
"Ada apa dengan mu?" tanya Raja Wei dengan suara panik.
Raja Wei melihat darah mengalir membasahi kedua kaki istrinya, dengan nada panik dan cemas dia berteriak memanggil tabib dan bidan.
"Maaf, aku tidak sengaja membentak mu. Maafkan aku..." ucap Raja Wei dengan wajah menyesal.
"Perut ku sakit, bayi ini sepertinya akan segera lahir." ucap Se Se yang mulai berkeringat dingin menahan rasa sakit.
"Tapi ini belum saatnya bayi ini lahir, apakah karena aku bertindak kasar sehingga bayi ini lahir lebih cepat?" tanya Raja Wei.
"Tolong panggilkan Ling Er!" pinta Se Se.
"Baik, aku akan memanggilnya." jawab Raja Wei.
Tidak lama kemudian Ling Er datang membawa ember yang berisi air hangat. Bidan dan tabib juga telah sampai di kediaman.
"Yang Mulia, keluar lah dulu. Kami akan melakukan yang terbaik untuk Permaisuri dan bayi nya." ucap bidan.
Raja Wei berjalan keluar, dia menutup pintu dan menunggu kelahiran bayi nya di depan pintu. Tidak lama menunggu, suara tangisan bayi telah terdengar dengan keras. Ling Er membawa bayi keluar dan menyerahkan bayi itu kepada Raja Wei.
"Seorang pangeran Yang Mulia. Selamat untuk anda dan Permaisuri." ucap Ling Er.
"Terima kasih, bagaimana keadaan Permaisuri?" tanya Raja Wei.
"Permaisuri sangat sehat, bayi ini juga tidak menyulitkan Permaisuri saat lahir. Dalam waktu singkat bayi ini telah lahir dengan lancar." jawab Ling Er.
"Rawat Permaisuri dengan baik!" perintah Raja Wei.
"Sebentar lagi Yang Mulia sudah boleh masuk, bidan sedang membersihkan darah di tubuh Permaisuri." ucap Ling Er.
"Yang Mulia sudah boleh masuk." ucap Bidan dari dalam kamar.
Raja Wei masuk membawa pangeran kecilnya yang baru lahir, dia mendekat ke ranjang dan langsung mengecup bibir Se Se yang masih berbaring.
"Lihat pangeran kecil kita, dia sangat mirip dengan mu." ucap Raja Wei.
"Kenapa Xuan masih di sini? Bukankah acara pernikahan Putra Mahkota akan segera dimulai?" tanya Se Se.
"Kamu dan bayi kita lebih penting, Ze Xing pasti akan mengerti." jawab Raja Wei.
__ADS_1
"Pergilah, dia sudah cukup tertekan. Saat ini dia membutuhkan seseorang untuk mendukung dan memberinya semangat." bujuk Se Se.
"Baiklah, aku akan kembali secepatnya." jawab Raja Wei.
Raja Wei meletakkan Pangeran kecil di atas tubuh Se Se, dia berjalan keluar dari kamar dan segera berangkat ke istana.
Pernikahan baru saja akan di mulai, Raja Wei datang tepat pada waktunya. Han Ze Xing yang sejak tadi memasang wajah dingin akhirnya bisa tersenyum setelah melihat kedatangan Raja Wei.
Raja Wei berjalan mendekat ke arah Han Ze Xing, "Permaisuri baru saja melahirkan, aku tidak bisa lama-lama di sini." ucap Raja Wei.
"Selamat Paman." ucap Han Ze Xing.
Putri Yuan Cin Cu memasang telinga mendengarkan percakapan mereka. Dia terlihat tidak senang dengan kabar gembira dari Raja Wei.
Acara pernikahan dilakukan dengan singkat, Han Ze Xing meminta pelayan mempercepat semua acara agar lebih cepat selesai.
Raja Wei kembali ke kediaman sebelum acara berakhir, dia tidak tahan untuk segera bertemu istri dan bayi kecilnya yang baru lahir.
"Ada satu hal yang ingin aku umumkan!" ucap Han Ze Xing di tengah acara.
"Xing, apa yang ingin kamu umumkan?" tanya Kaisar.
"Hari ini aku juga akan mengangkat seorang selir agar Putri Mahkota tidak kesepian." jawab Han Ze Xing.
