The Princess Story

The Princess Story
Darah?


__ADS_3

"Yang Mulia, jika anda bertindak melangkahi peraturan, para pejabat akan membuat posisi anda tersudut saat pertemuan nanti!" ucap Yu mengingatkan.


Sudah menjadi keharusan bagi para pahlawan yang kembali dari peperangan untuk melapor ke istana sebelum mereka kembali ke rumah. Namun Raja Wei telah mengabaikan peraturan ini sejak dia menikah.


Yu merasa khawatir karena sejak Raja Wei mendapatkan gelar Raja, selalu saja ada orang yang ingin menjatuhkan kekuasaanya. Entah karena mereka takut kepada Raja Wei atau karena rasa iri sebab mereka tidak pernah mengalahkan Raja Wei dalam segala aspek.


Tindakan Raja Wei yang menyalahi peraturan bisa menjadi bumerang untuknya, para pejabat akan menjadikan kesalahan ini sebagai alasan untuk menjatuhkan Raja Wei di depan Kaisar.


"Jangan khawatir, aku tidak akan pernah tunduk kepada mereka!" jawab Raja Wei dengan wajah santai.


Yu hanya bisa menghela nafas melihat sifat arogan pria yang dilayani olehnya.


Zhun Tian duduk di atas balkon sebuah restoran, pria itu menonton penyambutan yang dilakukan oleh rakyat untuk para pahlawan mereka dari atas sana.


"Pria itu, suami dari penyelamatku dia pahlawan yang di juluki dengan gelar dewa perang. Wajahnya selalu memakai topeng, tidak banyak orang yang mengetahui seperti apa wajah aslinya. Aku jadi penasaran dengan pria yang berhasil merebut hati wanita itu. Apa kelebihan darinya yang membuat wanita itu begitu mencintainya?" batin Zhun Tian.


Raja Wei menoleh ke atas, letak balkon restoran tersebut. Dia mencari keberadaan seseorang yang sedang menatapnya dengan begitu tajam. Mata mereka bertemu, Raja Wei hanya tersenyum sinis melihat Zhun Tian yang tidak menunjukkan tanda-tanda permusuhan.


Raja Wei bertanya-tanya dalam hati, "Siapa pria itu? Kenapa dia terus melihat ke arah ku?"


KEDIAMAN RAJA WEI


Pelayan mondar mandir di seluruh kediaman, mereka mempersiapkan pesta penyambutan untuk kembalinya pahlawan yang sedang dibicarakan oleh khalayak ramai, yang tentunya merupakan salah satu majikan serta prajurit dari kediaman ini.


"Permaisuri, makanan sudah siap semua."


"Permaisuri, karpet merahnya sudah kami gelar di sepanjang jalan menuju aula."


"Permaisuri, kami sudah selesai menata meja dan kursi sesuai dengan susunan di kertas ini."

__ADS_1


"Permaisuri, para penari sudah tiba. Mereka menunggu di halaman belakang."


"Permaisuri, pohon di depan pintu sudah kami hias dengan sempurna sesuai petunjuk anda."


Pelayan mondar mandir di depan Se Se sambil melaporkan semua tugas yang telah mereka selesaikan dan laporan mengenai persiapan acara untuk menyambut pahlawan dari kediaman yang akan segera kembali.


Wanita itu berdiri di bawah pohon kesemek yang baru saja berbuah, dia menatap ke atas pohon sambil berkata, "Aku sangat senang karena perang telah usai dalam waktu yang singkat. Mereka semua pasti mengalami hari yang sulit di medan perang, aku harap pesta ini bisa menjadi hiburan dan pelepas lelah.


"Majikan, anda baik-baik saja?" tanya Huo Feng yang entah muncul dari mana.


Se Se melompat kaget karena kehadiran Huo Feng yang mendadak. Dia menatap pria itu dengan wajah kesal sambil mengomel, "Kenapa kau selalu muncul dengan tiba-tiba? Tidak bisakah kau masuk melalui gerbang utama dan bersikap layaknya tamu seperti umumnya? Kau selalu berkata dirimu itu phoenix yang agung, tapi yang ku lihat darimu hanya seekor burung pengintai yang suka masuk ke rumah orang tanpa izin."


Huo Feng hanya diam mendengar semua ocehan dari majikannya itu. Dia mengerti jika hati wanita itu sedang di landa kegelisahan setelah sekian lama menahan rasa cemas dan khawatir terhadap suaminya yang pergi ke medan perang.


