
Raja Wei memerintahkan Yu untuk mengantarkan surat kepada Han Ze Xing, di dalam surat itu tertulis rencana yang akan di lakukan oleh Selir Fei dan Han Ze Liang.
Han Ze Xing membakar surat itu setelah membacanya, wajahnya terlihat sedih dan kecewa.
Walau bagaimana pun sikap Selir Fei dan Han Ze Liang terhadapnya, dia sudah dekat dengan kedua orang itu sejak kecil dan menganggap mereka sebagai keluarga. Sulit bagi Han Ze Xing untuk membunuh kedua orang itu.
"Apa yang harus ku lakukan? Aku benar-benar tidak ingin mereka terbunuh. Sampai kapan mereka akan terus melakukan kejahatan ini?" batin Han Ze Xing.
Han Ze Xing menulis surat balasan untuk Raja Wei, dia memberikan surat itu untuk Yu.
Raja Wei menerima surat dari Han Ze Xing, dia terlihat sangat marah saat membaca surat itu.
"Keponakan bodoh, sampai kapan kamu akan melindungi kedua orang itu? Mereka bahkan tidak pernah menghargai kebaikan mu!" gumam Raja Wei.
"Katakan kepada Ti San untuk memperketat penjagaan di istana Han Ze Xing, jangan biarkan orang asing mendekati nya. Jika diperlukan, bunuh saja orang asing yang terlihat mencurigakan di sekitarnya." perintah Raja Wei kepada Yu.
"Baik Yang Mulia." jawab Yu.
Sementara itu Li Siang telah di angkat menjadi putri keluarga Fei Ho Tian, sepupu dari Selir Fei. Fei Ho Tian adalah menteri keuangan yang telah bekerja selama 10 tahun, dan selama itu pula dia menggelapkan uang pajak yang di pungut secara ilegal.
Li Siang merasa senang atas status barunya, dia belum menyadari bahwa Selir Fei hanya memperalat dirinya untuk membunuh Han Ze Xing.
HARI PERJAMUAN
Han Ze Xing masih berada di kamar, dia tidak semangat di hari ulang tahun nya ini. Raja Wei tiba lebih awal bersama Permaisuri.
"Ze Xing, apa yang kamu lakukan? Kenapa sudah siang begini kamu masih belum bersiap untuk menyambut tamu?" tanya Raja Wei.
"Saya tidak menyukai acara seperti ini, terlalu boros dan menyia-nyiakan kas negara. Bukankah akan lebih baik jika uangnya di pakai untuk membantu rakyat miskin, Paman?" ucap Han Ze Xing.
Raja Wei mengacak-acak rambut Han Ze Xing dan berkata, "Sepertinya keponakan ku sudah bisa menjadi Kaisar yang baik."
Han Ze Xing berkata dengan wajah cemberut, "Paman, berhentilah memperlakukan saya seperti anak-anak!"
"Kamu memang masih anak-anak di mata Paman." jawab Raja Wei yang kembali mengacak rambut Han Ze Xing.
"Hahaha... saat ini, kalian berdua mirip dengan anak-anak yang sedang bertengkar!" ucap Se Se sambil mengelus kepala kedua pria itu.
__ADS_1
Hati Han Ze Xing tersentak, dia senang mendapat perlakuan seperti itu dari Se Se. Sementara Raja Wei terlihat cemberut karena istrinya menyentuh pria lain.
Raja Wei menangkap dan menahan tangan Se Se, dia berbisik, "Akan ku patahkan jika kamu masih berani menyentuhnya!"
"Patahkan? Apa? Tangan ku?" tanya Se Se bingung.
"Lehernya!" jawab Raja Wei.
"Paman benar-benar kejam, saya harus kehilangan nyawa hanya karena satu sentuhan dari Permaisuri. Ck... Ck... Ck... Malang sekali nasib saya!" ucap Han Ze Xing dengan wajah pura-pura memelas.
"Kalau begitu, rambut mu saja yang ku gunduli! Mana yang akan kamu pilih?" tanya Raja Wei dengan wajah serius.
"Saya pilih pilihan yang ketiga! Maafkan saja keponakan Paman yang tampan ini. Hehe..." jawab Han Ze Xing sambil terkekeh.
"Segera bersiaplah, acara akan segera di mulai. Tidak baik membuat tamu menunggu." ucap Se Se.
Han Ze Xing mengangguk, dia memanggil pelayan untuk membantu mengganti pakaian dan merapikan rambutnya.