Kaisar terlihat senang dengan kabar gembira ini, tidak di sangka Putra nya yang keras kepala akhirnya memiliki seorang wanita yang dia pilih sendiri sebagai selir. Kaisar merasa tidak perlu khawatir lagi tentang penerus Han Ze Xing.
Putri Mahkota di persilahkan masuk ke kamar pengantin, Han Ze Xing masih melanjutkan acara minum minum bersama para pangeran dan tamu lain.
NB: Mulai sekarang Putri Yuan Cin Cu akan di sebut Putri Mahkota.
Di dalam kamar, Putri Mahkota membuka dan melempar kain penutup wajahnya. Dengan penuh amarah dia menggigit bibir bawahnya hingga berdarah.
"Akan ku bunuh wanita ****** itu!" batin Putri Mahkota.
Putri Mahkota menunggu dan terus menunggu, tetapi Han Ze Xing tidak pernah masuk ke dalam kamar pengantin.
"Yu Ying, cari tahu di mana Putra Mahkota saat ini!" perintah Putri Mahkota kepada pelayan nya.
Yu Ying keluar dari kamar dan mencari keberadaan Han Ze Xing, kebetulan dia melihat Han Ze Xing baru saja masuk ke kamar Selir Zhou Yi Mei.
__ADS_1
Tentunya itu bukan kebetulan semata, Zhong telah melaporkan hal ini kepada Han Ze Xing. Itu sebabnya dia sengaja membuat Yu Ying melihatnya masuk ke dalam kamar Selir Zhou Yi Mei.
Yu Ying melaporkan hal yang dia lihat kepada Putri Mahkota. Sebuah tamparan melayang ke wajah Yu Ying, Putri Mahkota melampiaskan amarahnya kepada pelayan yang dianggap nya rendah dan tidak berharga.
"Wanita ******, akan ku bunuh dia!" bentak Putri Mahkota.
Sementara itu di kamar Zhou Yi Mei, Han Ze Xing memberi nya arak yang telah di campur obat tidur. Zhou Yi Mei tertidur lelap setelah meminum arak dari Han Ze Xing. Pria itu tidur di kursi panjang yang berada di dalam kamar.
Kabar tentang Putri Mahkota di abaikan di malam pertama menyebar hingga ke luar Istana, tentu nya Han Ze Xing yang menyebarkan kabar ini melalui pengawal setia nya.
Kebencian di hati Putri Mahkota semakin besar, dia memanggil seorang pelayan untuk menyeret Selir Zhou Yi Mei ke hadapan nya.
"Lepaskan! Berani sekali kalian menyentuh ku! Apa kalian tidak tahu jika Putra Mahkota sangat menyayangi ku?" Selir Zhou Yi Mei menjerit dan meronta saat di seret oleh dua pelayan Putri Mahkota.
"Brukk!"
Tubuh Selir Zhou Yi Mei di banting begitu saja di hadapan Putri Mahkota. Dia berdiri dan menatap Putri Mahkota dengan tatapan penuh dendam.
"Pelayan, tampar dia 30 kali karena tidak tahu sopan santun!" perintah Putri Mahkota.
"Lepaskan aku!" bentak Selir Zhou Yi Mei.
Dua pelayan menahan lengan Selir Zhou Yi Mei, Yu Ying mulai menampar wajah nya dengan keras.
Zhong melaporkan hal ini kepada Han Ze Xing, pemuda itu tersenyum kemudian menjawab, "Biarkan saja mereka saling berperang, aku tidak perduli dengan nyawa mereka berdua."
Setelah puas menyiksa Selir Zhou Yi Mei, Putri Mahkota menginjak-injak perut gadis itu dengan sekuat tenaga.
"Jangan pikir kau bisa melahirkan bayi dari Putra Mahkota! Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi." ucap Putri Mahkota.
Selir Zhou Yi Mei yang telah pingsan dibiarkan begitu saja tergeletak di atas tanah. Putri Mahkota meninggalkan tempat itu dan kembali ke kamarnya.
^^^BERSAMBUNG...^^^
Hai teman-teman...
Mohon dukungan nya.
Bantu Vote dan Like 👍setiap Episode.
__ADS_1
Jangan lupa tulis komentar sebanyak-banyaknya.
Terima Kasih💖