
Pasukan pemberontak mulai menyerang istana, Han Ze Xing memberikan perintah kepada pasukan militer untuk masuk ke Istana.
Peperangan tidak dapat di hindari, keluarga kerajaan yang ketakutan akhirnya melarikan diri. Pangeran yang masih kecil juga di perintahkan untuk meninggalkan istana, sisanya tinggal di Istana untuk membantu melawan pemberontak.
Han Ze Xing berada di kamar Kaisar, dia membawa beberapa pengawal untuk melindungi Kaisar yang menjadi target pemberontak.
Mereka menunggu di dalam sementara di luar telah terjadi pembunuhan besar-besaran. Pelayan dan Kasim Istana banyak yang menjadi korban, pasukan pemberontak tanpa segan mengambil nyawa mereka semua.
"Brakkk!"
Pintu kamar Kaisar di tendang oleh salah satu anggota pemberontak.
"Bunuh Kaisar Han!" perintah Pemimpin pasukan pemberontak.
Han Ze Xing dengan sigap menghalang para pemberontak, dia berdiri di depan Kaisar dan melawan pasukan pemberontak bersama pengawal kerajaan.
Posisi mereka tersudut, jumlah pasukan pemberontak ternyata sangat banyak. Kini mereka hanya sisa 8 orang pengawal dan Han Ze Xing, sedangkan Kaisar Han tidak bisa berpedang.
"Paman... Sepertinya aku akan mengecewakan kepercayaan Paman. Aku tidak sanggup melawan pasukan pemberontak yang seperti tidak ada habisnya ini." batin Han Ze Xing.
"Apa yang kamu pikirkan saat sedang bertarung?"
Suara yang di kenal Han Ze Xing membuyarkan lamunannya, dalam sekejab hatinya terasa lega karena mendengar suara itu.
"Bunuh mereka semua!" perintah Raja Wei yang baru saja tiba di Istana.
"Baik Yang Mulia!" jawab Pasukan Elang serentak.
Raja Wei membantu melawan pasukan pemberontak, kini sisa Jenderal dari negara Zhou.
"Ini hadiah untuk mu!" ucap Raja Wei sambil melemparkan sebuah bungkusan berdarah.
Jenderal Zhou mengambilnya dan membuka bungkusan itu, matanya langsung membelalak kaget saat melihat isi di dalam bungkusan.
"Kau! Bajingan keji, berani nya kau membunuh Kaisar kami!" ucap jenderal Zhou.
"Jika aku keji, lalu kau apa? Bukan kah kah datang untuk membunuh Kaisar Han?" jawab Raja Wei.
"Han Ze Xuan! Aku bersumpah akan membunuh mu dan semua anggota keluarga mu!" ucap jenderal Zhou dengan penuh kebencian dan amarah di matanya.
"Lakukan saja jika kau mampu!" jawab Raja Wei.
Jenderal Zhou segera berbalik dan melarikan diri, Pasukan Elang berusaha mengejar namun Raja Wei menghentikan mereka.
"Tidak perlu mengejarnya, kalian tidak akan mampu menangkap orang itu!" ucap Raja Wei.
"Paman, untung saja Paman kembali tepat waktu." ucap Han Ze Xing.
__ADS_1
"Ze Xing ku sudah dewasa sekarang, Paman bangga pada mu karena telah melindungi Yang Mulia Kaisar dengan baik." ucap Raja Wei sambil mengelus kepala Han Ze Xing.
"Ah Paman!! Sudah ku katakan jangan memperlakukan aku seperti anak kecil." ucap Han Ze Xing dengan wajah kesal.
"Hahaha..." Kaisar Han dan raja Wei tertawa bersama mendengar keluhan Han Ze Xing.
Kekacauan akhirnya berakhir, Pasukan Elang dan pengawal istana yang tersisa membereskan mayat-mayat dan membersihkan darah yang berceceran di lantai serta dinding istana.
Raja Wei menceritakan semua kejadian kepada Kaisar dan Han Ze Xing. Setelah tugas mereka selesai, Raja Wei kembali ke kediaman. Dia menulis surat untuk Thien Si Rui di dalam ruang kerja.
"Yu, kirimkan surat ini kepada Thien Si Rui!" perintah Raja Wei.
"Baik Yang Mulia." jawab Yu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa hari telah berlalu, Se Se yang tinggal di Istana Bulan mulai terbiasa dengan makanan aneh dari Kerajaan Langit.
Thien Si Rui mengujunginya setiap hari, dia membawa makanan sehat dan bergizi yang di buat oleh koki istana setelah mendapat pengarahan dari tabib.
