The Princess Story

The Princess Story
Episode 230


__ADS_3

"Kakak Pertama!"


Suara Putri Helen membuyarkan lamunan Pangeran Andrew.


"Haruskah aku melakukan itu? Aku takut jika apa yang dikatakan dokter Jonathan menjadi kenyataan. Apa yang harus aku lakukan jika aku benar benar seorang pria cacat?" ucap Pangeran Andrew.


"Jangan khawatir, aku yakin kakak ipar tidak akan melakukan perbuatan tercela. Jika janin itu benar milik kakak pertama, maka itu adalah bukti jika kakak pertama tidak mengalami kemandulan." ucap Putri Helen.


"Aku juga yakin kakak ipar adalah wanita yang baik dan selalu menjaga kehormatannya." ucap Putri Kimberly yakin.


"Baiklah, aku akan memanggil dokter kerajaan lain saat kembali nanti." ucap Pangeran Andrew.


"Jangan! Jangan memakai dokter kerajaan!" sela Pangeran Arnold.


"Apa? Kenapa??" tanya Pangeran Andrew tak mengerti.


"Karena kita tidak tau siapa saja yang ada di pihak Kakak kedua!" jawab Pangeran Arnold.


Putri Helen dan Putri Kimberly mengangguk setuju dengan pendapat dari Pangeran Arnold.


Pangeran Andrew menghela nafas. "Lalu... Siapa yang harus ku panggil?" tanya Pangeran Andrew sambil menatap Pangeran Arnold.


"Dokter umum! Ayo kita ke dokter umum yang ada di kekaisaran ini!" jawab Pangeran Arnold.


"Apa kau gila? Kau mau semua orang tau kalau aku ini orang cacat?" ucap Pangeran Andrew dengan nada kesal.


"Tidak kak, bukan begitu! Justru ini adalah kesempatan untuk menutupi hal ini! Di kekaisaran, tidak ada orang yang akan mengenali kita kecuali keluarga kerajaan dan pejabat istana yang hadir di pesta perjamuan.


Kita hanya perlu menjadi rakyat jelata yang mengunjungi klinik untuk memeriksa kesehatan. Tidak akan ada orang yang mengenali kita!" jelas Pangeran Arnold.


"Benar! Ayo kita pergi sekarang!" ajak Pangeran Andrew yang segera bangkit dari kursinya.


*****


"Dia membunuh calon anakku! Dia menghancurkan kesempatanku untuk memiliki bayi! Apa salahku? Apa sebenarnya salahku sehingga aku mengalami semua kemalangan ini?" ucap Mariane yang saat ini duduk di lantai sudut kamar.


Begitu hancur hatinya saat mendengar tabib mengatakan ia keguguran dan di masa depan akan sulit baginya untuk memiliki bayi, bahkan kemungkinan besar ia tidak akan bisa hamil lagi akibat keguguran ini.

__ADS_1


"Aku benci padamu! Aku sangat sangat membencimu hingga ingin rasanya aku membunuhmu sekarang juga!" ucap Mariane sambil menatap sebuah liontin giok yang berada di telapak tangannya.


Liontin giok itu di berikan oleh Pangeran Andrew saat mereka bertunangan. Mariane mengingat betapa bahagia saat ia menerima lamaran dari Pangeran Andrew yang merupakan cinta pertama dan satu satunya pria dalam hidupnya.


Liontin giok itu dibuat oleh seorang ahli giok yang berasal dari ratusan tahun lalu. Giok itu ada sepasang, setengah bagian lagi di simpan oleh Pangeran Andrew.


Pada liontin giok tersebut terukir naga yang sedang terbang di kelilingi oleh harta, setengah bagian lagi adalah ukiran burung phoenix yang indah.



Mariane mengangkat liontin giok hendak menghancurkan giok itu, namun ia tidak sanggup. Rasa cinta Mariane terlalu besar untuk Pangeran Andrew meskipun pria itu sering menghina dan menyiksanya.


Mariane membuka sebuah kotak yang ada di dalam laci, ia menaruh liontin giok di dalam kotak, dengan hati hati ia menutup kotak dan memasukkan kotak itu kembali ke dalam laci.


"Bayiku, tolong maafkan ibumu yang tidak berguna! Maafkan ibu karena tidak melindungimu dengan baik!Maafkan ibu karena masih tidak sanggup membenci ayahmu setelah apa yang ia lakukan terhadap kita." ucap Mariane sambil menyentuh ringan perutnya.


