
"Maaf Yang Mulia, sepertinya akan sulit untuk melaksanakan rencana awal kita." jawab pria paruh baya yang memakai pakaian bangsawan kaya.
"Tuan Lu, kerja sama kita akan berakhir jika anda membatalkan rencana ini!" ucap Pangeran Yohanes.
"Yang Mulia!"
Pria paruh baya itu tersentak dengan ancaman dari Pangeran Yohanes. Meski dia merasa kesal, dia hanya bisa menahan perlakuan tidak sopan dari Pangeran Yohanes.
"Jika bukan karena buku rahasia jatuh ke tangan pria licik ini, aku tidak akan pernah menjadi sekutunya!" batin Tuan Lu.
"Aku akan melakukan rencana sesuai keinginan Yang Mulia, tapi sebagai gantinya, anda harus mengembalikan buku rahasia itu setelah semuanya selesai!" ucap Tuan Lu.
"Buku rahasia itu berisi catatan perdagangan ilegal yang telah kami jalankan selama bertahun tahun. Keluarga Lu akan binasa jika buku rahasia ini diketahui oleh pihak kekaisaran!" batin Tuan Lu.
"Aku yakin Tuan Lu akan memilih pilihan yang bijak di situasi ini. Buku anda akan tetap aman sampai kesepakatan kita berakhir." jawab Pangeran Yohanes.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Istana Kerajaan
Tiba di istana, Se Se langsung minta izin untuk menemui Mariane yang saat ini berada di kamar tamu.
Setelah meminta izin, seorang pelayan yang dikirim oleh Mariane mempersilahkan Se Se untuk masuk.
"Apakah anda baik baik saja Putri Mariane?" tanya Se Se begitu ia melihat Mariane.
"Ada apa Permaisuri Raja Wei menemui saya?" tanya Mariane tanpa menjawab pertanyaan Se Se.
"Saya hanya ingin memastikan kesehatan Putri. Maaf jika saya sudah mengganggu anda." ucap Se Se.
"Aku baik baik saja!" ucap Mariane tanpa ekspresi di wajahnya.
"Putri Mariane, bolehkah saya memeriksa kesehatan anda?" tanya Se Se meminta izin.
Mariane yang sedari tadi menunduk kini menatap mata Se Se, "Apakah Permaisuri seorang tabib?" tanya Mariane.
"Ya, dulunya saya pernah bekerja sebagai tabib." jawab Se Se sambil mengangguk.
"Apa yang ingin anda lakukan? Kenapa Permasuri terhormat seperti anda ingin memeriksa kesehatan saya?" tanya Mariane.
"Saya hanya ingin memastikan bahwa Putri Mariane baik baik saja dan anda akan kembali ke barat dalam keadaan sehat seperti saat anda datang ke istana ini." jawab Se Se.
"kembalilah! Saya tidak perlu di periksa." ucap Mariane yang kembali menundukkan wajah.
__ADS_1
"Putri Mariane, sejujurnya saya sangat menyesal karena telah mengabaikan anda di pesta. Jika saja saat itu saya segera memeriksa anda, mungkin saja anak di kandungan Putri Mariane ...."
Se Se menghentikan ucapan nya yang di anggap akan membuka kembali luka Mariane.
"Itu bukan kesalahan Permaisuri. Jangan merasa bersalah atas kesalahan yang tidak anda lakukan." jawab Mariane.
"...."
Se Se tidak bisa berkata kata lagi untuk meyakinkan Mariane agar mau menerima pemeriksaan darinya.
Dia memutuskan untuk menunggu lebih lama sampai Mariane bersedia untuk diperiksa.
"Panggil saya kapan saja jika anda sudah merasa lebih baik." ucap Se Se.
Se Se pamit setelah menyelesaikan apa yang ingin ia katakan, ia berjalan keluar dari kamar Mariane.
Setibanya di depan pintu, ia melihat Pangeran Arnold yang berdiri menatapnya.
"Apakah ada yang ingin anda katakan kepada saya?" tanya Se Se kepada Pangeran Arnold.
Pangeran Arnold mengangguk kemudian menjawab, "Ya, bisakah Permaisuri meluangkan waktu sebentar untuk saya?"
Se Se tersenyum dan menjawab, "Kebetulan sekali, tujuan saya selanjutnya memang menemui anda, Pangeran Arnold."
"Tolong siapkan teh dan makanan ringan!" perintah Pangeran Arnold kepada pelayan.
