
KEDIAMAN HUANG
"Nona... nona dari mana saja? Tuan muda sudah beberapa kali kemari mencari nona!" ucap Ling Er saat melihat Nona mudanya sudah kembali.
"Aku hanya berkeliling sampai lupa waktu saja. Ada apa kakak mencariku?" tanya Se Se.
"Ling Er tidak tahu nona, tapi Tuan muda menyuruh saya untuk segera mengabarinya jika nona sudah kembali." jawab Ling Er.
"Tidak perlu, siapkan air untukku! Aku akan pergi menemui kakak setelah mandi." ucap Se Se.
"Baik Nona."
*********
"Tok Tok Tok!"
"Masuk!" ucap Ye Yuan tanpa menoleh, dia sedang membaca buku di kamarnya.
"Kakak..."
Ye Yuan menoleh ke suara itu. Suara yang telah di rindukannya selama berhari-hari.
"Meimei..."
Ye Yuan menghampiri gadis itu dan memeluknya.
"Maafkan kakak, kakak terlalu egois dan tidak memikirkan perasaanmu. Kamu selamanya adalah adikku. Tidak peduli siapa dirimu yang sekarang, selamanya kamu adalah Huang Se Se putri pertama di keluarga ini." ucap Ye Yuan yang mulai berkaca-kaca.
"Terima Kasih kak, kakak juga selamanya adalah keluargaku."
Gadis itu membalas pelukan Ye Yuan. Mereka ngobrol hingga malam tiba. Se Se kembali ke kamarnya setelah makan malam bersama Ye Yuan dan ayahnya.
"Ling Er, tolong bawakan teh hangat untukku sebelum kamu kembali ke kamarmu!" perintah Se Se sambil melepas pakaiannya.
Dia mengganti pakaian yang lebih nyaman untuk tidur. Kemudian melepas perhiasan di kepala dan menggerai rambutnya.
"Nona, ini teh yang nona minta." Ling Er masuk membawa teh dan beberapa camilan.
"Terima Kasih, istirahatlah!" ucap Se Se.
Gadis itu duduk menikmati camilan dan teh dari Ling Er, tiba-tiba sepasang tangan memeluknya dari belakang.
"Aroma ini, wangi dari tubuh pemuda itu." batin Se Se.
Raja Wei menggerakkan tangannya ke leher gadis itu dan menyibak rambutnya ke depan. Terlihat leher jenjang putih yang menggoda. Raja Wei mendaratkan bibirnya di leher mulus itu.
"Apa kau merindukan ku?" bisik Raja Wei.
"Yang Mulia ... " gadis itu tidak bisa melanjukan perkataannya karena merasakan perasaan aneh yang sedang menjalar di tubuhnya.
Raja Wei mencium dan menelusuri semua bagian di leher Se Se tanpa ada yang terlewatkan.
Darah di tubuh gadis itu mulai memanas. Dia memejamkan matanya, menikmati sentuhan dari bibir pemuda itu.
__ADS_1
Raja Wei perlahan membalikkan tubuh gadis itu . Saat ini mereka sedang bertatapan dengan wajah memerah dan tubuh yang semakin memanas.
"Ya-Yang Mulia... kita tidak boleh melakukan ini!" ucap Se Se sambil menunduk karena malu.
Raja Wei mengangkat dagu gadis itu dengan jarinya, dia menatap bibir mungil gadis itu dan berkata, "Aku perlu manisan untuk menghilangkan rasa frustasiku".
Raja Wei menempelkan bibir mereka dan mulai mencium gadis itu dengan lembut namun penuh nafsu.
Se Se panik saat lidah pemuda itu mulai masuk tanpa izin ke dalam mulutnya. Lidah pemuda itu menyapu habis semua isi di dalam bibirnya.
Tubuh Se Se makin panas dan jantungnya mulai berdegup keras.
"Perasaan apa ini? Perasaan ini membuat tubuhku sulit dikendalikan. Aku akan kehabisan napas jika dia terus seperti ini." batin Se Se.
Se Se memukul ringan dada pemuda itu, dia mendorong tubuh Raja Wei dengan kedua tangannya.
Pemuda itu masih menikmati isi di dalam bibir gadis itu, dia tidak peduli dengan pukulan ringan yang diterima dada bidangnya. Gadis itu berusaha melepaskan pelukan dan ciuman dari Raja Wei, namun Raja Wei terus menekan kepalanya agar tidak bergerak.
Setelah puas melahap bibir mungil gadis itu, Raja Wei menggendongnya ke tempat tidur.
Dia membaringkan tubuh Se Se di tempat tidur. Raja Wei menindih tubuh gadis itu, dia mulai mengecup kening kemudian turun ke mata dan hidungnya. Bibir pemuda itu mulai menelusuri telinga dan leher gadis itu dengan buasnya. Tak lupa dia meninggalkan tanda kepemilikannya.
