalukan ini ke dokter lain?
"Kakak pertama, aku tau hal ini sulit dilakukan. Tapi jika kakak tidak meminta dokter lain untuk memeriksanya, kakak tidak akan pernah tau apakah dokter kerajaan menipu anda atau tidak!" jelas Pangeran Arnold.
"Benar, pasti dokter itu yang sudah menipu Kakak Pertama. Aku percaya kakak ipar tidak akan melakukan hal rendah seperti itu!" ucap Putri Helen.
"Sebaiknya kita keluar dari sini! Biarkan kakak ipar istirahat dengan tenang." ajak Pangeran Arnold.
"Mari kita bicarakan hal ini di kamarku!" ucap Putri Kimberly.
Amarah Pangeran Andrew sedikit berkurang karena ucapan Pangeran Arnold. Harapan bahwa dirinya tidak mandul membuatnya lega.
Rasa cemas selama tiga tahun tiba tiba menghilang begitu saja dari pikiran Pangeran Andrew.
Sampai di kamar Putri Kimberly, para pelayan di minta keluar meninggalkan ruangan. Putri Kimberly mempersilahkan kedua kakaknya untuk duduk di kursi, sementara dia dan Putri Helen duduk di atas ranjang.
"Jadi, siapa nama dokter yang memeriksa kesehatan Kakak pertama?" tanya Putri Kimberly.
"Dokter Jonathan." jawab Pangeran Andrew.
"Bukankah dia dokter yang di rekomendasikan oleh Kakak kedua?" tanya Putri Kimberly.
"Sepertinya begitu." ucap Pangeran Andrew.
"Ada satu hal yang harus aku katakan lebih dulu, Kakak pertama, Jangan terlalu percaya dengan kakak kedua!" ucap Pangeran Arnold.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Pangeran Andrew dengan tatapan curiga.
"Sudah lama Kakak kedua mengincar posisi pewaris, apakah kakak pertama tidak menyadarinya?" tanya Pangeran Arnold.
"Aku hanya berpikir adik kedua tidak akan menghianati kepercayaanku!" ucap Pangeran Andrew.
"Haahhh...!"
Pangeran Arnold menghela nafas panjang, kesal dan cemas dengan kebodohan Pangeran Andrew.
"Apakah kakak pertama tidak ingat bagaimana sikap anda dulu?" tanya Pangeran Arnold.
"Aku? Apa maksudnya dengan sikapku dulu?" tanya Pangeran Andrew.
"Haaahhhh....!"
Putri Helen dan Putri Kimberly ikut menghela nafas mendengar pertanyaan kakaknya.
"Kak Andrew yang aku kenal adalah sosok baik hati dan lembut kepada siapa saja." ucap Putri Helen.
"Namun, kakak mulai kasar sejak tiga tahun yang lalu." sambung Putri Kimberly.
"Kakak Pertama, apakah anda tidak menyadari perubahan sikap anda selama ini?" tanya Pangeran Arnold.
Pangeran Andrew diam merenungi perbuatannya selama ini, bukan hanya terhadap pelayan namun juga terhadap istri yang dulu sangat dia cintai.
Sebelum menikah, Pangeran Andrew dan Mariane telah berteman lama. Mereka menghabiskan waktu sepanjang hari, mulai dari sarapan bersama, belajar hingga makan malam.
Saat itu adalah hari hari paling bahagia di hidup Pangeran Andrew dan Mariane. Namun, sejak ia tau dirinya tidak bisa memiliki pewaris, Pangeran Andrew mulai berubah.
Rasa cemas dan depresi membuat Pangeran Andrew sering memukuli pelayan dan orang orang di sekitarnya. Melampiaskan kemarahan yang tidak terkendali menjadi rutinitas baru dalam hidupnya.
Berawal dari pelayan, ia kemudian memukuli bangsawan rendah dan rakyat jelata. Sekarang, ia bahkan memukuli istrinya yang dulu sangat ia cintai.
"Aku... Sejak kapan aku berubah menjadi monster?" gumam Pangeran Andrew.
"Kakak pertama... Kakak bukanlah monster, kakak hanya dibutakan oleh amarah dan rasa cemas." jawab Putri Helen.
"Seharusnya kakak pertama menceritakan hal ini sejak awal. Jika saja aku tau dokter gadungan itu telah menipu kakak, aku akan segera mematahkan kaki dan tangannya itu!" ucap Putri Kimberly.
"Ayo kita periksakan kembali kondisi kesehatan kakak pertama!" ucap Pangeran Arnold.
"....."
__ADS_1
Pangeran Andrew hanyut dalam pikirannya hingga tidak menjawab adik adiknya.
^^^BERSAMBUNG...^^^