The Princess Story

The Princess Story
Ep 122. Li Siang berakhir tragis


__ADS_3

"Permaisuri!!!"


Han Ze Xing tanpa sadar memeluk Se Se yang berdiri di sampingnya, dia menahan serangan pedang dengan tubuhnya.


Pedang menebas punggung Han Ze Xing, darah segar mengalir deras dari lukanya. Raja Wei merebut pedang dan menebas leher Li Siang hingga kepala wanita itu terpisah dari tubuhnya.


"Putra Mahkota!"


"Xing!"


"Yang Mulia...!"


Semua orang terkejut melihat darah yang terus mengalir tanpa berhenti.


"Cepat panggil tabib!" perintah Kaisar dengan suara tinggi.


"Ze Xing, bertahanlah! Kamu akan baik-baik saja." ucap Raja Wei sambil menggendong tubuh Han Ze Xing ke ranjang.


Se Se mendekat dan memeriksa luka Han Ze Xing, dia lupa saat ini banyak orang yang sedang melihatnya.


"Tolong ambilkan gunting!" pinta Se Se entah kepada siapa.


Raja Wei mencari gunting di laci-laci yang ada di ruangan, dia menemukan gunting besi di salah satu laci, dengan segera gunting itu diberikan kepada Se Se.


Se Se menggunting pakaian Han Ze Xing, dengan hati-hati dia membersihkan darah yang mengalir dari luka itu.


"Apa yang terjadi? Kenapa Permaisuri menggunting pakaian Putra Mahkota?"


"Apakah tidak apa-apa tubuh Putra Mahkota di sentuh oleh Permaisuri seperti itu?"


"Apa yang sedang dilakukan oleh Permaisuri?"


Beberapa orang mulai berkicau melihat tindakan Se Se.


Se Se mengeluarkan jarum suntik dan anestesi dari ruang dimensi, dia menyuntik Putra Mahkota dan membersihkan luka di punggung Han Ze Xing dengan alkohol.


Dia menjahit luka panjang itu dengan menggunakan benang dan jarum yang juga di ambil dari ruang dimensi.


Semua mata melihat Permaisuri dengan tatapan kagum, sulit dipercaya seorang wanita bisa melakukan hal itu tanpa perasaan ngeri.


Namun sebagian orang menganggap Permaisuri adalah wanita kejam. "Bagaimana bisa dia menjahit kulit manusia dengan wajah tanpa ekspresi?" itulah yang ada di pikiran mereka.


Kaisar sudah mengetahui dengan jelas kemampuan Se Se di bidang pengobatan, dia hanya diam melihat tindakan medis yang wanita itu lakukan tanpa berkomentar.


Han Ze Xing tidak merasa sakit karena pengaruh anestesi, namun kepalanya sedikit pusing akibat kehilangan banyak darah.


Tabib baru datang, matanya membelalak kaget saat melihat Se Se menjahit luka di punggung Han Ze Xing, tabib merasa takjub dengan keahlian Se Se dalam ilmu pengobatan.


Belum ada satu pun tabib yang mengobati pasien dengan menjahit luka di jaman ini, hal itu membuat tabib ingin mempelajarinya dari Se Se.


Selesai menjahit, Se Se meminta agar tabib memberi obat penambah darah untuk Han Ze Xing.

__ADS_1


Tabib mendekat dan memeriksa denyut nadi Han Ze Xing, dia mengangguk dan berkata, "Yang Mulia baik-baik saja, hanya perlu menambah darah dan menjaga agar lukanya tidak terinfeksi."


Kaisar merasa lega mendengar nya, dia menatap Se Se dan berkata, "Terima Kasih telah menyelamatkan nyawa Xing."


"Putra Mahkota telah menyelamatkan nyawa saya, sudah seharusnya saya membalas kebaikan dari Putra Mahkota. Yang Mulia tidak perlu mengucapkan terima kasih kepada saya." jawab Se Se.


Sejenak kemudian mata Kaisar mengarah ke kepala Li Siang yang masih tergeletak di lantai.


"Bawa tubuh dan kepala wanita ini, gantung di depan gerbang kota agar semua orang melihatnya!" perintah Kaisar.


Tubuh Li Siang yang masih bugil di bawa oleh pengawal beserta kepalanya dengan mata yang masih terbuka. Mereka menggantung mayatnya di gerbang kota sesuai perintah Kaisar.


Han Ze Liang di usir dari istana, acara berakhir dengan peristiwa berdarah yang mengenaskan.


Raja Wei menatap Selir Fei, dia menaikkan sebelah bibirnya, menganggap remeh wanita itu. Selir Fei mengepalkan tangannya dengan erat dan berkata dalam hati, "Seharusnya aku membunuh anak dan istrimu lebih dulu!"


Han Ze Xing dipindahkan ke Istana Matahari, Raja Wei dan Se Se menemani Han Ze Xing di kamarnya.


