The Princess Story

The Princess Story
Kepala Terbang


__ADS_3

Para pasukan istana menoleh ke arah sumber suara, kasim yang membawa titah juga menatap wanita itu dengan wajah yang tampak marah.


"Permaisuri Raja Wei, apa yang anda lakukan? Apakah anda ingin melanggar titah dari Kaisar?" ucap Kasim itu dengan nada mengancam.


Sepasang mata menatap wanita itu sambil berkata dengan suara pelan, "Apa yang akan kamu lakukan di situasi seperti ini? Aku sangat menantikannya!"


Se Se melangkah maju ke arah Kasim, dia lalu berkata, "Apakah anda yakin itu adalah titah langsung dari Kaisar?"


"Tentu saja ini adalah titah dari Kaisar. Apa anda sedang membuat alasan untuk tidak mematuhi perintah?" bentak Kasim yang langsung murka.


Se Se menatap mata Kasim yang terlihat bergetar, dia yakin jika Kasim itu sedang menyembunyikan sesuatu. "Kalau begitu, tunjukkan pada kami! Tunjukkan jika titah itu benar adalah tulisan dari Kaisar yang telah di bubuhi dengan stempel kekaisaran!" jawabnya dengan nada menantang.


Se Se merasa curiga dengan titah itu, dia tidak percaya jika Kaisar Han akan melakukan tindakan kejam ini terhadap para pahlawan mereka. Di tambah lagi dengan sikap dari Kasim yang seolah ketakutan, dia semakin yakin jika titah itu bukan dari Kaisar.


"Kenapa aku harus menunjukkan titah ini kepada seorang wanita? Anda bahkan bukan salah satu dari mereka yang menerima titah!" Kasim itu menolak dengan tegas.


"Kalau begitu, saya akan menganggap anda berbohong mengenai titah ini!" ucapnya sambil memberi isyarat kepada Yu untuk mendatanginya.


Sringggg!


Se Se menarik pedang Yu yang baru tiba di sampingnya. Dia mengarahkan pedang itu ke leher Kasim lalu berkata, "Karena anda berani memalsukan titah Kaisar, saya sebagai Permaisuri Raja Wei akan menghukum anda secara langsung sebagai contoh untuk Kasim lain agar tidak bersikap lancang!"


"Hahaha...! Anda pikir saya akan takut dengan ancaman anda itu? Wanita tetaplah wanita, makhluk lemah seperti kalian hanya bisa mengancam saja!" ucap Kasim itu dengan nada menghina setelah tertawa lebar.


Se Se menatapnya dengan mata dingin yang tajam, ia lalu mengayunkan pedangnya tepat di leher Kasim itu.


"Glundung... Glundung...!"

__ADS_1


Kepala Kasim itu terbang di udara lalu terjatuh dan berguling di tanah yang basah oleh darah. Semua orang terdiam membeku, tak ada satupun di antara mereka yang berani bersuara.


Mulut rakyat jelata yang menonton pertunjukkan pun di buat menganga begitu lebar, terkejut melihat aksi dari Permaisuri mereka yang terlihat mengerikan namun mereka syukuri. Sebab menurut mereka, sang Kasim memang pantas untuk mati.


Se Se melemparkan pedangnya ke arah Yu, "Terima kasih untuk pedangnya!" ucap Se Se sambil tersenyum manis, seolah pembunuhan tadi hanyalah sebuah khayalan yang tidak pernah terjadi.


Apakah itu hanya sebuah khayalan? Tentu saja bukan, semua kejadian itu nyata dan benar-benar terjadi. Kepala Kasim yang bersimbah darah kini menjadi makanan pembuka bagi seekor anjing pemburu yang baru saja melewati tempat itu.


Mata Se Se mengarah ke para prajurit penjaga istana, ia lalu berkata, "Kalian boleh memilih akan berada di pihak yang mana! Tapi pilihan kalian tentunya akan menjadi penentu hidup dan nyawa kalian semua. Karena aku akan membunuh siapapun yang berani menyentuh pahlawan-pahlawan kami!"


Pria berbaju besi itu saling menatap sesama temannya, beberapa saat kemudian mereka mundur dengan tertib ke belakang pintu gerbang.


