
Raja Wei menarik selimut dan membuangnya ke lantai. Bibirnya bergerak pelan hingga ke area bawah perut Se Se. Dia memainkan jarinya di tempat terlarang itu, dengan sedikit tekanan dia memutar jarinya dan bergerak dengan liar di sana.
"Uhmmm.... Aaahhhh..."
Suara-suara nikmat terdengar dari bibir Se Se. Raja Wei melepas pakaian, bersiap menggunakan "junior" miliknya.
Namun saat kedua benda itu menempel, Raja Wei menghentikan aksinya.
"Apa yang kulakukan? Sejak kapan aku berubah menjadi pria mesum seperti ini?" batin Raja Wei.
Se Se membuka matanya dan melihat apa yang dilakukan Raja Wei. Dia sudah menyiapkan hatinya, namun pemuda itu malah berhenti di tengah-tengah.
Raja Wei berdiri dari tempat tidur dan memakai pakaiannya. Dia mengambil selimut dari lantai dan mengibasnya agar bebas dari debu.
Raja Wei menutup tubuh Se Se dengan selimut, dia mencium keningnya kemudian berkata, "Aku akan melanjutkannya saat malam pertama kita."
Hati gadis itu merasa tersentuh, dia tidak menyangka Raja Wei sangat menghargai malam pertama mereka.
"Terima Kasih, telah menjagaku dengan baik." batin Se Se.
Raja Wei akan keluar dari sana, tangan Se Se menarik lengannya. Raja Wei berbalik dan bertanya, "Ada apa?"
"Saya... Saya..." kata-kata itu terasa sulit untuk di ucapkan gadis itu.
Raja Wei duduk di tepi tempat tidur dan membelai rambut panjangnya, dia kembali bertanya, "Ada apa permaisuriku? katakanlah!"
"Saya menyukai anda Yang Mulia." ucap Se Se dengan menutup wajahnya dengan selimut.
Hati Raja Wei terasa bahagia, bahagia yang tak dapat dilukiskan. Beban di hatinya seperti menghilang semua. Dia tidak menyangka akan mendengar pengakuan dari gadis yang dia cintai.
Raja Wei menarik selimut itu hingga memperlihatkan wajah merah Se Se yang sudah seperti tomat matang. Dia tersenyum dan berkata, "Aku mencintaimu, Huang Se Se."
"Yang Mulia, sampai jumpa besok." ucap Se Se.
Se Se kembali menutup wajahnya, dia merasa seperti ada kembang api yang meledak-ledak di kepalanya.
Raja Wei tertawa kecil melihat tingkah permasurinya yang sangat pemalu. Dia meninggalkan ruangan itu dan kembali ke kediaman.
Kediaman Raja Wei saat ini dihias dengan pita dan kain berwarna merah. Semua dinding dan pintu di pasang tulisan "Bahagia" yang berwarna merah juga.
Para pelayan dengan suka cita menyiapkan pesta pernikahan tuannya. Mereka sudah tidak sabar menanti acara itu.
__ADS_1
********
Han Ze Liang mengunjungi Putri Liang yang baru saja sadar, dia membawa beberapa obat untuk Putri Liang.
"Putri Liang, maafkan kekasaran pamanku. Dia tidak sengaja melakukannya." ucap Han Ze Liang.
"Kau sebut itu tidak sengaja? aku hampir mati karena perbuatannya!" ucap Putri Liang dengan nada tinggi.
"Maaf Putri, itu karena paman sedang di bawah pengaruh seorang wanita. Paman telah dibutakan oleh wanita itu hingga bersikap kasar pada wanita cantik seperti putri." ucap Han Ze Liang mulai mengadu-domba.
"Wanita siapa maksudmu? istri Raja Wei?" tanya Putri Liang penasaran.
"Benar, dia bahkan belum menikah dengan paman. Namun dia menyebut dirinya sebagai seorang permaisuri, benar-benar wanita yang tidak tahu malu." ucap Han Ze Liang mengompori.
"Aku akan menyingkirkan wanita itu dan mendapatkan hati Raja Wei." ucap Putri Liang.
"Aku akan membantu anda Putri." ucap Han Ze Liang sambil menyodorkan dua botol obat.
"Apa ini?" tanya Putri Liang penasaran.
"Itu adalah ramuan cinta, jika pria atau wanita menggunakan obat itu, setetes saja sudah bisa membangkitkan gairah mereka hingga satu malam." jawab Han Ze Liang dengan senyum piciknya.
"Anda bisa melakukan hal itu pada paman dan menjadikannya milik anda Putri. Besok adalah hari pernikahan Paman." jawab Han Ze Liang berusaha membujuk Putri Liang.
