The Princess Story

The Princess Story
Episode 271


__ADS_3

Se Se membereskan semua sisa bahan yang ada di meja, dia menyimpan kembali alat-alat yang dia pakai untuk meracik pil obat.


Huo Feng merasa aneh ketika melihat Se Se menyimpan semua barang itu di dalam ruang dimensi, "Kemana perginya semua barang-barang itu?" benak Huo Feng


"Aku mau tidur! Kamu mau keluar sendiri atau mau aku antar keluar secara paksa?" tanya Se Se sambil tersenyum licik.


"Ckkk...!" decak Huo Feng dengan wajah kesal.


Huo Feng mengeluarkan sayapnya, dia keluar melalui pintu jendela yang terbuka. Belum lama sejak kepergian Huo Feng, pria itu kembali lagi ke kamar Se Se.


"Kenapa kau kembali lagi?" tanya Se Se.


"Aku melupakan sesuatu!" jawab Huo Feng.


"Apa?" tanya Se Se.


Huo Feng mendekat ke arah Se Se, dia menarik tangan wanita itu kemudian menjilati darah yang sudah mengering di atas lukanya.


"Aku melupakan ini!" jawab Huo Feng.


Luka di tangan wanita itu perlahan menghilang, kulitnya yang terbuka kini kembali mulus seperti sedia kala.


Se Se merasa takjub melihat proses penyembuhan luka yang begitu cepat. Dia menatap Huo Feng dengan tatapan menyelidik, "Huo Feng, kau...!! Apakah kau juga memiliki kekuatan suci?" tanya Se Se.


"Tentu saja! Aku ini kan phoenix yang agung!" jawab Huo Feng dengan wajah bangga.


"Jika dia memiliki kekuatan suci yang dapat menyembuhkan luka, apakah aku bisa memanfaatkannya untuk menyembuhkan luka pada tubuh Liu?" pikir Se Se dalam hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari menjelang pagi, Hong Yu Lin baru saja membuka matanya. Dia meraba-raba tubuh mayat yang berada di balik selimut.


"Gadis mana lagi kali ini yang datang menyerahkan dirinya untuk ku?" pikir Hong Yu Lin.


Tangan Hong Yu Lin meraba bagian dada tubuh pria itu, dalam hati dia berkata, "Hmm... Sedikit rata, tapi rasanya keras dan berotot."

__ADS_1


Tangan Hong Yu Lin mengarah turun ke perut, dalam hati dia kembali berkata, "Perutnya sedikit buncit, tapi aku suka yang berdaging."


Tangannya kembali bergerak lebih ke bawah lagi, Hong Yu Lin meraba-raba dan terus meraba lagi sambil bertanya dalam pikirannya, "Kenapa benda ini ada di sini? Bukankah seharusnya benda ini ada di tempatku?"


Setelah beberapa saat dia meraba benda tumpul yang mirip dengan sosis itu, Hong Yu Lin akhirnya menyadari benda apa yang sedang di raba olehnya.


Hong Yu Lin membuka selimut yang menutupi mayat pria yang ada di sebelahnya, "Akhhhhh!!!" jeritan Hong Yu Lin menggema hingga keluar kamar.


"Sial!!! Mayat dari mana ini? Kenapa bisa ada di sini?" teriak Hong Yu Lin sambil marah-marah.


Pengawal yang berjaga segera masuk ke kamar Hong Yu Lin begitu mereka mendengar suara jeritan tuannya.


"Apa yang kalian kerjakan? Kenapa mayat ini bisa ada di kamarku?" tanya Hong Yu Lin dengan suara yang keras.


"Maaf Tuan! Kami tidak melihat ada orang yang masuk ke sini." ucap salah satu pengawal.


"Apa gunanya aku membayar mahal kalian semua? Penyusup saja bisa masuk hingga ke kamar ku!" bentak Hong Yu Lin lagi.


"Maafkan kami Tuan.! Jawab para pengawal serentak.


Setelah semua pengawal keluar, Hong Yu Lin menatap tangannya yang tadi meraba-raba tubuh mayat itu sambil membayangkan kembali saat dia meraba tubuh itu.


