
Dia makin kesulitan saat luka di bahunya terbuka. Luka itu membuat tangannya sakit saat bergerak cepat. Dia mengeluarkan pistol dan mulai menembak orang-orang yang sedang memburunya. Hanya beberapa menit saja, mereka sudah tewas dengan kepala yang berlubang.
Se Se memeriksa barang yang ada di tubuh mayat-mayat di depannya. Dia menemukan sebuah tanda pengenal dengan kata "Han".
"Han" yang sama dengan marga Kaisar saat ini dan Raja Wei.
Se Se bertanya-tanya dalam batinnya, "Apakah mereka orang yang dikirim dari istana? Siapa orang di istana yang berani melakukan perbuatan ini? Untuk apa mereka melakukan hal ini?"
Tubuhnya terasa lemah setelah melawan orang-orang itu. Luka-luka itu membuat penampilannya saat ini sangat menyedihkan. Luka di bahunya yang terbuka juga menambah rasa sakitnya dan darah yang membasahi bajunya juga semakin banyak.
Dengan sisa tenaga yang ada, dia kembali ke kediaman Long Jing Di (Wali Kota Jinan).
********
Tabib memeriksa keadaan Se Se. Menurut tabib, gadis itu kehilangan banyak darah, sehingga membuatnya hilang kesadaran. Kurang istirahat dan kurang asupan makanan, juga membuat tubuhnya lemah.
Tabib itu menulis resep obat untuk gadis itu dan memberikan resep itu kepada Yu.
"Nona ini harus minum obat untuk menambah darahnya. Resep ini harus diberikan kepada Nona ini sebanyak dua kali sehari. Pastikan Nona ini makan dengan teratur agar tubuhnya lebih cepat pulih." kata tabib.
"Terima Kasih, tabib Fu." ucap Yu.
"Apa yang sudah gadis bodoh ini lakukan dari pagi? Kenapa kondisinya seperti ini? Apa maksud kata-katanya tadi? Sudah menemukannya? Menemukan apa?" batin Raja Wei.
"Yu, suruh pelayan untuk membeli resep itu dan siapkan untuk Nona Flo." perintah Raja Wei.
"Baik, Yang Mulia." jawab Yu.
Beberapa saat kemudian, Yu kembali ke kamar dan memberi laporan kepada Raja Wei.
"Yang Mulia...!" ucap Yu ragu-ragu.
"Ada apa? Katakan!" tanya Raja Wei tak sabar.
"Itu... air yang ada di kediaman sudah habis dan tidak ada air di sumur dan sungai di sekitar sini. Pelayan tidak bisa memasak obat untuk Nona..." lapor Yu.
"Apa tidak ada cara lain untuk mendapatkan air?" tanya Raja Wei.
__ADS_1
"Tuan Long sudah membawa air dari kota lain namun air itu belum tiba. Menurut Tuan Long air itu akan tiba dua hari lagi." ucap Yu.
"Bagaimana mungkin gadis ini bisa menunggu dua hari tanpa air. Dia akan kehilangan nyawanya sebelum air itu tiba!" batin Raja Wei.
Raja Wei melihat jari gadis itu bergerak, dia segera mendekat dan memanggil namanya.
"Nona Flo!"
"Nona Flo!"
Gadis itu mulai membuka matanya secara perlahan dan menatap pemuda di depannya.
"Apa aku sudah mati?" tanya gadis itu dengan wajah lemahnya.
Raja Wei tersenyum dan menjawab, "Anda tidak akan mati sebelum saya mengizinkan."
"Dasar pemuda arogan! Apa Anda sudah menjadi Raja Neraka sekarang?" tanya gadis itu dengan senyuman kecil di wajahnya.
Senyum Raja Wei mulai memudar, terlihat rasa menyesal di raut wajahnya. Dia memandang gadis itu dan berkata, "Maaf, tidak ada air di kediaman ini. Aku tidak bisa memberimu obat dan minuman. Bertahanlah sebentar, air itu akan tiba dalam dua hari."
Se Se tersenyum ceria, kemudian dia berkata, "Yang Mulia, saya sudah menemukan penyebabnya. Air sungai itu tertahan oleh batu yang disusun menutup aliran air. Anda hanya perlu menghancurkan benteng batu itu. Air akan mulai mengalir lagi."
