The Princess Story

The Princess Story
Han Ze Xing


__ADS_3

Gadis itu kembali ke wajah aslinya, dia berniat kembali ke ibu kota tanpa menemui Raja Wei. Dia akan berpura-pura sudah meninggal dan tidak muncul lagi dengan wajah Florence.


********


Putra Mahkota sedang melakukan kunjungan ke Vihara untuk bersembahyang. Itu adalah hari di mana ibu kandung Putra Mahkota meninggal.


Han Ze Xing ke Vihara untuk mendoakan ibunya. Namun dia di kejar oleh pembunuh saat perjalanan pulang ke istana.


*Han Ze Xing \= Putra Mahkota


"Yang Mulia, ada yang mengejar kereta kita." ucap seorang pengawal.


Han Ze Xing membuka penutup jendela, dia melihat ke belakang kereta.


"Syuttt!"


Tiba-tiba anak panah meluncur ke arahnya. Dia menghindar dan berlindung dari serangan itu. Pembunuh makin mendekat, pengawal Han Ze Xing bertarung dengan mereka.


"Yang Mulia, cepat pergi dari sini!" ucap seorang pengawal.


Putra Mahkota mengeluarkan pistolnya.


"Dor! Dor! Dor!"


Setelah beberapa kali menembak, peluru di pistol itu telah habis. Pembunuh yang tersisa masih berjumlah puluhan.


Putra Mahkota turun dari kereta dan berlari ke arah hutan untuk bersembunyi dari para pembunuh. Pengawal yang tersisa melindungi Putra Mahkota dengan nyawa mereka.


Se Se kebetulan sedang melewati tempat itu, dia melihat Putra Mahkota yang berlari ke dalam hutan.


"Apa yang dilakukan Putra Mahkota di tempat ini? Sebaiknya aku mengikutinya." batin Se Se.


"Apa aku akan mati di sini?" batin Han Ze Xing.


"Syuttt!"


Sebuah anak panah melesat ke arah Han Ze Xing.


"Dor!"


Se Se menembak anak panah itu dengan pistol. Anak panah itu terbelah dua dan terjatuh ke tanah.


Se Se berlari ke tempat Han Ze Xing. Dia berdiri di depan pemuda itu untuk melindunginya dari serangan pembunuh.


Para pembunuh mengeliling mereka. Ada sekitar 10 orang pembunuh yang mengejar Han Ze Xing.


"Huff... kenapa banyak sekali orang yang ingin membunuh anda, Yang Mulia?" tanya gadis itu.


Putra Mahkota melihat ke wajah gadis itu dan segera mengenalinya. "Putri Huang?"


"Ya, saya Huang Se Se, Putri pertama keluarga Huang. Yang Mulia, apakah Anda percaya pada saya?" tanya gadis itu.

__ADS_1


Han Ze Xing merasa pernah mendengar pertanyaan itu. Dia berpikir sesaat lalu mengingat Nona Flo, orang yang pernah menyembuhkan kakinya.


Han Ze Xing kemudian tersenyum dan berkata, "Saya percaya pada Anda, Putri Huang!"


"Sudah mau mati masih sempat mengobrol!" ucap seorang pembunuh.


"Gadis cantik ini sangat mubajir jika dibiarkan mati begitu saja." kata pembunuh lain.


"Gadis cantik... jika kau melayani kami dengan baik, nyawamu akan diampuni." ucap pembunuh itu dengan mata nya yang penuh nafsu melihat kecantikan gadis di depannya.


"Benar, sayang sekali jika gadis secantik dirimu mati begitu saja. Bagaimana jika kau menjadi pemuas nafsu kami?" ucap pembunuh lainnya dengan nada merendahkan.


"Hahahaha..." kelompok pembunuh itu tertawa meremehkan musuhnya.


"Yang Mulia, dalam hitungan ketiga, larilah ke arah timur dengan kecepatan maksimal anda. Apapun yang terjadi, jangan berbalik!" bisik Se Se dengan suara yang hanya didengar oleh Han Ze Xing.


Han Ze Xing mengangguk tanda mengerti.


Satu!


Dua!


"Dor!"


Se Se menembak pembunuh yang menghalangi jalan Putra Mahkota.


"Lari!" ucap Se Se dengan suara keras.


Dia meminta Putra Mahkota berlari agar pemuda itu tidak melihat gerakan gesitnya. Akan merepotkan jika Han Ze Xing bertanya tentang kemampuan menembak dan bertarungnya.


Dia menyusul Putra Mahkota dan kembali ke Ibu Kota bersama pemuda itu.


ISTANA KAISAR


"Yang Mulia, Putra Mahkota sudah kembali." lapor seorang prajurit istana.


