
Han Ze Xing perlahan membuka mata, dia mengingat sekilas apa yang terjadi kepada dirinya dan Zhou Yi Thing. Kepalanya menoleh ke samping, menatap wajah seorang wanita yang sangat dia cintai. "Syukurlah dia baik baik-saja!" pikir Han Ze Xing.
"Siapa yang membawa kami kembali ke kamar ini?" ucapnya dengan suara pelan.
"Saya yang membawa anda kembali, Yang Mulia!" suara seorang pria membuat Han Ze Xing terperanjat, dia mengalihkan tatapan matanya ke sumber suara. Hatinya langsung lega begitu melihat sosok pria yang dia kenali di depan meja.
"Perdana Menteri Huang!"
"Ya! Saya di sini, Yang Mulia!" jawabnya dengan memberi hormat.
"Apa yang terjadi? Apakah istriku baik-baik saja?" tanya Han Ze Xing sembari berusaha bangun dari tempat tidur.
"Beliau baik-baik saja. Hanya sedikit lemah dan kurang gizi. Tidak akan ada masalah yang berarti." jawab Perdana Menteri Huang dengan wajah tenang namun hati risau sebab dia tidak tau bagaimana cara memberitahu kepada Han Ze Xing tentang kematian Ayahnya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Paman?" tanyanya lagi dengan wajah cemas.
Perdana Menteri Huang menarik nafas panjang, dia lalu menjawab setelah menghembuskan nafasnya dengan perlahan, "Beliau juga baik-baik saja. Anda tidak perlu khawatir, Yang Mulia."
Han Ze Xing merasa lega mendengar semuanya baik-baik saja, dia lalu berkata, "Terima kasih sudah menyelamatkan nyawa saya dan Yi Thing, tapi apakah Ayah tidak mengatakan apa-apa ketika anda mengeluarkan kami dari Istana Dingin?"
Perdana Menteri Huang terdiam, dia sedang memilah kata-kata yang akan di gunakan untuk menyampaikan berita duka tentang Kaisar. Han Ze Xing menunggu jawaban dengan sabar, dia menatap mata Perdana Menteri Huang yang tertunduk ke bawah.
"Yang Mulia Kaisar sudah meninggal, beliau mati bunuh diri." jawab Perdana Menteri Huang dengan wajah penuh penyesalan.
"Yang Mulia Kaisar sudah meninggal!" ulang Perdana Menteri Huang sebab dia tau berita duka ini pasti sulit diterima oleh Putra Mahkota.
"Perdana Menteri Huang, bukankah candaan anda sudah keterlaluan?" Han Ze Xing tampak sangat terpukul mendengar berita kematian ayahnya, dia sulit mempercayai berita duka itu meski yang menyampaikannya adalah orang kepercayaan sekaligus pria yang sangat dia hormati.
__ADS_1
"Yang Mulia, mohon tenangkan diri Anda! Ada banyak masalah yang harus kita hadapi, bukan saatnya bersedih meratapi nasib Yang Mulia Kaisar yang sudah meninggal." Perdana Menteri Huang berusaha menguatkan hati pria itu, pria yang akan menjadi pemimpin negara Han berikutnya.
"Aku tidak bisa mempercayai ini semua!" jawab Han Ze Xing yang masih mencerna kata-kata dari Perdana Menteri Huang.
"Istirahatlah lebih lama, sementara ini, saya akan menggantikan anda untuk mengurus istana." ucap pria itu lalu memberi hormat.
Perdana Menteri Huang keluar dari ruangan itu, dia menuju ke perpustakaan pribadi milik Kaisar. Stempel yang dia cari semalaman masih belum ditemukan, Perdana Menteri Huang ke perpustakaan karena ruangan itu sering di datangi oleh Kaisar Han Ze Ti. Dia berharap bisa menemukan Stempel Kaisardi sana.
Begitu masuk ke dalam perpustakaan, mata Perdana Menteri Huang langsung membelalak. "Berapa lama aku harus mencari stempel itu di ruangan sebesar ini?" pikirnya.
Ruangan bertingkat tiga dengan rak buku yang berjumlah ratusan di dalam. Buku-buku di dalam rak tersusun dengan rapi dan terawat dengan baik. Jutaan buku di dalam rak membuat Perdana Menteri Huang terperanjat. Entah sampai kapan dia harus tinggal di ruangan itu untuk mencari Stempel Kaisar.
"Aku merasa seperti akan mencari sebuah jarum di dalam tumpukan jerami!" batin Perdana Menteri Huang.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^