Se Se memerintahkan kepada pelayan agar membagikan makanan untuk prajurit-prajurit yang menunggu jatah makanan mereka. Dia kemudian berkata, "Untuk kalian yang terluka, tolong pindah ke tempat duduk di urutan paling belakang."


Yang Fei Xi lebih dulu berpindah ke belakang, ia tanpa sengaja melukai lengannya ketika membuat tenda di dalam hutan. Yang Fei Xi bertanya-tanya dalam hati, "Kenapa kami diminta untuk duduk di belakang? Apakah beliau takut luka kami akan menular? Tidak mungkin, mana ada luka yang bisa menular."


Beberapa saat kemudian dia turun dari kereta kuda lalu berjalan ke tempat duduk Yang Fei Xi. Dia menatap mata pria itu lalu bertanya dengan sikap ramah, "Bolehkah saya memeriksa luka anda?"


"Luka saya?" Yang Fei Xi merasa tak percaya dengan pendengarannya. Namun wanita itu kembali bertanya, "Bisakah anda memperlihatkan luka anda?"


Yang Fei Xi terdiam, dia masih tak percaya jika wanita itu benar-benar berniat untuk mengobati lukanya.


"Jenderal Yang!" Pria di samping Yang Fei Xi memanggil dengan suara pelan sambil menepuk pelan bahunya.


Yang Fei Xi tersadar, dia segera menggulung lengan bajunya lalu memperlihatkan lukanya.


Se Se mengeluarkan berbagai macam peralatan untuk mengobati luka Yang Fei Xi, semua mata tertuju ke arahnya. Mereka sangat kagum melihat Permaisuri Raja Wei yang langsung mengobati luka di tangan pria itu tanpa merasa jijik sedikitpun.

__ADS_1


Barisan yang mundur itu memulai percakapan, beberapa dari mereka hanya diam mendengarkan tanpa berkomentar.


"Bukankah kita sudah keterlaluan? Kita seharusnya tidak melukai pahlawan yang sudah membela negara ini!"


"Tidakkah kalian melihat sikap tulus dan kebaikan hati dari Permaisuri Raja Wei? Kaisar bahkan tidak peduli dengan para pahlawan yang telah berjuang untuknya! Suatu hari nanti, bisa saja kita yang berada di posisi para pahlawan itu!"


Seorang pria yang berdiri di tengah-tengah para pasukan memikirkan kembali kata-kata yang di ucapkan oleh rekannya. Dia lalu melihat wajah Permaisuri yang tersenyum ramah sambil mengobati luka-luka para pahlawan mereka.


Pria itu lalu berkata, "Kita hanya akan dianggap sebagai pion yang bisa dibuang kapan saja jika masih berada di sini, tapi wanita itu berbeda! Permaisuri Raja Wei, dia selalu membela rakyat seperti kita meskipun dirinya bergelar bangsawan. Dia selalu peduli terhadap orang-orang yang menderita tanpa melihat status dan kedudukan. Aku akan menyerahkan hidupku untuk melayani Permaisuri Raja Wei!"


"Aku akan mengundurkan diri dari pasukan kerajaan!"


"Aku juga!"


"Aku juga!"


"Aku juga!"


"Aku juga ikut, aku akan mengundurkan diri dari pekerjaan yang melelahkan jiwa ini!


Salah satu dari pasukan istana berjalan mendekati Se Se, ia melempar senjatanya ke atas tanah lalu berkata, "Mulai sekarang, saya hanya akan mendengarkan perintah dari Yang Mulia!"


Pria itu lalu berlutut dengan sikap hormat di depan Permaisuri Raja Wei. Tak lama kemudian, satu persatu anggota pasukan dari penjaga istana mulai mengikuti jejak pria tersebut, mereka meminta maaf dengan tulus dan berjanji akan mengikuti perintah dari Se Se.


"Pertunjukkan yang sangat bagus sekali!" ucap pria yang baru saja menampakkan diri setelah sekian lama menatap dari tempat tersembunyi.


^^^BERSAMBUNG...^^^

__ADS_1


__ADS_2