Putri Liang menatap dua botol obat di tangannya, dia menyimpan obat itu di balik lengan bajunya kemudian berkata, "Jika ini berhasil, aku akan memberi anda hadiah Pangeran 5."
"Kalau begitu, aku permisi dulu. Semoga anda berhasil Putri." ucap Han Ze Liang kemudian pergi meninggalkannya.
HARI PERNIKAHAN
Rombongan meriah yang menjemput pengantin wanita menyusuri jalanan, Se Se telah siap berdandan dan memakai baju pengantinnya. Wajahnya secantik bidadari yang diturunkan dari langit. Ling Er terpesona melihat wajah nonanya.
Tuan Huang dan Ye Yuan memberikan hadiah pernikahan untuk gadis kecil mereka yang akan segera menjadi milik Raja Wei.
"Mei, ini adalah peninggalan ibu. Sekarang kamu adalah pemiliknya." ucap Ye Yuan sambil menyerahkan sebuah gelang giok hijau.
"Se Se, ini hadiah dari ayah untuk pernikahanmu. Ayah harap kamu bahagia selamanya." ucap Tuan Huang sambil menyerahkan sebuah kotak berisi perhiasan mahal.
Mereka berdua memeluk gadis kecil itu, mereka melepas pelukan saat tandu pengantin sudah tiba.
"Ayah, kakak, terima kasih. Aku akan merindukan kalian." ucap Se Se lalu masuk ke dalam tandu.
__ADS_1
Raja Wei membantu Se Se naik ke tandu, dia memberi hormat kepada ayah mertua dan kakak iparnya lalu naik ke kuda. Rombongan itu kembali ke kediaman Raja Wei.
Upacara pernikahan berlangsung singkat, Raja Wei tidak ingin membuat pengantinnya lelah sebelum melewati malam pertama.
Se Se menunggu di kamar pengantin bersama Ling Er, sementara Raja Wei melayani tamu di aula perjamuan.
Putri Liang dan Pangeran 5 juga hadir di pesta itu, Pangeran 5 mengajak pamannya bersulang, begitu juga dengan Putri Liang.
Walaupun tak suka melihat mereka berdua, Raja Wei tidak ingin merusak suasana bahagianya. Dia menerima sulangan dari mereka dan meneguk habis arak di tangannya.
Pangeran 5 dan Putri Liang bertatapan dan tersenyum picik. Rencana mereka telah berjalan setengah. Sisanya hanya menunggu Raja Wei hilang kendali karena pengaruh obat.
Se Se merasa bosan di kamar pengantin, dia menghabiskan arak yang ada di meja dan makan semua makanan yang ada di sana. Hatinya gelisah menunggu malam pertama dengan Raja Wei.
Tubuhnya terasa panas seperti ada api yang membakarnya. Dia membuka baju pengantinnya dan menyisakan baju dalaman berwarna putih polos.
"Brakkk!"
Seorang pria berpakaian pelayan masuk ke kamar, dia menatap Se Se dengan mata penuh hasrat.
"Beruntung sekali hari ini dapat wanita cantik." ucapnya sambil berjalan mendekat ke tempat tidur.
Se Se berdiri dari tempat tidur dan bertanya, "Siapa yang mengizinkanmu masuk ke sini?"
"Gadis jalang, layani saja aku! Untuk apa kau bertanya jika pada akhirnya kau akan melayaniku?" ucap pria itu.
Merasa tidak beres, Se Se berlari keluar dari ruangan itu dan mencari Ling Er. Dia melihat Ling Er pingsan di halaman depan kamar pengantin.
Kepalanya mulai berat, matanya berkunang-kunang dan tubuhnya makin panas. Arak yang dia minum sudah dicampur dengan obat ramuan cinta dengan dosis tinggi.
Obat itu bereaksi dengan cepat, dia merasa sangat tidak nyaman. Pria yang mengejarnya memeluk Se Se dari belakang, Se Se menusuk jantung pria itu dengan belati dan melemparnya ke dalam kolam.
Se Se berjalan mencari aula perjamuan, dia ingin segera menemui Raja Wei. Tubuhnya sudah mulai kehabisan tenaga.
Han Ze Liang melihat gadis itu menuju aula perjamuan, dia segera menarik tangan Se Se dan membawanya ke kamar paling ujung di kediaman Raja Wei.
Han Ze Liang menatap tubuh indah gadis itu dengan mata penuh birahi. Tubuhnya memanas walau tidak terkena ramuan cinta.
"Sayang sekali jika gadis secantik ini diberikan untuk pelayan, lebih baik aku saja yang menikmatinya." gumam Han Ze Liang.
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1