
"Permaisuri, apa anda baik-baik saja?" tanya pemuda itu cemas.
"Aku tidak apa-apa. Siapa nama anda tuan? Bagaimana saya harus memanggil anda?" ucap Se Se.
"Yang Wei Zhao. Anda bisa memanggil saya Wei Zhao atau Zhao Zhao. jawab pemuda itu.
"Terima kasih sudah memberi tahu saya. Saya harap Tuan Wei Zhao bisa membantu saya mencari Raja Wei." ucap Se Se.
"Saya akan menyiapkan kamar untuk Permaisuri. Wajah anda sangat pucat, sebaiknya anda beristirahat dulu." ucap Yang Wei Zhao.
Se Se mengangguk dan menjawab, "Terima kasih."
Dia mengikuti Yang Wei Zhao berjalan menuju kamar, pemuda itu berpisah dengannya di depan pintu. Dia memberi hormat dengan menunduk sedikit dan berjalan menjauh.
Se Se berbaring di tempat tidur, dia tertidur karena lelah setelah melakukan perjalanan. Ditambah tubuhnya tidak nyaman karena perutnya yang sedang membawa calon bayi.
"Tidak!"
Se Se terbangun dari tidurnya, dia bermimpi buruk tentang Raja Wei. Dia segera mengganti pakaiannya dan keluar mencari pemuda itu.
Se Se tidak tahu harus mulai mencari dari mana, dia berkeliling di kota untuk mencari kabar dari gosip-gosip yang beredar.
Ling Er masuk ke kamar, dia panik saat melihat tidak ada orang di tempat tidur. Dia mencari Yang Wei Zhao dan memohon pada pemuda itu untuk mencari Se Se.
Sementara itu Se Se sedang duduk di sebuah restoran. Beberapa bandit melihat gadis itu, dia sendirian dengan penampilan yang sangat menggoda pria-pria untuk menatapnya.
Dia mendengar percakapan beberapa orang mengenai Raja Wei yang terjebak di dalam Hutan Kabut. Hutan Kabut adalah hutan lebat dengan banyak kabut di sekelilingnya, banyak orang yang terjebak di sana dan ditemukan dalam kondisi telah meninggal.
Se Se merasa gelisah, dia sangat cemas karena Raja Wei berada di hutan itu. Tapi ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
"Kenapa Yang Wei Zhao tidak mencari di Hutan Kabut malah berkeliling ke tempat lain? Apakah pria itu bisa dipercaya?" batin Se Se.
Se Se melanjutkan pencariannya, dia berjalan menuju Hutan Kabut. Beberapa pria bandit mengikutinya dari belakang, mereka menyergapnya saat berada di jalan sepi yang jarang di lewati orang-orang.
"Nona cantik, ayo ikut kami bersenang-senang." ucap salah seorang pria.
Pria itu mendekat berniat memeluk tubuh ramping gadis itu, Se Se mengayunkan kakinya menendang pria itu hingga terlempar jauh.
"Aakhhh... shit! aku lupa sedang hamil." batin Se Se.
Se Se memegang perutnya yang terasa nyeri akibat gerakan kasarnya tadi. Dia mengambil pistol dan mengarahkan ke pria yang berusaha menyerangnya.
__ADS_1
"Syutt... Syutt... Syutt!"
Bandit bandit itu di tembak oleh anak panah yang terbang dari atap bangunan kosong. Mereka semua mati tertusuk anak panah yang menancap tepat di jantung.
DEG!
Se Se merasa khawatir, apakah orang itu musuh atau bukan? Jika musuh akan sangat sulit dihadapi, kemampuan memanah orang itu sangat luar biasa.
Beberapa pria berbaju hitam turun dari atap dan berlutut di tanah menghormat di hadapan Se Se.
"Maafkan kami datang terlambat Permaisuri!" ucap mereka serentak.
"Siapa kalian?" tanya Se Se bingung.
"Kami adalah pengawal yang diperintahkan Raja Wei untuk melindungi permaisuri." jawab salah satu pria itu.
"Berdirilah! Terima kasih sudah menyelamatkan saya." ucap Se Se.
"Permaisuri tidak perlu berterima kasih, itu sudah menjadi tugas kami." jawab pria yang sama.
