The Princess Story

The Princess Story
Ep 226. Mariane


__ADS_3

"Aku tidak marah!" jawab Raja Wei dengan wajah masam.


"Tapi Xuan terlihat sedang marah!" ucap Se Se sambil tersenyum menggoda.


"Aku tidak marah!" ucap Raja Wei mengulangi.


"Ooo... Benarkah?" goda Se Se sambil mendekatkan wajahnya.


Raja Wei langsung mengecup bibir Se Se yang berada tepat di depannya.


"Aku tidak akan marah jika istriku memberikan kompensasi atas kesabaranku." ucap Raja Wei.


Raja Wei melingkarkan lengannya ke pinggang Se Se, sedetik kemudian dia mengangkat tubuh Se Se hingga kini berada di atas pangkuannya.


"Xuan... Kita sedang ada di istana. Ini memalukan jika di lihat orang lain." ucap Se Se sambil mendorong tubuh Raja Wei menjauh.


"Aku tidak merasa malu tuh!" jawab Raja Wei yang mengencangkan kembali pelukannya.


Se Se dan Raja Wei beradu pandang sejenak sebelum akhirnya kedua bibir mereka terhubung. Ciuman panjang dan bergairah kini memanaskan suasana.


Beberapa kali tangan Raja Wei yang nakal menyusup ke bagian dalam paha Se Se namun selalu di tepis oleh gadis itu.


Puas berciuman, Raja Wei meminta lebih untuk kompensasi nya. Dia mengarahkan tangan Se Se ke bagian "junior" yang kini telah terbangun.


"Tolong bantu aku menenangkannya!" bisik Raja Wei.


Terbelalak kaget dengan aksi Raja Wei, Se Se dengan cepat menarik tangannya meninggalkan "rudal" yang siap meluncur itu.


"Ahhh!!! Xuan benar benar deh!" ucap Se Se sambil memegang keningnya.


"Tolong bantu aku!" pinta Raja Wei dengan wajah polosnya.


"Tapi kita sedang di istana, tidak bisakah Xuan menahannya saja?" ucap Se Se dengan wajah resah tak nyaman.


"Tidak bisa, aku tidak sanggup menahannya." jawab Raja Wei.


Ingin rasanya Raja Wei mendorong tubuh istrinya dan melahapnya hingga habis. Namun apa daya, mereka saat ini sedang berada di istana.


"Se Se pasti akan membenciku jika aku memaksanya untuk melakukan itu sekarang!" batin Raja Wei.

__ADS_1


"Tahanlah sebentar, setelah jamuan berakhir kita akan segera pulang!" ucap Se Se menolak permintaan Raja Wei.


"Xiao Ti, ibu tidak mau menolong kita, jadi ayahmu juga tidak memiliki cara selain menahannya." ucap Raja Wei dengan mata mengarah ke "junior" yang masih terbangun.


*Xiao Ti \= adik kecil


Se Se kembali menyentuh keningnya dengan wajah kesal, "Semua pria memang mesum!" gumamnya.


"Aku hanya mesum pada istriku saja! Itu karena kamu sangat cantik dan menggoda. Jadi itu semua salahmu!" ucap Raja Wei.


Se Se kesal sampai tak bisa berkata kata.


*****


Raja Wei dan Se Se memasuki taman istana, beberapa pejabat kecil datang berhamburan entah dari mana. Mereka mencoba mendekati Se Se yang terlihat ramah.


Raja Wei yang merasa tidak nyaman segera mengeluarkan aura pembunuhnya agar istri tercinta tidak di dekati oleh lalat lalat yang berkerumun. Apalagi jika lalat itu berjenis kelamin laki laki.


Se Se berusaha tersenyum meskipun merasa kesal dengan sikap Raja Wei yang semena mena.


Karena perjamuan akan segera di mulai, semua tamu undangan di persilahkan masuk ke ruang jamuan.


Delegasi dari negara barat berjumlah delapan orang yang masing masing membawa dua orang pelayan dan dua pengawal.