Air mata mulai membasahi kedua pipi Mariane, rasa sakit yang ia rasakan di tubuhnya tidak ada apa apanya jika di bandingkan dengan rasa sakit yang ada di dalam hatinya.


"Ingin rasanya aku mati saja!" gumam Mariane saat tanpa sengaja ia menemukan gunting yang terletak di samping vas bunga.


*****


"Bagaimana keadaan wanita itu? Apakah ia baik baik saja?" pikir Se Se.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Sejak pagi tadi sudah lima kali kamu mengabaikan panggilan dariku! Apakah kamu sedang mencemaskan sesuatu?" tanya Raja Wei.


"Xuan... Maaf! Saya seharusnya lebih fokus pada Xuan, tapi saat ini saya benar benar tidak bisa melupakan wanita itu. Mariane, dia kelihatan sangat kesakitan!" jawab Se Se.


"Jangan khawatir, tabib istana pasti akan menyelamatkan nyawanya! Dia akan baik baik saja." ucap Raja Wei.


"Xuan, di dunia ini... apa kamu tau penyakit apa yang paling sulit untuk di obati?" tanya Se Se.


"Bukankah jawabannya sudah pasti penyakit yang belum ada obatnya?" jawab Raja Wei.


"Tidak! Pasien dengan penyakit yang belum ditemukan obatnya ada kemungkinan untuk sembuh jika pasien memiliki keinginan untuk sembuh dan hidup dengan baik.


Namun, jika pasien tidak memiliki keinginan untuk hidup, dia akan tetapp mati meskipun yang mengobati dirinya adalah seorang dewa." ucap Se Se.

__ADS_1


Raja Wei menatap istrinya dengan wajah cemas, "Jika sulit untuk di tahan, lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan!" ucap Raja Wei agar Se Se tidak menjelaskan lebih lanjut dan memberi izin kepada Se Se untuk pergi ke istana.


Tentu saja tujuannya adalah untuk memeriksa sendiri keadaan Mariane yang menjadi beban pikiran istrinya.


Raja Wei tidak akan menghalangi niat Se Se untuk melakukan apapun keinginannya meskipun itu adalah hal yang akan mendatangkan masalah bagi Raja Wei.


"Terima kasih! Xuan selalu mengerti apa yang saya inginkan." jawab Se Se dengan senyuman di wajahnya.


Raja Wei memerintahkan seorang pelayan untuk menyiapkan kereta kuda yang akan dipakai Se Se ke istana.


"Saya akan pulang secepatnya!" ucap Se Se.


Raja Wei mengangguk kemudian menunjuk pipinya dengan jari telunjuk.


Mengerti akan isyarat dari Raja Wei, Se Se mendekat dan mengecup pipi kanan dan kiri Raja Wei.


"Tidakkah ini terlalu pelit?" tanya Raja Wei dengan wajah cemberut saat Se Se akan meninggalkan ruangan.


"Saya sudah menambahkan pipi kiri sebagai bonus untuk Xuan tadi." jawab Se Se.


"Istriku, apa kamu tidak akan memberikan ciuman di bibirku sebagai hadiah utamanya?" tanya Raja Wei sedikit menggoda.


"Jangan terlalu berharap." jawab Se Se.


Se Se keluar dari ruang makan di temani oleh Ti Liu, mereka berangkat ke istana di dampingi oleh dua pengawal dan satu pelayan.


"Semoga saja perasaannya akan sedikit lebih baik setelah melihat sendiri keadaan wanita itu!" ucap Raja Wei.


*****


Sementara itu, Pangeran Yohanes baru saja tiba di sebuah ruangan yang dipenuhi oleh banyak wanita yang sedang melayani para tamu.


Wanita wanita itu menuangkan alkohol dan tidak jarang menjadi boneka yang bisa di sentuh dengan leluasa.


Pelayan mengantar Pangeran Yohanes ke dalam ruang pribadi yang di dalamnya sudah tersedia makanan dan minuman.


Tak lama kemudian, dua laki laki ikut masuk ke dalam ruangan itu. Mereka duduk berhadapan dengan Pangeran Yohanes.

__ADS_1


"Jadi bagaimana rencana kali ini?" tanya Pangeran Yohanes.


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2