Dia merasa jijik karena tangannya meraba mayat pria yang dikiranya seorang wanita muda. Apalagi saat dia terbayang benda tumpul yang dia raba-raba dalam waktu yang lama, Hong Yu Lin pun menjerit dalam pikirannya, "Akhhhhh.... Menjijikkan sekali! Sial!!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ye Yuan menemui Jenderal yang bertugas untuk menjaga pintu gerbang di perbatasan utara. Pria yang bernama Yang Fei Xi itu menyambut kedatangan Ye Yuan dengan ramah.


Mereka masuk ke sebuah gedung lama yang dibangun untuk tempat tinggal para prajurit. Yang Fei Xi menuntun Ye Yuan hingga tiba di ruang tamu.


Yang Fei Xi mempersilahkan Ye Yuan untuk duduk di ruang tamu, setelah itu dia meminta pelayan untuk membawakan minuman.


"Terima kasih telah menerima permintaan kami." ucap Yang Fei Xi.


"Itu sudah merupakan kewajiban saya untuk membantu melindungi negara ini." jawab Ye Yuan.

__ADS_1


"Bolehkah saya tau berapa banyak prajurit tambahan yang anda bawa?" tanya Yang Fei Xi.


"Atas persetujuan Yang Mulia, saya membawa satu juta prajurit untuk membantu perang ini." jawab Ye Yuan.


"Terima kasih atas kemurah hatian Yang Mulia. Saya harap perang ini dapat segera berakhir." ucap Yang Fei Xi dengan wajah murung.


Sudah delapan tahun Yang Fei Xi menjaga perbatasan utara, selama itu dia tidak pernah kembali ke rumahnya. Ibu dan istri yang dia tinggalkan selalu mencemaskan Yang Fei Xi yang tidak kunjung kembali.


Yang Fei Xi tentu saja sangat ingin kembali kepada keluarganya, namun perang yang panjang ini membuat pria itu tidak diizinkan untuk meninggalkan perbatasan.


Ye Yuan juga dapat merasakan kegelisahan yang di alami oleh Yang Fei Xi, dia juga merasa simpati kepada pria itu sekaligus berterima kasih kepadanya. Berkat Yang Fei Xi kedamaian di negara Han terus terjaga, keberadaan Yang Fei Xi di sini bagaikan akar pohon yang menjadi sumber kehidupan pohon itu. Jika pria itu meninggalkan tempat ini, mungkin perang ini akan menjadi sebuah kekalahan bagi negara Han.


Kekuatan Yang Fei Xi yang terbesar adalah dia memiliki semangat juang yang tinggi serta memiliki pasukan yang sangat loyal terhadap dirinya. Satu kata dari Yang Fei Xi bisa menggerakkan hati para prajurit, dia memiliki kemampuan untuk mendapatkan kepercayaan para prajurit di medan perang.


"Ayo kita akhiri perang ini dalam sebulan!" ucap Ye Yuan dengan yakin.


Yang Fei Xi terperanjat mendengar kata-kata Ye Yua. Jangankan sebulan, jika bisa mengakhiri perang dalam waktu satu tahun saja sudah merupakan kabar yang membahagiakan untuk Yang Fei Xi. Namun keyakinan di wajah Ye Yuan membuat Yang Fei Xi juga ingin mewujudkan impian itu.


"Ayo kita akhiri perang ini bersama!" jawab Yang Fei Xi sambil tersenyum cerah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ti Er menyusul Raja Wei untuk pergi ke perbatasan utara, dia memacu kudanya dengan cepat tanpa istirahat. Sesampainya di pintu gerbang perbatasan, dua penjaga gerbang menolak untuk membukakan pintu untuk Ti Er.


"Buka pintunya!" ucap Ti Er yang kesal karena kedua penjaga di sana melarangnya untuk masuk.


"Kau tidak memiliki izin untuk masuk ke sini! Tolong segera pergi dari sini!" ucap salah satu penjaga.


"Aku ini prajurit yang dikirim dari kekaisaran!" ucap Ti Er dengan nada meninggi.


"Hey bung, prajurit dari kekaisaran sudah tiba dari tadi pagi. Jika ingin berbohong, setidaknya berikan kebohongan yang masuk akal!" jawab penjaga yang bernama Ye Han.


"Sudah pergi sana! Jangan menghalangi pintu gerbang ini!" usir penjaga yang bernama Rong Chu.


^^^BERSAMBUNG...^^^

__ADS_1


__ADS_2