
Pangeran Arnold tampak mulai tenang setelah mendengar ucapan Se Se.
"Saya akan menjahit luka nya, apakah anda ingin tetap di sini?" tanya Se Se.
"Ya, saya akan menemani Mariane." jawab Pangeran Arnold.
"...."
Se Se mengeluarkan jarum dan benang dari ruang dimensi. Tentu saja ia melakukannya tanpa di ketahui oleh Pangeran Arnold yang sedang sibuk menatap Mariane.
Setelah selesai melakukan pengobatan untuk menyelamatkan Mariane, Se Se memeriksa keadaan Mariane yang masih dalam keadaan tidak sadar.
"Putri Mariane baik baik saja sekarang. Saya harus kembali, jadi tolong tempatkan pelayan di sisi Putri Mariane untuk mencegah kejadian seperti ini terulang lagi." ucap Se Se.
"Aku mengerti." jawab Pangeran Arnold yang masih menatap Mariane.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pangeran Yohanes mengajak adik adiknya untuk berkeliling di pasar malam. Kedua putri ikut dengannya namun Pangeran Arnold menolak dengan alasan masih ada janji dengan tamu penting.
Dengan kereta kuda sederhana, ketiga saudara saudari itu mengelilingi pasar malam yang ramai dan padat penduduk.
"Kak, aku ingin mencoba kue itu!" ucap Putri Helen.
"Aku juga ingin mencoba makanan yang berbentuk bola bola disana!" tunjuk Putri Kimberly.
"Ya, Ya, ayo kita coba semuanya!" jawab Pangeran Yohanes.
Mereka bertiga turun dari kereta kuda, toko pertama yang mereka kunjungi adalah toko perhiasan.
"Kak, coba lihat anting ini!" ucap Putri Helen.
Putri Kimberly dan Pangeran Yohanes menoleh ke arah anting yang di tunjuk oleh Putri Helen.
"Bukankah warna anting ini mirip dengan warna bola mata kakak ipar?" ucap Putri Helen.
"Ya, mirip sekali." jawab Pangeran Yohanes.
Putri Kimberly mengambil anting dari tempat pajangan, ia bertanya berapa harga anting itu kepada penjaga toko.
"Maaf, anting itu sudah ada pemiliknya." jawab penjaga toko.
"Saya akan membayar dua kali lipat untuk anting ini." tawar Putri Kimberly.
"Maaf Nona, bukan saya tidak mau menjualnya kepada anda, tapi pemilik anting ini sangat menakutkan. Saya orang rendahan ini tidak berani mengusiknya." jelas penjaga toko.
"Jadi kau menganggap kami ini tidak menakutkan?" ancam Pangeran Yohanes.
__ADS_1
"Bukan... Bukan begitu Tuan. Mohon Tuan jangan menyulitkan saya yang hanya pedagang kecil. Tolong pilih perhiasan lain saja, akan saya hadiahkan kepada Nona ini." ucap penjaga toko sambil merendah.
"Aku tidak peduli, aku hanya menginginkan anting ini!" ucap Pangeran Yohanes.
Penjaga toko kelihatan cemas dan gelisah, wajahnya kusut karena terlalu keras berpikir untuk mencoba mencari jalan keluar yang terbaik.
Raja Wei dan Se Se yang kebetulan berada di sana melihat apa yang sedang terjadi.
Se Se mendekat dan memanggil penjaga toko. "Pak tua, apakah pesanan saya sudah datang?"
Penjaga toko segera memberi hormat begitu melihat kedatangan Se Se.
"Saya memberi hormat kepada Yang Mulia dan Permaisuri."
"Jangan bersikap hormat, aku tidak ingin dikerumuni oleh orang orang." ucap Se Se.
Penjaga toko segera pergi mengambil sebuah kotak yang dia simpan di dalam laci.
"Tidak di sangka kita bisa bertemu di sini Yang Mulia Raja Wei dan Permaisuri." ucap Pangeran Yohanes.
Raja Wei menatap Pangeran Yohanes dengan wajah dingin, meski ia sudah mencoba menahannya, ia masih tidak bisa menyembunyikan rasa permusuhannya terhadap pria itu.
