The Princess Story

The Princess Story
Episode 234


__ADS_3

Hari masih subuh, matahari bahkan belum bersinar, namun kediaman Huang sudah terlihat banyak pelayan lalu lalang.


Hari ini merupakan hari pesta ulang tahun Perdana Menteri Huang, pelayan di kediaman Huang di sibukkan dengan berbagai macam pekerjaan karena tamu yang di undang tergolong banyak.


Pelayan mondar mandir melakukan pekerjaan mereka yang telah di atur sedemikian rupa oleh kepala pelayan. Beberapa pelayan yang masih belia membantu pekerjaan kecil seperti menghias bunga di sekeliling taman.


Tidak lupa pula kepala pelayan membersihkan kolam teratai yang merupakan salah satu tempat terindah di kediaman Huang. Lampu lampu lampion merah yang di ukir dengan huruf panjang umur bergantungan di depan pintu gerbang.


Sementara itu, Se Se masih berada di kediamannya sendiri. Dengan wajah serius, dia mengukir batu giok yang berwarna hijau gelap dengan hati hati agar tidak merusak keindahan batu tersebut.


Ling Er yang takut majikannya kelaparan, sudah menyiapkan makanan ringan saat tengah malam. Namun hingga sekarang makanan itu belum tersentuh.


"Auchhh!"


Darah bercucuran dari jari Se Se yang tergores pisau ukir.


Meskipun ia berbakat, mengukir batu giok ternyata memang tidak mudah. Batu itu terlalu keras sehingga sulit di ukir dengan tangan manusia.


Di kehidupannya yang lampau, Se Se hanya perlu membawa batu giok ke ahli giok untuk mendapatkan giok yang sesuai dengan keinginannya. Namun di jaman kuno ini meskipun di sebut ahli giok, masih banyak hal yang belum bisa mereka lakukan karena peralatan yang kurang memadai.


"Perasaanku jadi tidak tenang karena melihat darah di hari ulang tahun ayah, semoga saja tidak terjadi hal buruk." pikir Se Se.


Se Se melanjutkan mengukir batu giok setelah menutup lukanya dengan plester yang ia ambil dari ruang dimensi, sudah satu malam ia mengukir batu itu tanpa istirahat sedikitpun.


Matahari mulai tinggi, cahaya matahari yang hangat masuk melalui celah celah kecil di antara pintu dan jendela kamar. Se Se menatap giok hasil kerjanya selama beberapa menit dengan wajah puas.


Raja Wei mengetuk pintu sebelum masuk ke ruang kerja Se Se dengan membawa teh dan semangkuk sarapan yang masih hangat.


Melihat istrinya yang tersenyum manis di sana membuat Raja Wei tidak tahan untuk mengecup dan memeluknya. "Istriku, aku membawakan sarapan dan minuman hangat untuk mu." ucap Raja Wei yang masih memeluk pinggang ramping istrinya.

__ADS_1


"Terima kasih." jawab Se Se masih menatap batu giok yang terletak di meja.


"Cuma itu saja?" tanya Raja Wei dengan wajah cemberut.


"Terima kasih banyak suamiku tercinta." jawab Se Se masih dengan pandangan mata ke arah giok.


Raja Wei kesal melihat tingkah laku istrinya yang lebih tertarik dengan giok dari pada dirinya. Kedua tangan Raja Wei kini menangkap pipi istrinya yang sedikit gembul berisi, ia mendorong lembut arah pandangan Se Se menuju matanya.


"Istriku, apakah aku sudah tidak menarik lagi sekarang?" tanya Raja Wei.


Bukannya menghibur, Se Se dengan spontan tertawa terbahak bahak di ikuti jawaban yang membuat Raja Wei semakin kesal.


"Aku lebih tertarik dengan pria muda yang perkasa!"


Raja Wei menarik tubuh istrinya ke dalam pelukan, ia meraih kepala Se Se kemudian di dekatkan ke wajahnya. Mereka saling bertatap mata sebelum akhirnya saling berciuman panjang dan sangat sangat lama.