Setelah mengomel panjang dan lebar, wanita itu akhirnya menangis dengan sangat sedih dan memilukan. Huo Feng hanya menemani di sampingnya tanpa berkata-kata.


Beberapa menit berlalu, majikannya terlihat lebih tenang. Dia menghapus air matanya dengan sapu tangan yang diberikan oleh Huo Feng.


"Aku tidak baik-baik saja, aku juga tidak merasa lebih baik. Perasaan ku sangat buruk, aku merasa marah dan benci semua hal buruk yang telah terjadi di kehidupanku ini.


"Aku hanya menginginkan kehidupan sederhana yang tenang dan bahagia, tapi kata tenang sangat jauh dari hidupku.


"Aku selalu mencoba menghindari masalah, tapi entah mengapa masalah itu selalu datang menghampiriku.


"Aku selalu berpikir untuk menolong orang-orang yang membutuhkan bantuan, tapi kenapa banyak orang yang berharap musibah datang kepadaku dan keluargaku?


"Aku sangat marah memikirkan semua hal ini. Ingin rasanya ku hancurkan mereka semua agar tidak ada lagi orang yang bisa mencelakakan keluarga dan juga temanku.


"Feng, kau pasti berpikir jika aku sangat egois kan? Banyak orang yang terlahir lebih menderita, tapi aku malah mengeluh dengan kehidupan mewahku sebagai seorang Permaisuri."

__ADS_1


Huo Feng mengeluarkan sayapnya, dia menepuk pelan punggung majikannya yang sedang memiliki banyak pertanyaan dan kekhawatiran dalam hidupnya.


"Jangan khawatir, mulai sekarang aku yang akan menjadi pelindung di sini. Aku akan memastikan orang-orang itu tidak bisa menyentuh kalian lagi." ucap Huo Feng masih sambil menepuk-nepuk punggung Se Se yang terasa berat untuknya.


Seorang pelayan berjalan dengan langkah terburu-buru menuju ke tempat Se Se berdiri. Dia melihat Huo Feng yang sedang menampakkan sayapnya sambil menepuk-nepukkan sayapnya ke punggung Permaisuri mereka.


Tersentak kaget hingga terjatuh ke tanah, dia lalu menjerit dengan suara histeris, "Mon... Monster!!! Tolong...! Ada monster yang menangkap Permaisuri!"


Mendengar suara teriakan dari pelayannya, Se Se berbalik menatap ke arah datangnya suara. Dia mendekati pelayan itu, mengulurkan tangan hendak membantunya berdiri.


"Jangan takut! Dia ini temanku, bukan monster." ucapnya masih sambil mengulurkan tangan.


Namun pelayan itu sepertinya tidak percaya dengan kata-kata Permaisuri, dia merangkak mundur untuk menjauh.


Huo Feng segera menghilang setelah mendengar suara langkah kaki para pengawal yang menuju ke sana. Se Se masih berusaha menenangkan pelayan yang gemetaran itu.


"Yang Mulia, apa yang terjadi?" tanya seorang penjaga.


"Tidak ada apa-apa, pelayan ini hanya kaget dan terjatuh. Tolong bawa dia kembali ke kamarnya." perintah Se Se.


Pelayan itu begitu terkejut hingga tidak bisa berkata-kata, matanya masih membelalak tanpa berkedip sedikitpun. Dia menatap ke arah Se Se yang juga sedang menatapnya, pandangan mata Se Se seolah mengisyaratkan pelayan itu untuk tutup mulut dan merahasiakan apa yang baru saja dia lihat.


Setelah kepergian para pengawal, Huo Feng kembali muncul dan berkata, "Maaf, lagi-lagi aku menambah masalah untukmu."


Se Se tiba-tiba saja tertawa lepas, setelah menghentikan tawanya, dia menatap Huo Feng.


"Terima kasih sudah mendengarkan keluh kesah ku. Kau pasti sangat bosan, tapi kau masih bertahan di sini dan mendengarkan semuanya. Aku benar-benar berterima kasih kepadamu Feng!" ucapnya dengan senyuman tulus.


Wajah Huo Feng memerah, dia merasa malu mendengar kata-kata dari Se Se untuknya. "Aku hanya diam saja dan tidak melakukan apa-apa. Jadi jangan berterima kasih kepadaku! Jika kau merasa lebih baik, berikan saja darahmu sebagai hadiah untukku!"

__ADS_1


Seorang pria berbaju putih baru saja tiba di sana, dia mendengar kalimat terakhir Huo Feng. "Darah?" ucapnya dalam hati.


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2