"Apakah Permaisuri juga datang untuk melihat keramaian?" tanya Putri Helen yang berwajah polos.
"Tidak, saya hanya datang untuk mengambil barang pesanan." jawab Se Se.
"Baguslah Pak Tua ini cepat kembali dan memotong percakapan kami, entah kenapa aku tidak menyukai orang orang ini." benak Se Se.
"Pak Tua, berapa harga barang ini?" tanya Se Se.
"Yang Mulia sudah membayar lebih dari cukup di awal pembayaran, jadi Yang Mulia tidak perlu membayar lagi." jawab penjaga toko.
"Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu." ucap Se Se.
"Tu... Tunggu sebentar Yang Mulia." pinta penjaga toko.
Penjaga toko mendekat kemudian berkata dengan suara kecil, "Tolong saya!"
Se Se melirik ke arah rombongan Pangeran Yohanes, ia kemudian kembali menatap penjaga toko.
"Pinjamkan padaku sebentar!" ucap Se Se.
Penjaga toko segera meminta anting yang di pegang oleh Pangeran Yohanes.
"Maaf Tuan, Permaisuri ingin melihat anting ini sebentar!" ucap penjaga toko dengan hati hati.
Dengan terpaksa Pangeran Yohanes memberikan anting kepada penjaga toko.
__ADS_1
"Yang Mulia, ini antingnya." ucap penjaga toko sembari menyerahkan anting ke tangan Se Se.
Se Se melihat detail anting, dia kemudian meminta penjaga toko untuk mengumpulkan bahan untuk membuat anting.
Dalam waktu yang singkat penjaga toko telah berhasil mengumpulkan bahan bahan yang di minta oleh Se Se.
Penjaga toko memberikan tempat duduk dan meja, Se Se mulai mengolah bahan bahan yang diberikan oleh penjaga toko.
Raja Wei dan rombongan Pangeran Yohanes melihat apa yang di lakukan oleh Se Se. Beberapa saat mereka kebingungan, namun semenit kemudian mereka terlihat sangat kagum dan hampir tak percaya terhadap apa yang mereka lihat.
Tentu saja tidak dengan Raja Wei, dia tau betul istrinya memang memiliki banyak bakat.
Hanya perlu waktu sekejap bagi Se Se untuk meniru anting itu. Se Se menyelesaikan tahap akhir dengan memasukkan batu permata di bagian ujung anting.
"Selesai!" ucap Se Se setelah berhasil memasang permata kedua.
"Sangat mirip!" ucap penjaga toko setelah membandingkan kedua anting yang ada di meja.
"Wow, luar biasa sekali...!" puji Putri Helen.
"Benar benar mirip. Aku bahkan tidak bisa membedakan mana yang asli." ucap Putri Kimberly.
"Tidak ada yang asli ataupun palsu, kedua anting ini terbuat dari bahan yang sama." ucap Raja Wei.
"Dengan begini, kalian tidak perlu berebut bukan?" tanya Se Se pada Pangeran Yohanes.
Sadar jika dirinya sedang di sindir oleh Se Se, Pangeran Yohanes hanya menatap tajam ke arah wanita itu tanpa berkata apa apa.
"Pak Tua, karena masalah sudah selesai, saya akan pergi sekarang." ucap Se Se kepada penjaga toko.
"Terima kasih Yang Mulia!" ucap penjaga toko sambil memberi hormat.
Raja Wei dan Se Se pergi meninggalkan rombongan Pangeran Yohanes. Tatapan Pangeran Yohanes terus melekat hingga punggung mereka menghilang di balik keramaian.
Pangeran Yohanes mengepal erat telapak tangannya, dalam hati ia berkata, "Aku akan membalas penghinaan ini!"
Putri Helen dan Kimberly masih terkagum kagum melihat kedua anting yang sama persis.
"Kak, ayo beli ini sebagai hadiah untuk kakak ipar." ucap Putri Helen.
"Semoga dia menyukainya." jawab Putri Kimberly.
"Dua gadis bodoh dan naif! Setiap hari hanya tau belanja dan bermain. Benar benar tidak berguna!" keluh Pangeran Yohanes dalam hati.
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1