The Princess Story

The Princess Story
Ep 79. Raja Wei menghilang


__ADS_3

"Apakah saya boleh ikut?" tanya Se Se dengan nada berharap.


"Tidak, usia kandunganmu saat ini sangat rentan. Tidak boleh melakukan perjalanan jauh." tolak Raja Wei.


Wajah Se Se terlihat cemberut, dia tidak rela ditinggalkan dalam waktu lama.


"Dengarkan kata-kata suami, istri yang baik tidak boleh melawan suaminya." ucap Raja Wei sambil mengelus kepala istrinya.


"Bagaimana jika aku kangen?" tanya Se Se dengan suara manja.


Raja Wei menggendong permaisurinya dan membawanya ke kamar. Dia berbisik, "Aku akan membuat istriku bahagia lebih dulu sebelum berangkat."


"Blush"


Wajah Se Se menjadi merah, dia masi malu-malu walaupun telah sering melakukannya.


Raja Wei mencium bibir istrinya dengan lembut. Tangan nakalnya menyentuh daerah sensitif istrinya.


"Tok Tok Tok!"


Pintu di ketuk, Raja Wei menghentikan ciuman dan tangan nakalnya.


Yu berada di depan kamar, dia menyampaikan perintah dari Kaisar.


"Yang Mulia, kasim membawa pesan dari Kaisar. Beliau meminta anda berangkat ke kota Chang An secepatnya." ucap Yu dari balik pintu.


Raja Wei mengerutkan dahinya, dia menatap wajah Se Se, dia mengecup pipi gadis itu dan berbisik, "Maaf, aku harus pergi sekarang."


Raja Wei memeluk Se Se dengan erat, dia tidak tega meninggalkannya. Gadis itu melepas pelukan Raja Wei dan menatap mata suaminya.


"Pergilah... kota Chang An sedang membutuhkan anda." ucap Se Se dengan wajah sedih.


"Aku akan segera kembali." ucap Raja Wei.


Pemuda itu mengecup bibir Se Se dan melangkah keluar. Dia berangkat ke kota Chang An bersama Yu dan beberapa pasukan pengawal.


Beberapa bulan berlalu, Raja Wei hanya mengirimkan surat untuk permaisurinya beberapa kali dalam sebulan.


Kandungan Se Se saat ini sudah memasuki usia 5 bulan. Dia merindukan Raja Wei, namun kehamilan membuatnya sulit untuk bergerak dengan bebas.


Walaupun dia ingin menyusul Raja Wei ke kota Chang An, dia mengurungkan niatnya karena memikirkan keselamatan bayi di dalam perut.

__ADS_1


"Ling Er, siapkan kereta kuda. Aku ingin melihat anak-anak." ucap Se Se.


"Baik Nona, saya akan segera menyiapkannya." jawab Ling Er.


Se Se menuju ke kediaman Huang, dia menyapa ayah dan kakaknya sebelum melihat anak-anak.


"Keponakan, apa kamu menyulitkan ibumu?" tanya Ye Yuan sambil mengelus perut buncit adiknya.


"Tidak, dia tidak menyusahkanku Kak." jawab Se Se dengan senyuman di wajah.


"Se Se, apakah Raja Wei belum kembali?" tanya Tuan Huang.


"Belum ayah, dia belum menyelesaikan masalah di kota Chang An." jawab Se Se dengan nada sedih dan kecewa.


"Pulanglah ke sini kapan saja kamu merasa kesepian." ucap Tuan Huang dengan wajah iba pada putrinya yang ditinggal lama oleh suami.


"Baik ayah." jawab Se Se singkat.


Se Se makan bersama keluarganya, dia menuju ke kamar keluarga Li setelah selesai makan. Anak-anak menyambutnya dengan gembira.


Kak Li membuatkan makanan manis untuk Se Se, dia membungkusnya agar bisa dibawa ke kediaman Raja Wei.


"Nona, terima kasih sudah menjaga kami selama ini. Tapi kami sudah tidak bisa tinggal di sini lagi." ucap Kak Li.


"Ya, keluarga dari ayah anak-anak sedang mencari mereka. Saya akan membawa anak-anak ke sana." jawab Kak Li.


