
Han Ze Xing mengambil cangkir teh yang terletak di meja, dia kembali ke sisi ranjang. "Yi Thing, minumlah sedikit!" pintanya kepada wanita yang baru saja membuka mata.
"Aku tidak haus, Xing saja yang minum." jawabnya, secara perlahan dia mendorong cangkir ke arah suaminya.
Han Ze Xing meneguk semua isi di cangkir, lalu di tumpahkan kembali ke dalam bibir istrinya. Zhou Yi Thing pun terkejut karena ciuman tiba-tiba dari Han Ze Xing, namun dia tidak menolak. Dia berpikir jika menolak pun, yang ada hanya mereka berdua akan kehausan akibat teh yang tumpah semua.
Ini adalah hari ketiga, sudah tiga hari pasangan ini tidak mencicipi makanan meski hanya sesuap. Zhou Yi Thing merasa perutnya panas dan sakit. Nyeri di lambung membuat tubuhnya berkeringat dingin.
Melihat wajah Zhou Yi Thing yang kesakitan, Han Ze Xing segera berteriak, memanggil kedua prajurit di depan agar membukakan pintu.
"Buka pintunya!"
Brakkk! Brakkk! Brakkk!
"Cepat buka pintu! Putri mahkota sedang sakit! Cepat panggil tabib!"
Meski tidak mendapat respon dari kedua prajurit yang berjaga di depan, Han Ze Xing terus berteriak sambil memukul dan mendobrak pintu. Namun semua usaha yang dia lakukan hanya sia-sia belaka, tidak ada satu pun orang yang membuka pintu ataupun memanggil tabib untuknya.
"Xing...!" Zhou Yi Thing memanggil dengan suara pelan.
Han Ze Xing berbalik, menatap wajah pucat istrinya yang dipenuhi dengan keringat dingin. Dia lalu mendekat, dengan hati-hati menyeka butiran keringat Zhou Yi Thing.
"Sulit di percaya, Ayah tega melakukan ini semua!" batin Han Ze Xing.
Buliran air mata pun turun membasahi pipinya. Dia menatap wajah istrinya yang terlihat sangat kesakitan. "Haruskah aku bunuh saja mereka berdua saat kita keluar nanti?" tanya Han Ze Xing dalam hati.
"Apa yang sedang ku pikirkan? Aku bahkan tidak tau kapan baru bisa keluar dari tempat ini. Aku merasa kelaparan dan kelelahan, tubuh ku juga terasa lemah dan tak bertenaga setelah berteriak dan menggedor pintu."
"Tap Tap Tap!"
__ADS_1
Suara langkah kaki membuat Han Ze Xing siaga, dia memasang telinga untuk mendengar apa yang sedang di bicarakan di depan pintu.
"Bagaimana?"
"Sebentar lagi!"
"Apakah kau sudah melakukan semua perintah?"
"Tenang saja, kami hanya memberikan secangkir minuman setiap pagi. Dia akan segera mati!"
"Mati? Aku? Apa yang sedang mereka bicarakan?" batin Han Ze Xing.
"Bagus, kita akan naik jabatan jika Menteri Gu sudah berhasil menyingkiran Raja Wei dan Putra Mahkota!"
"Menteri Gu? Gu Yong Ju? Bajingan itu yang memerintahkan kedua orang ini untuk membunuh kami secara perlahan?" batin Han Ze Xing.
"Tak terdengar suara lagi, apa dia sudah mati?"
Han Ze Xing menggeram, dia baru sadar jika ternyata selama beberapa hari ini mereka sedang di siksa perlahan-lahan. Gu Yong Ju, dalang di balik semua ini. Han Ze Xing bersumpah akan membunuh pria itu jika dia bisa keluar hidup-hidup dari istana dingin.
Malam itu mereka lalui dengan rasa dingin dan lapar yang luar biasa. Zhou Yi Thing tertidur setelah menahan rasa sakit yang menyiksa, sedangkan Han Ze Xing terlelap karena kelelahan dan tidak bertenaga.
