The Princess Story

The Princess Story
Tangga rahasia


__ADS_3

Mendapat pertanyaan seperti itu, Se Se tertegun. Dalam hati, dia bertanya, "Apa yang harus aku katakan? Haruskah aku jujur menjawab jika Zhun Tian yang datang kemari? Tapi, wajah Xuan kelihatan sedang marah."


Karena tidak ada jawaban, Raja Wei kembali bertanya, "Siapa yang datang ke tempat ini di saat aku tidak ada?"


"Sudahlah, lagi pula aku juga tidak bisa membohonginya." batin Se Se.


"Zhun Tian kemari tadi." jawab Se Se sambil menatap wajah suaminya.


Raja Wei mendekat, dia lalu menyandarkan kepala di atas pundak istrinya yang sedang duduk di atas kursi.


"Jangan menemui laki-laki lain di belakang ku! Jangan ke mana-mana tanpa aku dan jangan tinggalkan aku! Ku mohon..."


Se Se mengangkat tangannya, dia lalu mengelus rambut Raja Wei. "Permintaan bodoh macam apa itu? Mana mungkin aku pergi tanpamu! Terkadang, aku ingin melihat apa yang ada di dalam kepala Xuan itu?"


Raja Wei diam tanpa berkata-kata, dia hanya memejamkan mata dan menikmati belaian lembut dari istrinya.


"Entah kenapa, aku selalu mendapat firasat buruk belakangan ini. Aku selalu merasa gadis kecilku akan pergi meninggalkan ku." batin Raja Wei.


Setelah beberapa saat, Se Se memanggil nama suaminya.


"Xuan..."


"Hmm?"


"Xuan...!


"Ya?"


"Xuan...!


"Aku di sini."


"Lihat aku!"


Raja Wei mengangkat kepalanya, dia lalu menatap kedua mata istrinya sambil berkata, "Aku sedang melihatmu."

__ADS_1


"Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Se Se ketika melihat wajah Raja Wei yang seakan hendak menangis.


Pria itu hanya diam tanpa berkata-kata. Dia menatap wajah istrinya beberapa saat hingga akhirnya Se Se mengeluh, "Leherku sakit!"


Mereka hening sesaat, setelah menyadari jika istrinya sedang bercanda, kedua pasangan itu pun tertawa bersama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


PERPUSTAKAAN ISTANA


Sudah hari ke tiga Perdana Menteri Huang mencari stempel di dalam ruang perpustakaan. Pria itu tidak menyerah meski sudah mencari di banyak tempat. Dia menggeledah satu persatu kotak yang berjumlah ribuan di sana.


Merasa lelah, Perdana Menteri Huang berjalan menuju ke sebuah kursi yang terletak di sudut ruangan. Di samping kursi terdapat sebuah meja kecil yang hanya seukuran 30 x 30 cm. Perdana Menteri Huang lalu duduk di atas kursi sambil melihat sekeliling ruangan.


"Entah sampai kapan aku harus mencari stempel itu, aku bahkan tidak bisa meminta bantuan orang lain karena ini masalah yang tidak boleh diketahui." keluh Perdana Menteri Huang dalam hati.


Setelah duduk beberapa saat, Perdana Menteri Huang berdiri, dia ingin melanjutkan pencarian stempel. Beberapa hari mencari stempel, kepala pria itu terasa pusing karena terlalu lelah.


Rasa pusing itu membuat Perdana Menteri Huang hampir terjatuh ketika ia mencoba berdiri dari duduknya. Pria itu menahan berat tubuhnya di atas meja kecil di samping.


Dinding di belakang punggung Perdana Menteri Huang bergeser, sebuah anak tangga menuju ke bawah tanah muncul di sana.


Perdana Menteri Huang merasa penasaran, dia lalu turun melalui anak tangga. Anak tangga terhubung ke sebuah lorong gelap tanpa cahaya. Perlahan, Perdana Menteri Huang berjalan menyusuri lorong.


Setelah berjalan beberapa saat, terlihat sebuah cahaya di ujung lorong yang gelap. Perdana Menteri Huang mempercepat langkahnya hingga dia tiba di sebuah ruangan.