Tempat duduk Raja Wei dan Se Se tepat berada di depan para delegasi. Beberapa delegasi melirik secara terang terangan ke arah Se Se.


"Gadis itu cantik sekali!" ucap Pangeran Andrew yang tengah menatap Se Se.


"Ya, terlihat sangat menarik dan menggoda." jawab Pangeran Yohanes.


Kedua pangeran saling beradu pandang, senyuman licik terlihat di bibir mereka seolah merencanakan hal jahat bersama tanpa saling berkomunikasi.


Pangeran Andrew adalah Pangeran pertama dari Kerajaan Barat dan pangeran Yohanes adalah Pangeran kedua.


Kedua Pangeran dari barat ini sudah dikenal sebagai pria nomor satu pecinta wanita cantik. Mereka selalu memaksa wanita cantik dari rakyat jelata untuk di jadikan sebagai selir ataupun budak ****.


Raja Wei melayangkan tatapan membunuh kepada kedua pangeran itu. Secara serentak kedua pangeran merinding akibat tatapan dari Raja Wei.


"Lebih baik kalian menjaga sikap! Di sini bukanlah tempat di mana kalian bisa memperlakukan orang lain dengan semena mena." ucap Pangeran Arnold yang merupakan Pangeran ketiga.

__ADS_1


"Adik ketiga, urus saja urusan mu sendiri! Jangan mencoba menggurui kami!" ucap Pangeran Andrew dengan wajah kesal.


"Ayo kita bersenang senang bersama nanti malam!" ajak Pangeran Yohanes dengan wajah mesum.


Pangeran Arnold menarik nafas panjang melihat kelakuan kedua saudaranya.


Pesta baru saja di mulai dengan tarian yang di siapkan oleh penari istana. Wanita berpakaian berwarna warni dengan gerakan lembut yang indah menghibur semua orang di pesta.


Hanya satu orang yang terlihat kesal sejak datang ke pesta itu, orang itu adalah Raja Wei yang sedari tadi terganggu dengan lirikan pria pria lain ke arah Se Se.


"Seharusnya aku tidak membawa Se Se ke pesta ini!" batin Raja Wei.


Hidangan pertama mulai di sajikan, menu hidangan dingin yang menjadi awal pembuka makan malam menjadi pilihan koki istana.


Raja Wei memasukkan makanan yang di sukai Se Se ke dalam piring, ia berikan piring itu kepada Se Se yang sedang menikmati tarian.


Bangsawan yang hadir di pesta itu masih terkejut melihat sikap manis Raja Wei. Raja perang yang berdarah dingin ternyata bisa memperlakukan seorang wanita dengan lembut, sungguh pemandangan yang sangat langka.


Melihat Se Se yang masih fokus dengan tarian, Raja Wei secara langsung menyuapi istrinya itu.


"Astaga!!!"


"Apa aku sedang bermimpi?"


"Sepertinya langit akan segera runtuh!"


"Lihat ini! Apa yang baru saja aku lohat di depan ku?"


"Aku harus menyebarkan berita ini besok!"


Beberapa bangsawan mulai sibuk bergosip melihat tingkah laku Raja Wei yang di anggap sangat menyimpang dari dewa perang yang mereka kenal.


"Permaisuri sangat beruntung bisa menikah dengan Yang Mulia." ucap pelayan istana.


Mariane, istri dari Pangeran Andrew melirik ke arah Se Se dan Raja Wei. Beliau penasaran karena terus menerus mendengar pembicaraan para pelayan yang menyebut nama Permaisuri Raja Wei.


"Seandainya saja sikap suamiku seperti Raja Wei yang begitu perhatian kepada istrinya!" batin Mariane.


Mariane teringat perilaku suaminya, Pangeran Andrew yang selalu kasar terhadapnya. Hanya di awal pernikahan saja Pangeran Andrew bersikap lembut. Setelah melewati tiga bulan pernikahan, sikap kasar Pangeran Andrew mulai terlihat.

__ADS_1


Mulai dari caci maki hingga tamparan di wajah, tidak sedikit perlakuan kasar yang sudah di terima oleh Mariane istrinya.


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2