"Terima kasih telah menyelamatkan nyawa saya Yang Mulia, tapi saya harap ini adalah yang terakhir kalinya." ucap Se Se.


"Aku bisa menghindar dari serangan itu jika Putra Mahkota tidak memeluk tubuh ku, dia juga tidak perlu terluka seperti ini jika tidak mencoba untuk melindungi ku. Dasar bodoh!" batin Se Se.


Han Ze Xing menatap Se Se tanpa berkata apa-apa.


"Orang bodoh pun akan sadar jika tatapan itu adalah tatapan dari seorang pria untuk wanita yang dicintai nya, hanya Permaisuri ku saja yang tidak menyadari hal itu." batin Raja Wei.


"Istirahatlah, jangan terlalu banyak bergerak agar luka mu tidak terbuka." ucap Raja Wei.


"Sampai kapan aku harus menyembunyikan perasaan ku ini?" batin Han Ze Xing.


Raja Wei dan Se Se berada di dalam kereta kuda, sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam.


"Bagaimana cara membuat Ze Xing menyerah atas perasaannya untuk gadis kecil ku?" batin Raja Wei.


"Apa yang sedang di pikirkan oleh suami ku? Sejak keluar dari Istana Matahari dia hanya diam tanpa berkata apapun. Apakah dia sedang marah pada ku?" batin Se Se.


"Xuan..." panggil Se Se.


"Hmm?" jawab Raja Wei tanpa melihat Se Se.


"Xuan...!" panggil Se Se lagi.


Raja Wei menoleh ke wajah istri nya, "Ada apa?"


"Apakah aku telah melakukan kesalahan?" tanya Se Se.


"Ya!" jawab Raja Wei.


"Kesalahan apa yang sudah ku lakukan hari ini?" tanya Se Se tak mengerti.


"Bukan hari ini, tapi setiap hari." jawab Raja Wei dengan wajah serius.

__ADS_1


" ... " Se Se terdiam memikirkan kesalahan apa yang sudah diperbuatnya.


Raja Wei mengangkat tubuh Se Se dan memangkunya, "Kesalahan mu adalah terlalu cantik dan menarik. Semua pria tergila-gila pada mu. Termasuk aku!" ucap Raja Wei dilanjutkan dengan mencium bibir mungil di depannya.


Se Se mendorong tubuh Raja Wei dengan pelan, "Apa maksudnya?" tanya Se Se dengan wajah bingung.


Raja Wei tidak ingin Se Se mengetahui kebenaran tentang perasaan Han Ze Xing, dia melanjutkan ciuman nya dan kali ini dia tidak membiarkan Se Se mendorong tubuhnya, dia memeluk tubuh istrinya dengan erat.


Tangan nakalnya mulai menyelinap ke pakaian Se Se dan menyentuh buah persik di dalamnya dengan hati-hati agar tidak terasa sakit.


Kehamilan membuat buah persik Se Se semakin membesar dan menggoda. Namun ketika di sentuh, gadis itu merasa sakit dan nyeri di sekitar pucuk persiknya.


Raja Wei harus berhati-hati jika menginginkan buah persik itu, Se Se akan menggigit tubuh Raja Wei jika menyentuhnya dengan kasar.


"Sayang... aku mau..." ucap Raja Wei sambil melepas pakaian atas Se Se.


"Ja...Jangan di sini!" jawab Se Se dengan suara gugup.


"Tapi aku tidak bisa menahan nya lagi." ucap Raja Wei sambil melanjutkan kenakalan tangannya.


"Ja...Jangan...! Hen...hen... tikan!" ucap Se Se dengan suara bergetar karena sentuhan jari Raja Wei di tubuhnya.


"Uhmmm... Hahh.... ha....hh"


"Xuan... hentikan, jangan di sini!"


Raja Wei tidak menggubris perkataan Se Se, dia masih sibuk melanjutkan permainan nya.


"Xuan..."


"Diam dan nikmati saja, suara mu membuatku semakin bergairah. Jika kamu terus bersuara, aku mungkin tidak bisa menahan nya lagi dan akan segera melahap mu di sini!" ucap Raja Wei.


"Dasar pria mesum, kenapa dia selalu bergairah tanpa melihat waktu dan tempat..." batin Se Se.


"Xuan... jangan sentuh bagian itu!"


"Arghhh..."


Tubuh Se Se bergetar kuat, Raja Wei mencium bibirnya agar suara desahan gadis itu tidak terdengar dari luar kereta.


"Tubuh mu lebih jujur dari pada ucapan mu, Permaisuri!" bisik Raja Wei sambil memasukkan salah satu jarinya ke area pribadi Se Se.


^^^BERSAMBUNG...^^^


Hai teman-teman...


Mohon dukungan nya.


Bantu Vote dan Like 👍setiap Episode.


Jangan lupa tulis komentar sebanyak-banyaknya.

__ADS_1


Terima Kasih💖


__ADS_2