"Ikuti saja tepi sungai itu hingga menemukan tumpukan batu besar. Air sungai itu mengalir dari arah barat. Pergilah ke sana, Anda akan dengan mudah menemukannya. Berhati-hatilah karena ada orang mengawasi tempat itu." jelas Se Se.
Raja Wei ingin bertanya lagi tentang luka di tubuhnya, namun mata Se Se terpejam kembali. Dia tidak tega mengganggunya, Raja Wei memutuskan untuk pergi mencari batu yang dikatakan oleh gadis itu lebih dulu.
"Yu, panggil beberapa pengawal untuk melindungi kamar ini, jangan biarkan seekor lalat pun masuk!" perintah Raja Wei.
Mereka pergi ke tempat yang dimaksud oleh Se Se pada pagi harinya. Raja Wei membawa beberapa pengawal dan palu besar ke sana.
Cukup memakan waktu untuk menghancurkan batu-batu itu. Tumpukan yang berlapis-lapis ditambah dengan jalanan yang tidak rata membuat mereka kesulitan.
Beberapa pengawal terluka akibat tertindih batu besar yang terjatuh dari tumpukan saat di hantam dengan palu. Namun mereka berhasil melakukan tugasnya dengan baik. Air mengalir deras menuju kota Jinan. Mereka tertawa bahagia melihat hasil usahanya tidak sia-sia.
Kembali ke kediaman, gadis itu masih tertidur lelap. Beberapa pengawal menjaga pintu kamar dan tidak mengizinkan siapapun masuk. Namun dua orang pembunuh telah mengintai kamar itu.
"Syuttt...! Syuttt!"
__ADS_1
Dua pengawal langsung mati tertembak anak panah yang meluncur dari busur pembunuh. Mereka turun dari atap kediaman dan membuka pintu kamar.
Sebelum mereka masuk, pengawal lain yang melihat hal itu langsung menyerang pembunuh itu. Suara perkelahian membangunkan Se Se dari tidurnya.
Dia mengeluarkan pistol dan menembak kedua pembunuh itu di depan para pengawal. Mereka merasa takjub dengan senjata yang digunakan gadis itu.
"Periksa tubuh mereka!" perintah Se Se.
"Baik Nona." jawab pengawal serentak.
"Nona, benda ini ditemukan di tubuh mereka berdua." ucap seorang oengawal sambil menunjukkan benda di tangannya.
Se Se mengambil benda itu dan melihatnya dengan seksama.
"Token ini, token yang sama dengan milik para pembunuh di tempat tumpukan batu." batinnya.
"Tolong singkirkan mayat-mayat ini!" perintah gadis itu lagi.
Pengawal segera membawa mayat itu ke halaman dan seorang pelayan membersihkan bekas darah pembunuh yang ada di lantai dan pintu kamar.
Se Se mengambil jarum suntik dan menyuntik lengannya dengan serum penambah darah yang di ciptakan oleh profesor Jimm. Serum itu akan bekerja dengan baik setelah 24 jam.
"Air sudah kembali, air sudah mengalir lagi!" ucap seorang pelayan dari luar kamar.
"Air sungai kembali mengalir, kita tidak akan kekeringan lagi." kata seorang pengawal.
Semua orang bahagia dengan air sungai yang kembali mengalir. Air di dalam sumur juga suda mulai terisi kembali.
"Akhirnya kekeringan ini berakhir. Aku kangen pada Ling Er, Kakak dan juga Ayah. Apa yang mereka lakukan sekarang? Apakah kakak masih akan menganggapku sebagai adiknya?" batin Se Se.
Raja Wei dan Yu kembali ke kediaman saat hari mulai malam. Mereka terlihat lelah dengan pakaian yang sudah kotor dan ada beberapa pengawal yang terluka. Namun wajah mereka tetap terlihat senang dan bahagia.
Raja Wei panik saat melihat beberapa mayat di halaman. Dia segera berlari menuju kamar Se Se dan masuk ke sana.
"Brakkk!!!" suara pintu kamar dibuka yang dengan kasar
"Ya...Ya...Yang Mulia....!!!" ucap gadis itu terbata-bata.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^