Raja Wei dan Se Se menunggu di depan taman Istana Matahari. Beberapa menit kemudian Han Ze Xing keluar dengan penampilan yang luar biasa memukau.
Wajah tampan Han Ze Xing mirip dengan Raja Wei, hanya saja wajah Han Ze Xing terlihat lebih ramah sedangkan Raja Wei terlihat dingin.
Acara di mulai dari pemberian hadiah, semua tamu mempersiapkan hadiah mahal dan langka kecuali Permaisuri Raja Wei.
"Permaisuri, kenapa anda memberikan hadiah berupa pil obat untuk Putra Mahkota?" tanya Kaisar.
"Itu adalah obat yang sangat berguna untuk Putra Mahkota." jawab Se Se.
"Obat? Obat apa? Apakah Putra Mahkota menderita penyakit?" semua orang bertanya-tanya.
"Permaisuri, obat apa ini?" tanya Kaisar dengan wajah penasaran.
"Obat itu adalah obat penawar segala jenis racun. Obat itu mirip seperti pil dewa yang dulu sangat terkenal." jawab Se Se.
Obat itu di buat dari darah Se Se yang sudah di keringkan dan di bentuk menjadi bulatan pil. Bagian luar hanya gula dan coklat, sedangkan dalamnya berisi darah kering.
Se Se menyiapkan obat itu karena mendengar kabar bahwa Selir Fei akan membunuh Han Ze Xing, tentunya cara yang paling banyak di gunakan untuk membunuh orang di istana adalah dengan menggunakan racun.
__ADS_1
Obat itu di siapkan untuk Han Ze Xing dan diberikan di depan umum agar Selir Fei mengetahui nya. Se Se berharap wanita jahat itu akan mengurungkan niatnya untuk membunuh Han Ze Xing.
"Wow... pil dewa!"
"Obat itu pasti sangat mahal."
"Aku juga menginginkan obat seperti itu!"
"Permaisuri benar-benar luar biasa, dari mana dia bisa mendapatkan obat itu?"
Semua tamu mulai bergosip, mereka bertanya-tanya bagaimana Permaisuri bisa mendapatkan obat yang bisa menyembuhkan segala jenis racun.
Kaisar merasa senang mendengar jawaban dari Se Se, dia memerintahkan Kasim untuk memberi hadiah kepada Se Se.
Acara di lanjutkan dengan tarian dan nyanyian, Li Siang menjadi penari utama. Dia memakai pakaian minim seperti biasanya, pakaian tipis dengan perut terbuka. Kali ini bagian melon nya terlihat hingga setengah cup menyembul keluar dari balik kain penutupnya.
Tatapan dari semua pria nakal teralihkan ke tubuh Li Siang, dia terlihat seperti pelacur yang sedang menjajakan tubuhnya di depan para pria. Selain Raja Wei dan Han Ze Xing, semua mata melihat tubuh Li Siang dengan pandangan mesum dan pikiran kotor mereka.
Han Ze Liang menatap tubuh Li Siang dengan senyuman genitnya, dia memberi tanda kepada Li Siang agar masuk ke kamarnya setelah selesai menari.
Li Siang menurut, dia berjalan ke kamar Han Ze Liang setelah selesai dua tarian, penari lain meneruskan tarian tanpa Li Siang.
Han Ze Liang sudah menunggu Li Siang di kamar, Li Siang baru saja masuk ke kamar. Han Ze Liang menarik tangan nya dan segera mencium bibir dan leher Li Siang dengan buas.
Dia melepaskan semua kain yang melilit tubuh Li Siang, dengan kasar Han Ze Liang menghempas tubuh wanita itu ke ranjang.
Li Siang merintih kesakitan, Han Ze Liang tidak peduli dengan rasa sakit wanita itu. Dia membalik tubuh Li Siang dan melahap bagian punggungnya dengan kasar. Gigitan kecil terlihat di sekujur tubuh wanita yang kini di tindihnya.
"Akh...! Jangan, jangan lakukan itu. Sakit...!" Li Siang merintih dan memohon dengan mata berair.
^^^BERSAMBUNG...^^^
Hai teman-teman... π€
Maaf baru update lagi, saya terlalu lelah setelah pulang dari kemacetan lalu lintas yang sangat padat, jadi baru hari ini update nya.
Mohon dukungan nya, jangan lupa bantu Vote dan Like πtiap Episode ππ
__ADS_1
Terima Kasih... Luph U Full πππ