
"Yang Mulia, hamba merasa ada bau amis yang keluar dari air itu." jawab Yu setelah lama berpikir.
"Bau amis?" gumam Raja Wei.
"Benar, hamba mencium bau amis yang seperti ... " Yu menghentikan perkataannya dan berpikir sejenak.
"Seperti apa?" tanya Raja Wei tidak sabar menunggu Yu melanjutkan ucapannya.
"Seperti darah, Yang Mulia!" ucap Yu dengan wajah serius.
Raja Wei terkejut mendengarnya. Dia memikirkan kembali kata-kata sang gadis saat menolak untuk menolong pasien yang terkena wabah.
"Dia berkata, dia akan kehilangan nyawanya jika menolong mereka. Dia berkata, dia akan mati jika melakukannya." gumam Raja Wei yang masih bisa terdengar oleh Yu.
"Yu, apa mungkin darah manusia bisa menyembuhkan penyakit?" tanya Raja Wei.
"Hamba tidak tau Yang Mulia!" jawab Yu sambil menatap mata Raja Wei.
"Sepertinya Yang Mulia berpikiran sama denganku" batin Yu.
"Mungkin pikiranku terlalu berlebihan. Darah manusia bisa menyembuhkan penyakit? Hehh... Sungguh tak masuk di akal." batin Raja Wei.
Long Jing Di menemui Raja Wei di halaman depan. Masalah wabah sudah berakhir, mereka harus menemukan solusi secepatnya untuk mengatasi kekeringan.
Sumur yang biasanya mereka gunakan sudah mulai sedikit airnya. Sumber air di kota itu akan terputus jika tidak segera menemukan solusi.
HARI BERIKUTNYA
"Tok...Tok... Tok...!"
Yu mengetuk pintu kamar Se Se. Raja Wei memerintahkan Yu untuk memanggil Se Se untuk sarapan bersama.
" .... "
Karena tidak ada jawaban, Yu kembali mengetuk pintu kamar dan masih tetap tidak ada jawaban.
"Apa terjadi sesuatu pada Nona Flo?" gumam Yu.
Yu merasa khawatir tapi tidak berani membuka pintu kamar tanpa izin. Dia kembali ke kamar Raja Wei untuk melaporkannya.
"Yang Mulia, Nona Flo tidak menjawab panggilan hamba. Hamba tidak berani membuka pintu kamar tanpa seizin beliau." ucap Yu.
__ADS_1
Raja Wei berdiri dari kursinya dan berjalan menuju kamar gadis itu.
"Nona Flo...!" Raja Wei memanggil nama gadis itu setelah sampai di depan pintu kamar. Karena tidak ada jawaban, Raja Wei mengetuk pintu dengan keras.
"Tok Tok Tok..."
Masih tidak ada jawaban.
"Apakah terjadi sesuatu pada gadis itu?" batin Raja Wei.
"Brakk!!"
Raja Wei membuka pintu kamar dengan kasar. Dia sangat khawatir jika terjadi sesuatu padanya. Gadis itu selalu membuatnya khawatir tanpa dia sadari. Raja Wei segera masuk dan membuka tirai kain tempat tidur.
"Gadis itu tidak ada di sini. Entah kemana dia pergi pagi-pagi begini." ucap Raja Wei.
"Mungkin Nona Flo sudah kembali ke Ibu Kota." ucap Yu.
"Gadis itu masih di sini!" ucap Raja Wei sambil melihat ke kotak obat yang ada di atas meja.
"Kotak itu adalah milik Nona Flo. Kalau Nona Flo tidak kembali ke kota, kemana Nona itu pergi pagi-pagi begini?" ucap Yu sambil berpikir.
"Yu, siapkan kuda! Kita akan mencari gadis itu." perintah Raja Wei.
Raja Wei mengelilingi jalanan di sekitar kediaman Long Jing Di. Yu mengikuti Raja Wei untuk memastikan keamanannya.
Hari mulai sore, namun gadis yang mereka cari belum juga ditemukan. Mereka kembali ke kediaman untuk melihat apakah gadis itu sudah kembali atau belum.
"Nona, apakah anda melihat gadis yang datang bersama kami?" tanya Yu pada salah seorang pelayan di kediaman Long Jing Di.
"Maaf Tuan, saya tidak melihat Nona itu sejak pagi." jawab pelayan itu.