"Cepat panggil dia ke sini!" perintah Kaisar.


"Baik Yang Mulia." jawab prajurit itu.


Han Ze Xing menemui Kaisar bersama Putri Huang.


"Salam saya pada ayah Kaisar." ucap Han Ze Xing sambil menunduk.


"Hormat saya pada Yang Mulia Kaisar. Semoga Yang Mulia panjang umur dan selalu diberkati." ucap gadis itu memberikan salam.


"Bangunlah, silakan duduk Xing dan Putri Huang!"


"Terima Kasih ayah Kaisar/Yang Mulia." jawab mereka serentak.


"Saya dengar kamu bertemu dengan pembunuh diperjalanan. Apa kamu terluka Xing?" tanya Kaisar.

__ADS_1


"Ya ayah Kaisar, saya bertemu dengan pembunuh tapi saya tidak terluka. Putri Huang menyelamatkan saya dari para pembunuh itu." jawab Han Ze Xing.


"Putri Huang, Terima Kasih sudah menyelamatkan Xing. Apa ada yang kamu inginkan? Saya akan memberikannya untuk Putri karena sudah menyelamatkan Xing." ucap Kaisar.


Se Se ingin menolaknya, namun dia teringat dengan suatu kesalahan besar yang telah dia lakukan. Dia berpikir sesaat dan menjawab, "Jika boleh, saya ingin minta di ampuni dan dibebaskan dari hukuman mati. Jika suatu saat nanti ada kesalahan besar yang telah saya lakukan, mohon Yang Mulia berbaik hati untuk mengampuni nyawa saya dan keluarga Huang."


Putra Mahkota mengerutkan alisnya, begitu juga dengan Kaisar. Gadis ini tidak meminta harta atau perhiasan, dia minta diampuni jika melakukan kesalahan!


"Kesalahan Apa yang sudah dia lakukan?" batin Han Ze Xing


"Putri Huang, karena saya sudah berjanji akan memberikan hadiah yang Putri inginkan, saya akan melakukannya." ucap Kaisar.


Kaisar menggerakkan jarinya, memberi kode pada kasim untuk membawakan sesuatu.


"Berikan pada Putri Huang!" perintah Kaisar saat kasim datang mrmbawa sebuah kotak.


Se Se membuka kotak itu, di dalam kotak itu terdapat sebuah plakat emas yang tertulis kata pengampunan.


"Terima Kasih Yang Mulia." ucap Se Se dengan senyuman lebar.


Karena saya sudah lelah, kalian boleh kembali ke Istana Matahari.


"kami mohon diri ayah Kaisar/Yang Mulia." ucap mereka bersamaan.


Sampai di Istana Matahari, Han Ze Xing bertanya tentang pistol yang digunakan oleh Se Se.


"Putri, apa saya boleh bertanya dari mana asal pistol itu?" ucap Han Ze Xing.


"Pistol ini diberikan oleh Florence kepada saya Yang Mulia." jawab Se Se mengarang kebohongan.


"Dia juga kemberikan pistol itu pada saya, namun pistol itu sudah rusak saat bertemu dengan pembunuh." ucap Han Ze Xing.


Se Se tersenyum mendengar kata 'rusak'. Dia kemudian berkata, "Yang Mulia, bolehkah saya melihat pistol Anda?"


Han Ze Xing mengeluarkan pistolnya dan memberikan pistol itu pada Se Se.


Se Se mengambil peluru dari ruang dimensi kemudian mengisi pistol itu dengan peluru.


"Yang Mulia, pistol ini tidak rusak, hanya kehabisan peluru saja. Simpanlah pistol ini dengan baik, senjata ini sangat berbahaya." ucap Se Se menjelaskan.


Han Ze Xing terkagum melihat pistol iti bisa dibuka dan diisi peluru. Se Se mengajari cara mengisi pelurunya. Gadis itu memberikan beberapa kotak peluru untuk Putra Mahkota.


"Terima Kasih Putri Huang sudah mengajari saya." ucap Han Ze Xing.


Han Ze Xing menatap wajah Se Se, dia berpikir, "Wajahnya sangat cantik, dia juga baik hati dan ramah. Tidak ada sedikitpun sikap sombong dan angkuh seperti yang dikatakan orang. Kasihan sekali gadis baik sepertinya harus dihina oleh orang."


"Yang Mulia, apa ada sesuatu di wajah saya?" tanya Se Se yang menyadari Han Ze Xing terus menatapnya.


"Maaf Putri Huang, saya hanya sedang memikirkan sesuatu." jawab Han Ze Xing dengan wajah memerah, dia segera memalingkan wajahnya.


^^^BERSAMBUNG...^^^

__ADS_1


__ADS_2