Ciuman di antara keduanya membuat udara di ruangan itu terasa panas. Tangan nakal Raja Wei mulai meraba kedua bukit kenyal milik Se Se yang masih tetap indah meskipun sudah berulang kali bongkar mesin.


"Aku akan melakukannya dengan cepat." bisik Raja Wei di telinga istrinya.


Raja Wei menarik turun pakaian yang dikenakan oleh istrinya, dengan cepat Se Se menarik kembali helaian kain yang hampir terjatuh.


Se Se mendorong ringan tubuh Raja Wei, dengan kedua telapak tangannya yang kecil itu ia menahan terkaman dari suaminya yang sudah terpancing untuk memasuki gawangnya.


"Nanti! Nanti malam saja!" ucap Se Se masih dalam posisi kedua telapak tangan yang mendarat di dada suaminya.


Raja Wei menatap adik juniornya yang saat ini mengeras tegak mencari sarungnya. Se Se menelan air liur ketika ia ikut mengarahkan pandangan ke sana.


"Tidak.... Tidak boleh...!" teriak batin Se Se yang agak goyah ketika melihat benda tumpul yang sudah kelihatan akan meledak keluar dari sarangnya.

__ADS_1


"Kami pasti akan terlambat ke pesta jika aku mengizinkan Xuan melakukan nya saat ini. Tidak boleh, kali ini benar benar tidak boleh!" ucap Se Se dalam hatinya.


Se Se melepas tangannya dari dada bidang itu, ia melangkah dengan hati hati demi menghindar dari serangan Raja Wei seolah-olah pria itu adalah binatang buas yang siap menerkam dirinya jika ia lengah sedikit saja.


"Ha... Ha... Ha...!"


Raja Wei tertawa geli melihat sikap imut istrinya yang berusaha keras untuk menghindar darinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mariane merenung di dalam kamar, sudah dua hari ini dia tidak makan dan minum. Kondisi mentalnya sangat terganggu karena kehilangan calon bayi yang susah ia tunggu selama ini.


Pangeran Arnold selalu berkunjung beberapa kali dalam sehari untuk melihat kondisi Mariane, wanita satu satunya yang pernah dia cintai. Meskipun cinta untuk kakak ipar bukanlah hal yang terhormat, dia masih belum sanggup untuk melupakan Mariane.


Mengetahui situasi di kediaman Kakaknya, Pangeran Arnold merasa ingin merebut dan membawa jauh Mariane. Dia sangat menyesal karena tidak memperjuangan cintanya. Andai saja Mariane menikah dengan Pangeran Arnold, tentu Mariane akan menjadi wanita yang paling bahagia, pernyataan itu yang kini ada di pikiran Pangeran Arnold.


"Kakak ipar, tolong makanlah sedikit." pinta Pangeran Arnold dengan wajah cemas.


"...."


Jangankan menjawab, Mariane bahkan tidak mau memalingkan wajahnya untuk melihat Pangeran Arnold yang sudah berusaha menghiburnya selama beberapa hari ini.


Sedih, marah, kecewa, semua perasaan menjadi satu. Pangeran Arnold merasa sedih melihat kondisi Mariane, dia kecewa melihat usahanya yang sia sia dan dia marah karena tidak pernah sekalipun kakaknya datang untuk meminta maaf kepada Mariane yang telah dia sakiti hingga ingin menemui kematian.


"Aku ingin melihat senyuman indah yang dulu. Aku ingin mendengar suara tawa dan omelan yang selalu ditujukan untukku. Aku ingin menatap mata yang berbinar seperti dahulu kala saat kita masih bersenang senang bersama." ucap Pangeran Arnold di depan Mariane yang masih duduk diam tanpa ekspresi.


Pangeran Arnold menghapus air mata yang baru saja keluar dari kedua bola matanya. Dengan ujung lengan baju, ia mengeringkan pipinya yang berair.


"Aku akan kembali lagi nanti malam." ucap Pangeran Arnold setelah menata hatinya yang lelah.

__ADS_1


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2