"Aku tidak akan mencegah kalian pergi, tapi jika kalian kesulitan, kembalilah ke tempat ini kapan saja." ucap Se Se sambil menggenggam telapak tangan Kak Li.


"Ada sesuatu yang belum bisa saya sampaikan. Maafkan saya nona." ucap Kak Li.


"Tidak apa-apa, semua orang pasti memiliki rahasia yang tidak ingin mereka ceritakan. Aku tidak menyalahkan Kak Li." jawab Se Se dengan senyuman di wajahnya.


Se Se kembali ke kediaman Raja Wei, dalam perjalanan pulang, dia mendengar beberapa orang bergosip di tengah jalan.


"Raja Wei menghilang!"


DEG!


Jantungnya serasa akan berhenti saat mendengar kalimat itu.


"Apa yang terjadi padanya?" batin Se Se.

__ADS_1


Sampai di kediaman, dia berjalan ke kamar dengan perasaan gelisah. Se Se duduk berpikir lama di dalam kamar, dia kemudian berdiri dan menyuruh Ling Er mengemas pakaian serta barang-barang penting. Dia akan segera ke kota Chang An untuk mencari Raja Wei.


Ling Er mengikuti Se Se ke kota Chang An, Pasukan Elang diam-diam melindungi gadis itu.


Mereka berhenti di sebuah penginapan untuk beristirahat karena hari mulai gelap.


Beberapa tamu penginapan terus menatap Se Se karena wajah cantiknya yang menggoda. Ling Er merasa cemas melihat pria-pria itu terus menatap nona nya. Ling Er mengajak Se Se untuk segera ke kamar.


"Nona, kita makan malam di kamar saja." ucap Ling Er.


"Baiklah." jawab Se Se.


Tengah malam, kamar mereka di intai oleh beberapa pria yang tadi menatapnya. Mereka memiliki keinginan buruk terhadap Se Se.


Seorang pria dengan tubuh besar meniup obat bius ke dalam kamar Se Se. Pasukan Elang melihatnya, mereka segera membunuh orang-orang itu tanpa membuat keributan.


Pada pagi hari tamu penginapan terkejut dengan penemuan mayat-mayat di lantai. Se Se dan Ling Er tentu saja ikut terkejut. Namun mereka tidak punya waktu untuk mengurus hal itu. Mereka harus segera melanjutkan perjalanan ke kota Chang An.


"Siapa yang telah membunuh mereka semua tanpa membuat suara?" batin Se Se.


Setelah dua hari perjalanan, akhirnya mereka tiba di kota Chang An. Se Se mencari kediaman keluarga Yang di kota itu. Menurut surat dari Raja Wei, dia menginap di kediaman Yang.


Tidak sulit mencari kediaman Yang karena keluarga itu sangat terkenal di sana. Se Se dan Ling Er di persilakan masuk oleh pengawal saat tahu identitas Permaisuri Raja Wei.


"Maaf, saya ingin bertemu dengan Raja Wei." ucap Se Se pada seorang pengurus kediaman.


"Tunggu sebentar di sini, Permaisuri. Hamba akan memanggil Tuan Yang untuk menjelaskannya." ucap pria itu.


Tidak lama kemudian seorang pemuda masuk ke ruangan dan mengucapkan salam.


"Hormat saya pada Permaisuri" pemuda itu menundukkan kepalanya.


"Tidak perlu begitu sopan, saya hanya datang untuk mencari Raja Wei." ucap Se Se.


"Maaf Permaisuri, Raja Wei menghilang beberapa hari ini. Kami sudah mencari namun tidak bisa menemukannya." ucap pemuda itu.


"Bagaimana dia bisa menghilang? Di mana terakhir kali anda melihatnya?" tanya Se Se dengan wajah cemas.


"Lima hari lalu kami berencana menyerang markas bandit, namun malam hatinya Raja Wei telah menghilang. Kami mencarinya ke tempat yang sering dia datangi, namun tidak ada jejak kedatangannya ke tempat itu." jelas pemuda itu.


Se Se merasa gelisah, hatinya mulai kacau. Dia tidak tahu harus mencari Raja Wei di mana.

__ADS_1


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2