The Princess Story

The Princess Story
Ep 130. Jika aku lebih dulu mengenal kamu


__ADS_3

Raja Wei segera mencari dan menghampiri sumber suara, dia menghalangi Pasukan Elang untuk membunuh kedua gadis itu. Dia telah berjanji untuk melepaskan nyawa kedua Putri Zhou.


"Hentikan!" perintah Raja Wei ketika melihat salah satu Pasukan Elang mengayunkan pedang di tubuh Zhou Yi Thing.


Pasukan Elang menghentikan gerakan tangannya ketika mengenali suara dari Raja Wei.


"Yang Mulia..." panggil Zhou Yi Thing.


"Lepaskan mereka berdua!" perintah Raja Wei kepada Pasukan Elang.


"Baik Yang Mulia." jawab Pasukan Elang sambil menunduk hormat.


Zhou Yi Thing menghela napas lega, dia berjalan ke arah Raja Wei kemudian memberi penghormatan.


"Terima Kasih Yang Mulia Raja Wei." ucap Zhou Yi Thing.


Gadis itu segera menarik lengan dan membawa adiknya pergi dari istana menggunakan kereta kuda yang sudah dia persiapkan.


"Selain mereka berdua, bunuh sisanya." ucap Raja Wei.


"Tapi Yang Mulia..." sanggah Pasukan Elang.


"Mereka hanya terlahir di tempat yang salah, kedua wanita itu bukan lah orang jahat seperti Kaisar Zhou. Lepaskan saja mereka." ucap Raja Wei memotong perkataan pasukannya.


"Baik Yang Mulia." ucap pasukan itu dengan hati tidak puas.


"Suatu hari nanti, anda akan menyesali keputusan ini Yang Mulia." batin Pasukan Elang itu sambil menuju ke kamar lain.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rombongan Thien Si Rui baru saja memasuki wilayan Kerajaan Langit, beberapa orang menatap kereta kuda yang terlihat mewah itu dengan tatapan penasaran.


"Siapa tamu yang datang kali ini? Mereka terlihat seperti bangsawan kaya. Lihatlah pengawalnya yang sangat banyak itu." ucap salah satu pria yang berdiri menatap kedeta kuda.


"Sepertinya tamu terhormat yang menuju Istana. Apakah Putri dari Kerajaan lain yang mencoba menjadi Ratu kita lagi?"


"Mungkin saja, Kaisar kita belum menikah hingga sekarang. Banyak gadis yang ingin menjadi Ratu bahkan Selir beliau."


"Ah... Kapan negara kita akan di karunia keturunan Kaisar? Sudah sejak lama posisi Putra Mahkota kosong."


"Semoga saja gadis kali ini di terima menjadi Ratu atau Selir."


Ucapan mereka semua terdengar dari dalam kereta kuda, Se Se menatap wajah Thien Si Rui yang terlihat tidak suka dirinya di jadikan bahan pembicaraan.

__ADS_1


"Ternyata banyak Putri dari negara lain yang ingin menjadi Ratu nya. Kenapa pria ini sangat pemilih?" batin Se Se.


"Jangan di dengarkan, para Putri yang datang hanya menawarkan kerja sama politik. Saya tidak ingin menikah atas dasar kepentingan politik, itu sebabnya saya menolak tawaran mereka." ucap Thien Si Rui ketika menyadari maksud tatapan Se Se.


"Oh... Sepertinya Yang Mulia benar-benar mementingkan cinta sejati." ucap Se Se.


"Tentu saja, wanita yang menjadi pasangan hidup ku hanya boleh wanita yang saya cintai dan mencintai saya dengan tulus. Saya tidak akan menikah demi kepentingan lain yang tidak di dasari oleh perasaan cinta." jawab Thien Si Rui.


"Tapi jika wanita itu adalah anda, mungkin saya bisa menerima nya meskipun anda tidak mencintai saya." batin Thien Si Rui sambil menatap wajah Se Se.


"Yang Mulia, kita sudah sampai di gerbang Istana." lapor salah seorang pengawal.


"Teruskan laju kereta, kita akan berhenti di depan Istana Bulan." ucap Thien Si Rui.


"Istana Bulan?" gumam beberapa penjaga dengan wajah terkejut.


Istana Bulan adalah bangunan yang sejak dahulu di tempati oleh Ratu. Tentu para pengawal terkejut mendengar perintah Thien Si Rui.


"Yang Mulia... apakah hamba salah mendengar?" tanya pengawal memastikan.


"Aku tidak akan mengulangi untuk ketiga kalinya. Jalankan kereta hingga ke Istana Bulan!" ucap Thien Si Rui dengan nada kesal.