Ruangan itu diterangi oleh mutiara bulan yang mengeluarkan cahaya, terdapat puluhan mutiara bulan di dalam ruangan. Perdana Menteri Huang lalu melihat sekeliling, raut wajahnya seakan terkejut melihat semua benda di dalam sana.


Banyak sekali harta di dalam ruangan, jika di ibaratkan, ruangan itu seperti ruang harta karun. Banyak kotak kayu yang berisi emas dan mutiara, barang-barang mahal yang lain juga terlihat di dalam kotak.


Setelah melihat sekilas, mata Perdana Menteri Huang tertuju pada sebuah kotak kecil di atas rak kayu. Pria itu lalu melangkah mendekat dan mengambil kotak tersebut. Dia membuka kotak itu, matanya langsung berbinar begitu melihat isinya.


"Akhirnya aku menemukan stempel ini!" ucap Perdana Menteri Huang dengan senyum bahagia.


Perdana Menteri Huang meletakkan kembali stempel di dalam kotak, dia lalu melihat kotak besar yang terletak di lantai. "Dari mana Yang Mulia mendapatkan emas dan mutiara sebanyak ini?" tanya Perdana Menteri Huang yang entah kepada siapa.

__ADS_1


Mata Perdana Menteri Huang lalu terpaku di sebuah kotak kayu besar yang masih tertutup. Kotak kayu itu memiliki ukuran yang mirip dengan peti mati. Karena penasaran, Perdana Menteri Huang membuka kotak kayu itu.


Langkah kakinya mundur beberapa kali, dia begitu terkejut melihat isinya.


"Apa yang terjadi di sini?" tanyanya dengan raut wajah yang sangat terkejut.


Seorang pria berbaring di dalam peti. Pria itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan Raja terdahulu. Perdana Menteri Huang segera menutup kembali peti, dia lalu mengambil sebuah kotak yang berisi stempel dan bergegas keluar dari ruangan.


Sesampainya di atas, Perdana Menteri Huang menutup kembali tangga rahasia. Dia tidak ingin seseorang mengetahui keberadaan ruangan itu sebelum disampaikan kepada Han Ze Xing.


Perdana Menteri Huang berjalan menuju ke Istana Matahari. Dia menemui Han Ze Xing di taman kecil yang berada di depan kamar.


"Perdana Menteri Huang, ada apa? Wajah anda terlihat pucat, apakah anda sedang tidak sehat?" tanya Han Ze Xing yang merasa khawatir.


Perdana Menteri Huang menyodorkan sebuah kotak kayu di depan Han Ze Xing, "Saya baik-baik saja dan stempel ini sudah ditemukan. Sudah saatnya bagi Yang Mulia untuk meneruskan tahta." ucapnya dengan wajah serius.


Han Ze Xing merasa berat untuk menerima stempel itu, dia menatap lama kotak kayu yang ada di depan mata. Lalu dia berkata, "Sepertinya, aku tidak bisa menerima beban berat ini."


"Yang Mulia..." Perdana Menteri Huang hendak mengatakan sesuatu, namun mulutnya tertutup begitu melihat kehadiran seseorang.


"Xing, apakah aku mengganggu kalian?" tanya Zhou Yi Thing yang baru saja tiba.


"Tidak, aku hanya sedang berbincang dengan Perdana Menteri Huang." jawab Han Ze Xing yang langsung tersenyum begitu melihat wajah istrinya.


"Saya akan kembali lagi nanti." ucap Perdana Menteri Huang yang lalu pergi dari sana setelah memberi hormat.


"Aku harus membicarakan hal ini kepada Ye Yuan dan Se Se lebih dulu." batin Perdana Menteri Huang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Huo Feng kembali ke gua tempat dia menyembunyikan telur phoenix. Pria itu mengamati telur dari jarak dekat, retakan-retakan kecil terlihat di kulit luar telur merah yang mengeluarkan bara api.


"Sudah hampir saatnya!" ucap Huo Feng yang berwajah datar.


Perlahan, retakan di kulit telur semakin membesar. "Krekkk!" kulit telur itu terbelah dua, sesuatu keluar dari dalam telur.

__ADS_1


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2