"Silahkan anda mulai lebih dulu!" ucap Se Se.
"Saya mendengar kabar bahwa Permaisuri adalah tabib terbaik di kerajaan ini. Apakah itu benar?" tanya Pangeran Arnold.
"Saya tidak berani mengatakan hal itu benar, namun itu memang panggilan yang saya terima di masa lalu." jawab Se Se.
"Bolehkah saya meminta bantuan anda Permaisuri?" tanya Pangeran Arnold.
"Bantuan apa yang anda inginkan dari saya?" tanya Se Se.
"Mariane, tolong sembuhkan kakak ipar saya!" pinta Pangeran Arnold.
Se Se terdiam sejenak, tadinya ia berpikir untuk meminta bantuan Pangeran Arnold agar membantu membujuk Mariane untuk menerima pemeriksaan.
"Semuanya jadi mudah karena Pangeran Arnold juga memiliki tujuan yang sama. Tapi... Melihat sikapnya yang seperti ini ..."
Se Se menatap Pangeran Arnold.
__ADS_1
"Pangeran Arnold, sebelumnya maafkan kelancangan saya. Apakah anda ... mencintai kakak ipar anda sendiri?" tanya Se Se dengan wajah penasaran.
Pangeran Arnold terlihat terkejut dengan pertanyaan Se Se. Namun ia menjawab dengan tegas, "Ini memalukan, tapi saya akan mrngakui hal itu. Saya sudah menyukai Mariane sejak pertama kali kami bertemu di usia saya yang masih sangat muda."
"Terima kasih karena anda sudah menjawabnya dengan jujur. Sekarang giliran saya menjawab permintaan dari Pangeran, saya akan memeriksa Putri Mariane dengan atu syarat." ucap Se Se.
"Katakan saja apa syarat yang Permaisuri inginkan?" ucap Pangeran Arnold.
"Yakinkan Putri Mariane untuk menerima pemeriksaan dari saya. Karena jika pasien menolak untuk di obati, sebaik apapun dokter yang menangani pasien itu, hasilnya akan tetap sia sia saja." pinta Se Se.
"Hanya itu?" tanya Pangeran Arnold.
"Ya, tapi itu pasti bukan hal yang mudah." ucap Se Se.
"Apa maksud anda?" tanya Pangeran Arnold.
"Saya berharap penilaian saya salah, tapi jika apa yang saya lihat itu benar, Putri Mariane tidak akan hidup sampai besok pagi." jawab Se Se.
Pangeran Arnold mengerutkan alis matanya, "Apa maksud perkataan anda Permaisuri?"
"Putri Mariane tidak hanya menyerah akan hidupnya, ia juga akan mencoba untuk mengakhiri sendiri hidup yang ia anggap terlalu menyakitkan bagi dirinya." jawab Se Se.
"Maksud anda Mariane akan mencoba untuk bunuh diri?" tanya Pangeran Arnold setelah mencerna penjelasan dari Se Se.
Se Se mengangguk, sesaat kemudian Pangeran Arnold segera berlari menuju kamar Mariane.
Benar saja wanita itu mencoba untuk membunuh dirinya sendiri. Genangan darah sudah membanjiri lantai.
Mariane yang memotong nadi di pergelangan tangannya saat ini tergeletak lemah di dalam kamar, seorang diri tanpa ada satu pun pelayan di sampingnya.
Pangeran Arnold mengangkat tubuh Mariane ke atas ranjang, dengan panik ia menutup luka di lengan Mariane yang terus mengeluarkan darah segar.
"Tolong...! Tolong selamatkan Mariane!" ucap Pangeran Arnold dengan wajah cemas.
"Yang Mulia! Pangeran Arnold! Tenangkan diri anda!" ucap Se Se mencoba menghilangkan rasa panik Pangeran Arnold.
"Permaisuri... Tolong! Tolong selamatkan Mariane! Saya mohon! Tolong selamatkan dia!"
Pangeran Arnold berulang kali memohon untuk menyelamatkan nyawa wanita yang ia cintai.
Ini pertama kali Pangeran Arnold merasa ketakutan dan putus asa. Dirinya yang biasa tenang dan bijak dalam menghadapi semua situasi menjadi kacau balau saat melihat nyawa Mariane terancam.
"Tenanglah, Putri Mariane akan baik baik saja. Saya berjanji, saya pasti akan menyelamatkan nyawanya!" ucap Se Se.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^