"Baik Yang Mulia." jawab pengawal.


Kereta melaju dengan perlahan menuju Istana Bulan. Setelah sampai di halaman Istana Bulan, Thien Si Rui membantu Se Se turun dari kereta dan membawa nya masuk ke Istana Bulan.


Se Se mengangguk, "Terima kasih Yang Mulia."


Thien Si Rui membaringkan Xin Xin di tempat tidur kemudian melangkah keluar, dia kembali ke Istana nya dengan kereta kuda yang masih menunggu di luar Istana Bulan.


"Bagaimana ini? Apakah kita harus menganggapnya sebagai Ratu? Tapi wanita itu sudah memiliki 2 anak dan bahkan sedang mengandung saat ini. Bagaimana bisa dia menjadi Ratu Kerajaan Langit?" bisik seorang penjaga yang menjaga di luar kamar Se Se.


"Entah lah, seperrinya Kaisar kita mulai kesepian karena sudah lama sendirian di Istana ini." jawab penjaga di sampingnya.


"Sttt...!! Kalian sudah bosan hidup ya? Berani nya membicarakan hal buruk tentang Kaisar!" ucap penjaga lain mengingatkan kedua temannya.


"Hufff... Jika kabar ini tersebar, pasti akan sangat memalukan." ucap penjaga lain.


"Lakukan saja tugas kalian dengan baik! Jangan mencampuri urusan pribadi Yang Mulia." sanggah penjaga yang lebih senior.


Se Se mendengar semua percakapan itu, dia tidak mengerti kenapa mereka bisa menganggap dirinya akan menjadi Ratu. Namun karena terlalu lelah, dia tidak ingin memusingkan hal itu. Se Se berbaring di ranjang, tidak lama kemudian dia tertidur lelap.


Thien Si Rui tidak bisa istirahat, dia masih mondar mandir memikirkan wanita yang kini berada di Istana Bulan.

__ADS_1


"Apa yang terjadi pada ku? Kenapa aku melakukan hal ini? Kenapa aku menempatkan wanita itu di kediaman Ratu?" batin Thien Si Rui.


Hari mulai gelap, Thien Si Rui memerintahkan seorang pengawal untuk memanggil pelayan yang melayani Se Se.


"Apakah wanita itu meminta sesuatu?" tanya Thien Si Rui.


"Tidak Yang Mulia, beliau masih di dalam kamar dan belum pernah membuka pintu kamar sekali pun sejak Yang Mulia keluar dari sana." jawab pelayan.


"Apakah itu berarti dia belum makan apapun sejak tadi?" tanya Thien Si Rui.


"Benar Yang Mulia, beliau sepertinya masih tertidur karena kelelahan." jawab pelayan.


"Apakah dia baik-baik saja? Tidak, aku harus pergi memeriksanya sendiri." batin Thien Si Rui.


Thien Si Rui berjalan menuju Istana Bulan, beberapa pengawal mengikutinya dari belakang.


"Tok Tok Tok!"


"Tok Tok Tok!"


Beberapa kali Thien Si Rui mengetuk pintu kamar namun tidak ada jawaban. Thien Si Rui membuka pintu dengan perlahan, dia melangkah menuju tempat tidur.


"Permaisuri..." panggilnya dengan pelan.


"Permaisuri...!" ulangnya lagi karena tidak ada jawaban.


Thien Si Rui membuka tirai kain penutup tempat tidur, Se Se masih tertidur lelap dengan wajahnya yang terlihat pucat. Thien Si Rui merasa gelisah dan cemas, dia memerintahkan salah satu pengawal untuk memanggil tabib istana.


Tabib datang memeriksa keadaan Se Se, "Yang Mulia, wanita ini hanya terlalu lelah dan kekurangan gizi. Beliau butuh istirahat yang cukup dan makanan yang bergizi untuk bayi di dalam perutnya." ucap Tabib.


"Keluarlah!" perintah Thien Si Rui.


Setelah semua orang keluar, Thien Si Rui menyentuh wajah Se Se dengan pelan dan membelainya.


"Jika aku lebih dulu mengenal mu, apakah kamu bisa mencintai ku seperti cinta mu untuk Han Ze Xuan?" batin Thien Si Rui.


^^^BERSAMBUNG...^^^


Hai teman-teman...


Mohon dukungan nya.


Bantu Vote dan Like 👍setiap Episode.

__ADS_1


Jangan lupa tulis komentar sebanyak-banyaknya.


Terima Kasih💖


__ADS_2