Deg Deg Deg
Suara detak jantung sang gadis makin kuat, dia memejamkan matanya dan menikmati rasa yang asing itu. Darahnya mulai terasa mendidih, daerah terlarang nya terasa mulai lembab.
Meskipun dulu dia pernah menikah, dia belum pernah diperlakukan selembut ini. Bahkan belum pernah berciuman dengan Mike.
"Benda apa ini yang terasa menusuk tubuhku?" batin Se Se.
"Kau...! kau...! pria mesum!" ucapnya terbata-bata.
Raja Wei tersenyum, dia mendekatkan bibirnya ke telinga Se Se kemudian berbisik, "Bukankah kamu menikmatinya?"
"Blush"
Wajah gadis itu memerah, dia merasa sangat malu, walau tidak ingin mengakuinya, dia memang menikmati perasaan itu.
Raja Wei berbaring di sebelahnya, dia memiringkan tubuhnya. Pemuda itu membelai pelan wajah Se Se, dia mengecup pipinya dan memeluk pinggulnya.
"Tetaplah seperti ini sebentar saja!" pinta Raja Wei dengan suara tak bersemangat.
"Ada apa dengan pemuda ini? Kenapa hari ini dia terlihat lelah dan tidak bersemangat?" batin Se Se.
zZzZz....
zZzZz....
Terdengar suara dengkuran halus, Raja Wei tertidur sambil memeluk Se Se. Dia merasa tenang jika berada di dekat gadis itu.
"Cepat sekali dia tertidur, dia pasti benar-benar lelah." batin Se Se.
Gadis itu memperhatikan wajah Raja Wei yang sebagian tertutup topeng.
__ADS_1
"Kenapa Anda selalu memakai topeng? kapan anda akan menunjukkan wajah anda pada saya?" gumam Se Se.
"Bulu matamu bahkan lebih panjang dari bulu mataku, hidung mancung dan bibir yang seksi. Aku benar-benar penasaran dengan wajahmu, Raja Wei." batin Se Se.
Se Se membelai wajah pemuda itu, jarinya menelusuri alis, hidung dan kemudian bibirnya.
"Deg Deg Deg!"
Jantungnya berdegup kencang membayangkan hal yang baru saja terjadi. Wajahnya memerah, dia menelan air liurnya yang hampir menetes karena tergiur oleh wajah tampan Raja Wei.
"Sebaiknya aku tidur sebelum jantungku melompat keluar dari tempatnya." batin Se Se.
Se Se memejamkan matanya, tidak lama kemudian dia tertidur dengan nyenyak di dalam pelukan Raja Wei.
Matahari mulai bersinar, wajah gadis itu terpapar sinar dari matahari yang masuk melalui jendela kamar. Perlahan dia membuka matanya, pemuda itu masih terlelap di sampingnya.
Gadis itu tersenyum kecil, dia mengecup bibir pemuda itu dan kembali memejamkan mata.
"Bibirku terasa manis, apa gadis itu menciumku? Sejak kapan dia mulai agresif?" batin Raja Wei.
Raja Wei sudah bangun sebelum gadis itu membuka mata. Dia hanya memejamkan matanya dan berpura-pura tidur.
"Aku harap kebahagiaan ini tidak akan pernah berakhir." batin Raja Wei.
Pemuda itu mengecup kening Se Se dan berbisik, "Selamat pagi, gadisku."
"Pagi, pria mesum." jawab Se Se tanpa membuka mata.
"Sepertinya aku perlu menunjukkan padamu arti dari kata mesum?" ancam Raja Wei dengan senyum menggodanya.
Gadis itu tidak menjawab, dia masih memejamkan mata dengan senyuman kecil di bibirnya.
Raja Wei mulai menggodanya.
"Cup... cup... cup..."
Dia mengecup semua bagian wajah gadis itu, tangannya mulai menjalar menuju buah persiknya.
"Pria mesum, tanganmu akan kupatahkan jika berani menyentuh tempat itu!" ancam gadis itu.
"Huff... Wanita benar-benar suka jual mahal." omel Raja Wei dengan wajah cemberut, dia menghentikan aksinya.
Se Se tersenyum melihat wajah cemberut Raja Wei. Dia mengecup bibir pemuda itu untuk menghiburnya.
"Cup!"
"Bolehkah aku memakannya?" tanya Raja Wei tersenyum senang karena di ke-cup.
"Emmmm...!" gadis itu menjawab dengan mengangguk pelan, malu-malu tapi mau.
Akhirnya mereka kembali berperang menggunakan lidah dan bibir. Sesekali mereka saling menatap dan tertawa karena merasa geli.
"Aku hanya tidak ingin menyesal lagi. Sebelum aku percaya sepenuhnya padamu, kita harus menjaga batasan antara pria dan wanita." batin Se Se.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^