Keesokan harinya, pasukan yang dipimpin oleh Yang Fei Xi telah tiba di pintu gerbang. Yu dan Pasukan Elang juga datang menghadap Kaisar, namun mereka di tahan di sana karena rencana busuk yang di susun oleh Gu Yong Ju dan Chang Rou Meng.
Kaisar Han Ze Ti masuk ke dalam kamar, dia berganti pakaian untuk keluar dari istana. Karena gerbang utama sedang di kelilingi oleh para pasukan yang baru tiba, Kaisar Han Ze Ti keluar lewat pintu belakang istana yang jarang di ketahui oleh orang lain.
Kaisar Han Ze Ti berjalan sendirian, dia duduk di salah satu retoran yang menghadap ke pintu gerbang istana. Seharian pria itu duduk mengamati pasukan yang sedang berdiri, tanpa rasa kasihan ataupun iba. Meski sudah mendengar kicauan dari beberapa orang di samping, tidak ada perasaan bersalah dalam dirinya.
Dalam pikiran Kaisar Han Ze Ti, pasukan itu adalah milik Raja Wei. Sehingga dia merasa tidak perlu memberikan rasa kasihan kepada mereka yang akan memberontak melawan dirinya.
__ADS_1
Kereta-kereta dari kediaman Raja Wei pun tiba, Kaisar Han Ze Ti menatap mereka dengan wajah murka. Dia merasa orang-orang itu telah mengabaikan perintah darinya.
"Beraninya mereka makan dan minum di saat menunggu perintah dariku!" ucap Han Ze Ti dalam hati.
Kedatangan Permaisuri ke tempat itu mengejutkan Han Ze Ti, dia merasa kagum dengan pemikiran wanita itu. Namun rasa kagumnya tidak sebesar kekesalannya saat melihat para prajurit itu tersenyum bahagia.
Kasim pun tiba, dia membacakan titah yang sudah di rekayasa oleh Menteri Gu Yong Ju sebab Kaisar tidak ada di tempatnya. Awalnya Han Ze Ti hendak keluar untuk menghentikan tindakan mereka, namun dia berhenti saat melihat Huang Se Se berteriak di depan Kasim.
"Apa yang akan kamu lakukan di situasi seperti ini? Aku sangat menantikannya!" ucap Han Ze Ti yang merasa penasaran.
Sementara itu, Zhun Tian sudah berada di dalam istana. Dia berada di langit-langit, menatap dan mendengar semua yang dilakukan oleh para Menteri di sana.
"Kita harus menghancurkan kediaman Raja Wei sekarang juga!"
"Benar, ini adalah saatnya kita menarik pria itu turun dari posisinya."
"Para pasukannya sedang berada di sini, kita harus segera bergerak!"
Beberapa Menteri sedang berdiskusi untuk menyerang kediaman Raja Wei. Wajah Zhun Tian berubah dingin dan marah. Dia menatap wajah para Menteri itu lalu berbisik, "Dasar manusia-manusia keji!"
Dia sangat marah, namun dia hanya mengutuk mereka dalam hati. Namun mereka kembali membuat rencana, Zhun Tian pun mendengar semua dari atas.
"Hey kalian!" ucap Gu Yong Ju.
Dua orang pria paruh baya mengalihkan pandangan ke arah Gu Yong Ju, "Ada apa?" tanya salah satunya.
Gu Yong Ju tersenyum dengan wajah mesum, dia lalu berkata, "Bunuh semuanya, tapi bawakan Permaisuri Raja Wei untukku! Aku ingin mencicipi tubuhnya lebih dulu untuk dijadikan mainan. Sayang sekali jika wanita secantik itu di sia-siakan."
Kedua pria lain pun kini terlihat berpikiran mesum, mereka tersenyum dengan membayangkan tubuh langsing yang hendak mereka jajah.
__ADS_1
Mendengar kata-kata dari Gu Yong Ju, darah Zhun Tian seakan mendidih. Dia sadar jika di dalam ruangan itu terdapat ratusan pejabat negara. Namun tidak ada satu pun yang terlihat merasa bersalah ketika Gu Yong Ju hendak mencelakakan kediaman Raja Wei. Bahkan mereka semua seakan menunggu untuk melihat kejatuhan dewa perang negara Han.
^^^BERSAMBUNG...^^^