"Kemana gadis itu pergi?" batin Raja Wei.
Raja Wei melangkah ke gerbang pintu untuk kembali mencari Se Se. Langkahnya berhenti saat melihat gadis itu ada di hadapannya.
Raja Wei melepaskan tali kekang kuda yang sedang di pegangnya dan berlari secepatnya ke arah gadis itu. Se Se berada di atas punggung kuda, dia terlihat sangat lemah. Bahkan posisi duduknya sudah tidak tegap lagi.
Se Se menatap Raja Wei yang ada di depannya. Dengan perlahan kudanya berjalan ke pintu gerbang. Tubuhnya tidak memiliki tenaga lagi dan dia pun terjatuh dari punggung kuda itu. Dia terjatuh dalam pelukan Raja Wei.
Wajah gadis itu terlihat pucat dan lemah, namun gadis itu tersenyum kecil saat melihat wajah Raja Wei.
__ADS_1
"Saya sudah menemukannya!" gumam gadis itu sebelum kehilangan kesadaran.
Banyak noda darah di pakaian gadis itu, beberapa goresan kecil terlukis di wajah pucatnya. Kondisi gadis itu membuat ngilu hati orang yang melihatnya.
"Yu, cepat panggil tabib!" ucap Raja Wei dengan cemas.
Raja Wei membawa Se Se ke kamar dengan bridal carry nya. Yu segera memanggil dokter untuk memeriksa kondisi gadis itu.
Flashback
Se Se baru saja bangun dari tidur nyenyaknya. Saat itu hari masih subuh, gadis itu ke dapur untuk mencari makanan. Selain sarapan bersama Raja Wei yang di akhiri dengan pertumpahan darah, dia belum makan apapun sejak kemarin.
Perutnya sudah kelaparan saat tengah malam, namun rasa lelah dan kehilangan banyak darah membuatnya tidak terganggu lagi oleh rasa lapar itu.
Saat mencari makanan di dapur, dia melihat kendi air sudah kosong. Gadis itu akhirnya pergi ke sumur yang ada di belakang kediaman Long Jing Di, tetapi di dalam sumur itu juga tidak ada air.
Se Se teringat dengan air mineral yang berada di ruang dimensi. Dia menggunakan air itu untuk membuat teh dan kemudian menikmati teh nya bersama mantou yang ada di dapur.
*Mantou\= roti
Setelah merasa puas mengisi perutnya, gadis itu teringat dengan sungai yang mengering. Rasa penasaran yang tinggi membuatnya pergi ke sungai itu untuk menyelidiki hal tersebut.
Dia membawa seekor kuda dari kandang dan menunggangi kuda itu untuk menelusuri pinggiran sungai. Setelah berkuda selama setengah hari, akhirnya dia menemukan alasan sungai itu mengering.
Aliran sungai itu terhalang oleh batu-batu besar yang tersusun menjadi benteng di sungai. Tumpukan jaring yang berisi daun-daun juga terlihat di dasar sungai. Jaring itu terikat pada batu-batu besar yang berada di dasar sungai.
Se Se mengambil selembar daun yang ada di jaring itu dan menelitinya dengan seksama. Getah dari daun itu mirip dengan getah yang sudah mengering di dasar sungai.
"Apakah getah ini yang membuat mereka keracunan?" batin Se Se.
"Akhhh... siapa orang gila yang berbuat seperti ini?" teriak gadis itu.
"Orang gila ini, aku pasti akan membunuhnya!" ucapnya dengan wajah serius.
"Apa yang akan aku lakukan dengan batu-batu ini? Bagaimana menghancurkan tumpukan batu yang lebih besar dari tubuhku?" batin Se Se.
"Sebaiknya aku menyerahkan masalah ini kepada pria itu." gumamnya.
Dia berjalan menuju ke tempat kudanya. namun beberapa orang segera mengejarnya dari belakang. Orang-orang itu menyerangnya dengan anak panah, gerakan mereka sangat cepat seperti orang yang sudah mahir memanah.
Ada sekitar 8 orang yang menyerangnya secara bersamaan. Gadis itu berusaha menghindari semua serangan anak panah yang tertuju padanya. Beberapa anak panah melesat ke tubuh dan wajahnya, namun hanya menggores daging luarnya saja.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^