Meskipun rasa makanan itu aneh, Se Se tidak pernah menolak memakannya. Dia tidak ingin mengecewakan Thien Si Rui yang telah menyelamatkan nyawa mereka.
"Tok Tok Tok!"
"Masuk!"
Thien Si Rui masuk bersama beberapa pelayan, seperti biasanya, dia membawa makanan yang bau nya terasa aneh.
Se Se menatap makanan itu dengan wajah berkerut, Thien Si Rui tertawa kecil melihat wajah Se Se yang terlihat menggemaskan bagi nya.
"Makanan aneh apa lagi hari ini?" tanya Se Se.
"Makanan ini dibuat dari sirip ikan hiu yang di masak dengan ginseng ribuan tahun. Makanan ini sangat bagus untuk tubuh anda dan bayi di dalam perut anda." jawab Thien Si Rui.
"Sepertinya anda berniat membuat tubuh saya menjadi gentong Yang Mulia!" keluh Se Se.
"Hahaha..." Thien Si Rui tertawa lucu mendengar keluhan Se Se.
"Anda tetap terlihat cantik meskipun berat badan anda bertambah. Silakan di makan Permaisuri!" ucap Thien Si Rui.
Thien Si Rui berjalan mendekat ke tempat tidur, dia menggendong Xia Xia kemudian berkata, "Cepatlah besar, Paman tidak sabar ingin melihat mu tumbuh dewasa dengan wajah cantik seperti ibu mu."
"Yang Mulia, jangan menggoda bayi kecil. Nanti anda akan di kira sebagai pedofil." ucap Se Se.
"Pedofil? Apa itu?" tanya Thien Si Rui tidak mengerti.
"Uhukkk Uhukkk...."
__ADS_1
Se Se tersedak mendengar pertanyaan Thien Si Rui. Dia lupa bahwa istilah itu belum ada di jaman ini.
Thien Si Rui meletakkan Xia Xia di atas ranjang dan segera mengambilkan teh untuk Se Se.
"Minum lah dulu... Hati-hati jangan sampai tersedak lagi!" ucap Thien Si Rui dengan wajah cemas.
"Terima Kasih Yang Mulia." ucap Se Se kemudian menerima cangkir teh dari tangan Thien Si Rui.
"Walaupun hanya sebatas ini, aku merasa bahagia dia ada di sisi ku." batin Thien Si Rui.
"Yang Mulia, apakah belum ada kabar dari Xuan?" tanya Se Se.
Thien Si Rui menggeleng, dia belum mendapat kabar dari Raja Wei sejak Se Se tiba di istana nya.
"Saya harap dia baik-baik saja." gumam Se Se.
"Dia pasti baik-baik saja, anda jangan terlalu khawatir." ucap Thien Si Rui.
"Terima kasih Yang Mulia, anda selalu menenangkan hati saya dengan kata-kata anda." ucap Se Se.
"Tidak perlu berterima kasih, saya hanya mengatakan yang sebenarnya. Han Ze Xuan pasti akan baik-baik saja, dia akan kembali dengan selamat untuk menjemput anda pulang ke Kerajaan Han." ucap Thien Si Rui.
"Akan lebih baik jika dia melupakan anda, Huang Se Se. Dengan begitu, saya bisa menjaga anda seumur hidup di Istana ini." batin Thien Si Rui.
"Tok Tok Tok!" seorang pelayan mengetuk pintu.
"Masuk!" ucap Thien Si Rui.
"Yang Mulia, Putri Jenderal Yang berada di ruangan anda, dia datang untuk bertemu dengan Yang Mulia." lapor pelayan.
"Katakan saja padanya bahwa aku sibuk!" ucap Thien Si Rui.
"Sibuk? Apakah maksud anda sibuk mengurusi wanita jalang ini?" ucap Yang Ru Yi, Putri tunggal dari Jenderal Yang.
Jenderal Yang adalah orang kepercayaan Kaisar terdahulu, sudah banyak jasa dan pengorbanan yang dia lakukan untuk Kerajaan Langit.
Sayangnya, Jenderal Yang terlalu memanjakan satu-satunya putri di keluarga Yang sehingga membuat gadis ini begitu sombong dan arogan.
"Tutup mulut mu dan keluar dari istana ini sekarang juga!" bentak Thien Si Rui.
^^^BERSAMBUNG...^^^
Hai teman-teman...
Mohon dukungan nya.
Bantu Vote dan Like 👍setiap Episode.
__ADS_1
Jangan lupa tulis komentar sebanyak-banyaknya.
Terima Kasih💖