"Tugas kalian sekarang adalah mencari Raja Wei. Dia sudah menghilang selama beberapa hari. Perasaan saya tidak enak, tolong bantu saya untuk menemukannya." ucap Se Se dengan wajah cemas.
Pasukan Elang saling bertatapan, mereka ragu apakah harus mencari Raja Wei atau melindungi Permaisuri.
"Baik permaisuri!" jawab mereka serentak.
Mereka berdiskusi sebentar, membagi kelompok untuk melindungi Permaisuri dan mencari Raja Wei.
"Permaisuri, Ti Yi dan Ti San akan melindungi anda. Sisanya akan mencari Yang Mulia." ucap pria itu.
"Terima kasih." jawab Se Se.
Mereka berpencar mencari Raja Wei di dalam hutan, Se Se meneruskan langkahnya ke hutan diikuti oleh Ti Yi dan Ti San.
Suasana di hutan itu sungguh menyeramkan, terdengar suara-suara burung gagak sedang menari di atas pohon. Sesekali kelompok kelelawar terbang dan meramaikan suasana hening di hutan itu.
Suara raja hutan yang mengaum juga menghiasi nada di tempat itu. Di tanah terdapat beberapa tengkorak dan tulang belulang yang bercerai berai.
Se Se menelusuri hutan tanpa rasa takut, kedua pengawalnya bahkan sudah merinding. Mereka merasa kagum melihat Permaisuri yang mereka layani.
Benar-benar cocok dengan Raja Wei karena sama-sama tidak kenal takut, itulah yang mereka pikirkan.
Sial bagi mereka, baru berjalan beberapa menit saja sudah bertemu kawanan serigala. Ti Yi dan Ti San melangkah ke depan untuk melindungi permaisuri mereka.
__ADS_1
"Dor Dor Dor!"
Mata mereka membelalak melihat semua serigala itu mati dalam waktu singkat. Ti Yi dan Ti San menoleh ke belakang dan melihat senjata di tangan Permasuri. Mereka merasa kagum dengan kemampuan senjata itu.
"Lanjutkan pencarian!" perintah Se Se saat melihat mereka melamun.
"Baik Permaisuri." jawab mereka serentak.
"Akhhh....!"
Se Se terjatuh ke dalam sebuah jurang, dia tanpa sengaja menginjakkan kakinya ke lubang jurang yang tertutup kabut.
Ti Yi dan Ti San panik mendengar suara Permaisuri. Mereka segera mencarinya namun tidak menemukan gadis itu. Kabut tebal menghalangi pandangan mereka.
"Baru saja permaisuri berjalan di depanku." ucap Ti San.
"Kabut tebal ini sangat mengganggu." keluh Ti Yi.
"Sekarang, apa yang harus kita lakukan?" tanya Ti San.
"Keliling hutan dan mencari Permaisuri." jawab Ti Yi.
"Ayo berpencar!" ucap mereka serentak.
Di dalam jurang, Se Se menancapkan belati di dinding yang berbatu dengan sedikit rumput. Dia turun perlahan dan mencapai dasar jurang dengan selamat.
Se Se berjongkok memegangi perutnya yang terbentur dinding jurang, dia merasa kesakitan. Keringat dingin mulai membasahi kening dan wajahnya, Se Se mengeluarkan jarum suntik dan obat penguat kandungan, dia menyuntikkan obat itu dengan harapan bayinya akan baik-baik saja.
Setelah istirahat beberapa saat, dia merasa rasa sakit di perutnya sudah berkurang. Se Se melanjutkan pencariannya, dia keliling di dasar jurang itu sambil mencari jalan keluar.
"Ughh...!"
Terdengar suara dari dalam sebuah gua. Se Se perlahan mendekati gua itu dan melihat siapa yang ada di dalam sana.
Seorang pemuda tampan berpakaian hitam dengan rambut diikat keatas sedang berbaring di dalam gua. Pemuda itu terlihat lemah dan kesakitan.
Se Se mendekat, wajahnya panik seketika saat melihat siapa pemuda itu.
"Xuan!" ucap Se Se yang terdengar oleh pemuda itu.
Pemuda itu membuka matanya dan mengarahkan pedang ke leher Se Se.
"Permaisuriku!" ucap Raja Wei tanpa sadar.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^